BERKUNJUNG: Para pelajar Kota Depok diajak oleh Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik ( Kesbangpol) saat berkunjung ke Museum Veteran Bogor dalam rangka Hari Bela Negara.
yamaha-nmax

 

DEPOK  –  Di Hari Bela Negara, 19 Desember, Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Depok mengajak para pelajar dari beberapa sekolah ke Museum Veteran Bogor. Kesbangpol ingin pelajar dapat mengenal sejarah negaranya.

 

Indonesia merupakan negara berkembang saat ini tengah merintis jalan menjadi negara maju. Hasil ini tentu tak lepas dari langkah panjang para pejuang membebaskan negara ini dari cengkraman penjajah.

 

Maka dari itu, bangsa ini harus bisa meneladani keberanian para pejuang untuk membuat Indonesia merdeka. Melandasi hal tersebut, pemerintah kemudian menetapkan 19 Desember sebagai Hari Bela Negara.

 

Di Hari Bela Negara lalu, Kesbangpol Kota Depok mengajak para pejalar ke Museum Veteran Bogor. Sebuah cara untuk membangkitkan patriotisme. Selain juga agar generasi muda dapat mengenal para pahlawan kemerdekaan.

 

Langkah mengajak pelajar museum juga sebagai upaya mengugah anak muda untuk bisa akrab dengan museum. Karena seperti diketahui, saat ini museum kurang mendapat minat pemuda. Padahal di dalamnya, selain menjadi objek wisata, juga mengandung nilai ilmu yang luas.

 

“Memang  saat ini museum kurang digemari, karena dinilai kurang menarik dan bukan  trend anak muda. Ini cukup beralasan, karena sejarah di sekolah sangat minim,” kata Kepala Kesbangpol Kota Depok, Dadang Wihana.

 

Sehingga, kata dia, kurang membangkitkan minat pelajar untuk mendalami sejarah bangsa ini yang pernah terjadi. “Kunjungan ke tempat seperti museum, akan menyajikan informasi sejarah untuk dapat mendalami sejarah itu sendiri,” kata Dadang.

 

Museum yang saat ini kurang diminati oleh para pelajar, membuat Dadang khawatir jika sampai generasi muda terputus dengan sejarah negaranya.

 

“Akan berdampak pada budaya yang ada. Dan mudah dipengaruhi dengan  nilai-nilai  baru yang bertentangan dengan sejarah bangsa,”  bebernya.

 

Lebih lanjutnya, Dadang mencontohkan, ada diantara remaja yang menggunakan pin atau tanda di kaos dengan lambang palu arit. Ini lantaran di dalam diri anak muda itu, tidak ada pengetahuan mendalam soal sejarah.

 

Maka dari itu, semua pihak harus memberitahukan dan informasi terhadap para penerus bangsa, guna mengetahui sejarah negaranya. Sehingga ada rasa untuk  membela tanah air.

 

“Ketidaktahuan, mereka hanya mengira itu (logo palu arit) sebagai sebuah tren. Karena dibuat cukup menarik untuk remaja. Dari ketidaktahuan dengan sejarah berakibat pada perubahan paradigma remaja dalam perjuangan bangsa, padahal ideologi negara Pancasila adalah sudah final,” ungkapnya. (irw)