RICKY/RADARDEPOK BERSEJARAH : Ketua LPM Kelurahan Sukamaju Baru, Supriadi menunjukan Makam Raden Pakpak di RT01/07 kelurahan setempat, kemarin
yamaha-nmax
BERSEJARAH : Ketua LPM Kelurahan Sukamaju Baru, Supriadi menunjukan Makam Raden Pakpak di RT01/07 kelurahan setempat, kemarin. RICKY/RADARDEPOK

Sejarah Kelurahan Sukamaju Baru tidak lepas dari peran serta Raden Pakpak, seorang penyebar agama. Islam di Jawa Barat ini bahkan meninggalkan makam. Orang setempat menamakannya situs Keramat Petilasan Raden Pakpak dan Nyi Ratu Agung.

Laporan : RICKY JULIANSYAH

Menyusuri jalan lingkungan, entah berapa belokan telah dilewati, sampailah Radar Depok yang ditemani Ketua LPM Kelurahan Sukamaju Baru, Supriadi ke tempat petilasan Raden Pakpak. Sebuah pintu kecil, di sebelah kiri dengan pagar yang terbuat dari tembok bertengger kuat. Masuk ke dalam tiga buah batu yang didepannya ada pohon jarak.

“Dulu ada pohon Sengon, ukurannya besar, tapi lama-kelamaan mati, jadi ditanam pohon Jarak,” ucap Supriadi.

Sementara di belakangnya, terdapat pendopo permanen, cukup untuk menampung 20 hingga 30 orang yang datang ke lokasi tersebut. Berdasarkan penuturan Supriadi, dahulu luas areal petilasan Raden Pakpak sampai 100 meter, sekarang tinggal 50 meter.

Situs yang terdapat di lingkungan RT01/07 berdasarkan penuturan orang tua terdahulu, merupakan petilasan Radek Papak dan Nyi Ratu Agung, penyebar agama Islam di Sukamaju Baru. Tempat petilasan tersebut, digunakan untuk pertemuan dan musyawarah para ulama yang hidup di zaman tersebut.

Pakpak sendiri, adalah batu besar yang sejajar, saat itu dipakai mengelar sajadah untuk salat Raden Pakpak dan para ulama lainnya. Dulunya, batu-batu tersebut seukuran gerobak. Tapi, entah apa penyebabnya, lambat laun mengecil hingga ukuran yang sekarang.

“Berdasarkan informasi yang ia dapat, Raden Pakpak masih keturunan dengan kerajaan di Garut. Bahkan, Saya sempat sampai ke Garut, di sana ada makamnya juga,” ungkap Supriadi.

Di lokasi tersebut, Supriadi menjelaskan, setiap tahunnya sering diadakan acara pengajian dan tradisi sedekah bumi. Namun, seiring adanya pembangunan dan semakin banyaknya penduduk, tradisi tersebut hilang. “Sudah hilang sejak 1990, seiring dengan banyaknya pembebasan lahan,” kata Supriadi.

Bahkan, nama Sindangkarsa, kampung yang terdapat di Kelurahan Sukamaju Baru konon katanya berkaitan dengan sejarah Raden Pakpak. “Kampung ini dinamakan Sindang Karsa, Sindang artinya tempat, karsa itu mampir,” terang Supriadi.

Sayang ketika mencari informasi dari sesepuh yang tinggal di sekitar lokasi situs, sudah tidak ada. Akhirnya Ketua LPM Sukamaju Baru, mengajak Radar Depok untuk menemui Ketua RW07, Muhammad Ipung.

Di kediamannya, Ipung membenarkan apa yang disampaikan Ketua LPM Sukamaju Baru itu. Dia menambahkan, petilasan tersebut berdasarkan penuturan orang tua , dulunya memang dijadikan tempat pertemuan dan salat “Bahkan dari wilayah Pancoran Mas juga saat pertemuan datang ke sini. Karena seluruh situs di Depok, sebenarnya saling berkaitan,” kata Ipung.

Ketika digunakan untuk salat, saat mengambil wudu, mereka turun ke mata air, di wilayah yang sekarang menjadi RT04/07. Mata air tersebut tidak pernah kering sepanjang tahun. “Ratusan KK memanfaatkan airnya untuk keperluan sehari-hari,” ucap Ipung. (bersambung)