TINJAU TPA : Walikota Depok, Mohammad Idris meninjau TPA Cipayung, sekaligus melaksanakan penanaman pohon dan kerja bakti, kemarin. DICKY/RADARDEPOK
yamaha-nmax

DEPOK – Butuh kerja keras dan dorongan secara rutin Pemkot Depok dalam mengajak masyarakat memilah sampah. Tercatat, dari 500 ribu kepala keluarga, baru 25 ribu kepala keluarga telah memilah sampah. Hal itu disampaikan Walikota Depok, Mohammad Idris saat melaksanakan penanaman pohon dan kerja bakti di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, kemarin.

Idris mengatakan, Pemkot Depok optimis dapat menyelesaikan tumpukan sampah yang relatif lebih banyak dari kapasitas lahan. Idris meminta dinas terkait, camat, dan lurah memberikan infromasi kepada masyarakat dalam penangan sampah TPA Cipayung guna tidak terjadi kesalah pahaman. Pemkot Depok telah mendorong masyarakat dengan melaksanakan pemilahan sampah. Dia menargetkan 30 persen per RT sudah menjalankan pemilahan sampah. “25 ribu kepala keluarga telah memilah sampah dari 500 ribu kepala keluarga,” terang Idris kepada Radar Depok, kemarin.

Idris menjelaskan, masih 475 ribu kepala keluarga yang belum memilah sampah. Dengan keniakan target 30 persen ditiap tahun, sudah menjadi peningkatan dalam pengurangan sampah yang dikirim ke TPA Cipayung. Dengan adanya pemilahan sampah yang dikirim terlebih dahulu ke UPS, produksi sampah sudah menurun dan kini pengiriman sampah mencapai 130 ton perhari sampah organik, sedangkan 700 ton perhari ke TPA Cipayung.

Dari kajian yang dilakukan, sambung Idris penggalian satu sumur dengan luas 500 meter untuk sampah dalam bentuk apapun sebelum melaksanakan pemilahakan, kekuatan sumur berkisar empat hingga lima bulan. Sedangkan dengan melakukan pemilahan sampah, sampah yang di kirim ke TPA akan berbentuk residu, sedangkan sumur berisikan residu bisa mencapai 1,2 tahun, tiga kali lipat kekuatannya dibandingkan sampah yang belum terpilah.

“Perlu adanya kesadaran masyarakat dalam mengurangi jumlah produksi sampah, gerakan memilah sampah sangat membantu dalam mengatasi permasalahan sampah,” terang Idris.

Kepala UPT TPA Cipayung, Iyay Gumelar mengatakan, produksi sampah TPA Cipayung mencapai 700 hingga 800 ton perhari dengan luas 11 hektar. Menurutnya sampah memang masih menjadi persoalan karena di Indonesia belum ada teknologi penghancur sampah. Namun, dia mengapresiasi masyarakat yang telah bergerak memilah sampah, sehingga ada penurunan pengiriman sampah ke TPA Cipayung. Bukan hanya itu saja, dia mengapresiasi gerakan penanaman pohon yang dilaksanakan BLH Kota Depok di TPA Cipayung.

“Gerakan menanam pohon, dapat mendukung program penghijauan dan peredaman polusi udara di TPA Cipayung,” ujar Iyay. (dic)