ILUSTRASI
yamaha-nmax

 

Meski hanya lulusan SD, Hariyanto (34) warga Dusun Bulakkunci, Desa Nogosari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto justru mampu berkreasi. Ia menciptakan karya yang orisinal yakni lampu listrik pintar tanpa saklar dan bisa hidup ketika dipicu nyala korek api.

 

Kepada wartawan, Hari (panggilan akrab, red), menunjukkan satu lampu pintar yang diletakan di atas meja tamu. Dari tampilan luar, lampu pintar ini tak jauh beda dengan lampu tempel atau oblik yang dipakai masyarakat pedesaan. Tampilan luar lampu adalah dari kayu jati muda tanpa saklar.

 

Yang membedakan adalah pada bagian bawah ada lampu indikator dan kabel listrik. Sedangkan lampu yang digunakan adalah lampu pijar. Menurutnya, ia sengaja membuat lampu oblik tapi dengan memakai elektronik. Cara menyalahkannya pun tidak dengan sakral tapi dengan korek api.

 

“Cara menghidupkannya yakni setelah kabel dicolokkan, kita nyalakan korek gas dan api dari korek gas itu didekatkan ke lampu maka lampu akan menyala. Jika kita ingin memadamkannya, cukup dengan meniupnya seperti lampu oblik pada umumnya,” ungkapnya, Selasa (20/12).

 

Hari menjelaskan, di dalam lampu tersebut, ia membuat rangkaian elektronik, termasuk ada sensor nyala api, udara dan suara. Anak kedua dari dua bersaudara tersebut menuturkan, lampu yang ia beri nama lampu pintar tersebut diciptakan karena keahlian di bidang elektronika.

 

“Saya mengerti tentang elektronik dari bapak saya yang bekerja sebagai tukang las. Saya dikenalkan dengan alat-alat elektronik dan membuat rangkaian sejak kecil sehingga saya paham bagaimana membuat rangkaian elektronik. Tapi karena tidak ada modal jadi saya tidak bisa mengembangkannya,” ujarnya.

 

Hadi menuturkan, ia hanya bekerja sebagai buruh di pabrik peraga pendidikan sekolah dengan gaji kecil. Untuk menambah penghasilan, ia pun berjualan sabun cair keliling dengan penghasilan tambahan antara Rp100 ribu sampai Rp200 ribu per hari. Dengan keadaaan tersebut, iapun berhasil menciptakan lampu pintar.

 

“Saya berfikir untuk membuat alat yang unik dan bisa dijual mahal dan ide saya tertuju pada lampu oblik yang ada di rumah. Setelah mengutak atik rangkaian elektronik dan membuat casing (tampilan) mirip bentuk lampu oblik, dia menemukan keunikan lampu itu, yakni dengan mendekatkan nyala api korek pada lampu agar menyala,” jelasnya.

 

Dia mengaku butuh waktu lebih dari setahun untuk menyempurnakan lampu pintar ini. Saat awal menciptakan lampu pintar tersebut pada 2012, ia hanya mampu membuat tiga buah lampu pintar. Bahkan, Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa tertarik dengan karya Hari tersebut.

 

“Saya memberikan dua buah lampu pintar kepada Pak Bupati, sekarang hanya satu unit lampu pintar ini yang saya hargai Rp 575 ribu. Meski tak ada modal untuk mengembangkan namun saya tetap berusaha mencari modal agar usaha lampu pintar ini bisa berjalan,” tegasnya.

 

Ayahnya, Ali Sudirman mengaku, selalu menekankan jika ingin serius maka harus berusaha dan belajar keras dan tak kalah dengan yang sudah sarjana.

 

“Ini mungkin yang membuatnya ia bisa menciptakan lampu unik ini. Dengan ilmu yang dimiliki, ditambah modal dan ilmu pemasaran, tentu lampu pintar ini akan makin dikenal,” harapnya. (gun/net)