KEBERSAMAAN: Anggota Kancil sedang bermain di Sungai Ciliwung tak jauh dari pos pantaunya.

 

PONDOK CINA  –  Bermula dari rasa keprihatinan terhadap kondisi Sungai Ciliwung, sejumlah warga Kelurahan Pondok Cina membentuk komunitas. Awalnya, warga Pondok Cina, Sahrizal dengan seorang warga bantaran Ciliwung prihatin dengan kondisi sungai. Sahrizal pun membuat sebuah perkumpulan bernama Komunitas Ciliwung Pondok Cina (KCPC)

 

“Cuma saya berinisiatif mengubah nama komunitas peduli Ciliwung tersebut, tercetuslah nama Kancil yang kepanjangan dari Komunitas Anak Ciliwung Pondok Cina-Depok,” jelas Sahrizal.

 

Kini, Sahrizal pun menjabat sebagai Pembina Kancil. Dikatakannya, kala itu sejak berdiri Kancil pada 12 Juli 2015, dirinya sempat berdiskusi dengan Susanto yang akrab disapa Kacuy yang sekarang menjadi Ketua Kancil. Diskusinya untuk membuat kesepakatan mengadakan pertemuan dua pekan sekali atau sebulan dua kali. “Itu sebagai sarana mempererat silaturahmi,” jelasnya.

 

Dirinya pun bersyukur hingga sekarang, Kancil tetap berjalan dan eksis sebagai komunitas yang peduli terhadap Sungai Ciliwung. Ia mengungkapkan, harapan dari komunitas ini hanya sederhana, yaitu menginginkan masyarakat terus meningkatkan rasa kepedulian terhadap keberlangsungan Sungai Ciliwung di Kota Depok.

 

“Dari sanalah kami mulai membuat Pos Pantau Kancil, yakni di Jalan HM. Thohir, RT 04/01, Kelurahan Pondok Cina. Kemudian, melestarikan alam sekitar dengan penanaman pohon di DAS Ciliwung, memungut sampah yang ada di Ciliwung dan aktivitas kepedulian lainnya,” terangnya.

 

Ia menambahkan, tradisi liwetan dan memancing ikan menggunakan tangan juga menjadi ciri khas dari Kancil. Hal tersebut menjadi tradisi tersendiri bagi seluruh anggota Kancil.

 

“Keakraban kami bangun dengan makan ngeliwet bareng-bareng pakai daun pisang, ikannya kami tangkap dari Sungai Ciliwung menggunakan tangan kosong,” tandasnya. (ret)