yamaha-nmax

Jawapos.com

JANGAN DITIRU : Salah satu korban perampokan yang disertai pembunuhan di Pulomas, Jakarta Timur dilarikan ke rumah sakit guna dilakukan autopsi, kemarin.

 

JAKARTA – Enam orang ditemukan tewas di sebuah rumah di Jalan Pulomas Utara Nomor 7A, Pulogadung, Jakarta Timur, Selasa (27/12). Mereka diduga satu keluarga yang menjadi korban perampokan. Parahnya, Dodi Triono salah satu korban perampokan sadis tersebut dikenal dekat dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi).

Selain Dodi Triono, lima korban tewas lainnya adalah Diona Arika Andra, Dianita Gemma Dzalfayla, Amel, teman anak korban : Yanto dan Tasrok seorang sopir korban. Diduga keenam korban itu tewas akibat kehabisan oksigen untuk bernapas. Sebab, saat ditemukan, korban ditempatkan di satu kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan kepolisian hingga saat ini masih melakukan olah tempat kejadian perkara perampokan dan pembunuhan di Jalan Pulomas Utara Nomor 7A, Kayuputih, Pulogadung, Jakarta Timur, yang menewaskan enam orang. Motif pelaku, menurut Argo, juga belum bisa diketahui.

“Saya belum tahu jelas motifnya,” kata Argo.

Terpisah, Ketua RW 16 Kayuputih, Pulogadung, Jakarta Timur, Gani menjelaskan, korban yang berprofesi sebagai arsitektur ini memiliki kedekatan dengan Presiden Joko Widodo saat awal-awal menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

“Pak Jokowi baru jadi gubernur satu bulan saja langsung makan malam sama pak Dodi, sama saya bareng,” ujar Gani di lokasi, Selasa (27/12).

“Dia dapat ucapan dari Jokowi, mas apa yang bisa saya bantu. Diundang makan itu dulu sama pak Dodi. Berarti punya kedekatan kan ya. Saya yakin punya kedekatan,” sambung Gani.

Selain berprofesi sebagai aristektur, korban juga merupakan Ketua RT 12/16 Kelurahan Kayuputih, Pulogadung, Jakarta Timur. Gani tak tahu pasti mengenai pekerjaan Dodi. Dodi diketahui jarang berada di rumah. Dia sering berada di luar negeri. Dia hanya ketemu dengan Dodi sepekan sekali, yaitu hari Sabtu.

“Ya mungkin pengusaha, arsitek mungkin ya. Pak Wali Kota juga hadir. Saya ketemu pak Dodi cuma hari Sabtu. Sehari-hari keluar negeri. Ke Jepang, ke Hongkong,” kata dia.

Sementara lima korban yang masih hidup adalah Emi, Zanette Kalila, Santu, dan dua asisten rumah tangga bernama Fitriani dan Windy. Salah satu korban selamat, Zanette Kalila Azaria alias Anet (13), menceritakan kepanikan dan kengerian ketika disekap oleh kelompok perampok di rumahnya. Anet sempat benamkan ke dalam bak kamar mandi oleh pelaku. Anet adalah anak dari  Dodi Triono (pemilik korban yang tewas), hasil pernikahannya dengan istri keduanya, Almyanda Saphira.

Hal itu diungkapkan oleh Komisioner KPAI, Erlinda usai membesuk Anet di RS Kartika Pulomas, Pulogadung, Jakarta Timur. Erlinda mengatakan, dari keterangan Anet, sebelum akhirnya dia disekap di dalam kamar mandi bersama 10 korban lainnya, dia dibenamkan di dalam bathtub oleh pelaku.

Erlinda mengatakan, awalnya tidak bisa mewawancara Anet karena kondisinya masih trauma. Tetapi, Anet mau bercerita setelah Rafi, seorang desainer teman Anet menemuinya.

“Dia tadi dengan rasa berbinar-binar didatangi sahabatnya, ananda (Anet) cuma bilang dia dibawa ke ruangan berbeda dengan orang dewasa, di situ ada bathtub, ada air dan direndam di situ,” jelas Erlinda.

Setelah direndam di bathtub, Anet kemudian dimasukkan ke dalam kamar mandi ukuran sekitar 1,5 meter persegi. Pelaku meninggalkan para korban di dalam kamar mandi dalam keadaan lampu dimatikan, sehingga exhaust tidak bisa menyala.

“Lampunya dimatikan, exhaustnya tidak menyala. Bayangkan sebelas orang ditumpuk seperti di kaleng sarden,” imbuhnya.

Erlinda melanjutkan, kondisi Anet saat ini masih dirawat di ruang perawatan. Secara psikologis, menurut Erlinda, Anet cukup tegar.

“Ternyata tanpa diduga ananda itu tidak kita minta dia cerita sendiri, saya tidak menanyakan apapun, tapi dia (kepada) cerita temannya Rafi desainer hebat, saat Rafi tanya dia cerita semuanya,” tandas Erlinda. (JPG/hmi))