yamaha-nmax

MENGENANG : Prof MP Lambut menunjukkan fotonya bersama Raden Roro Franzisca Moeprspti.

Foto: Syarafuddin/Radar Banjarmasin

 

Diminta Menceritakan Sejarah Kedekatan Kampung Arab dan Kampung Kristen

Dipanggil ke Martapura, Banjarmasin, Sulsel, pada Mei 2006. Di situ ia bertemu Gus Dur dan Abah Guru Sekumpul. Itulah momen paling menggetarkan selama hidupnya.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

Namanya sudah cukup tenar di kalangan akademisi. Prof Melkiannus Paul Lambut.

Melkiannus nama baptis, sedangkan Lambut nama marga Suku Dayak Kapuas. Ia pembina Gereja Eben Ezer di Jalan S Parman, tapi lebih dikenal sebagai Guru Besar FKIP Universitas Lambung Mangkurat.

Berumur 85 tahun, tubuh Paul masih bugar, bicaranya lancar dan ingatannya segar. Ia masih aktif mengajar filsafat dan sastra.

“Generasi saya sudah habis. Saya ditinggal sendirian. Kawan-kawan pergi duluan,” ujarnya, Senin (19/12) di rumahnya di Jalan Cendrawasih.

Wawancara berjalan santai di ruang tamu, dekat pohon Natal. Lahir di Kuala Kapuas Kalimantan Tengah, Paul pindah ke Banjarmasin sebelum Perang Dunia II pecah. Kuliah ke Universitas Gajah Mada Yogyakarta, lalu ‘dipaksa’ pulang ke Banua.

“Pak gubernur menyuruh saya pulang, katanya Unlam sedang kekurangan dosen,” kisahnya.

Mulai mengajar di Unlam sejak 1965, saat kampus masih bertempat di Komplek Mulawarman. Tahun 1994 ia diangkat menjadi guru besar. Gubernur Muhammad Said secara khusus membuatkan pesta untuknya.

Sebagai tokoh gereja, Paul merasa dekat dengan umat Islam. Bahkan, saat ditanya siapa tokoh Kalsel yang paling ia kenang, tak disangka Paul menyebut nama Guru Ijai alias Muhammad Zaini Abdul Ghani.

Satu dekade yang lewat, Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur berziarah ke makam Syekh Muhammad Arsyad Albanjari alias Datu Kelampayan.

Selepas itu, presiden bersilaturahmi ke Sekumpul. Gus Dur membawakan hadiah untuk Guru Ijai berupa satu pak rokok bermerek Istana Presiden. Paul diundang hadir.

Mengenakan topi pet, kacamata besar dan jas warna abu-abu yang kedodoran. “Badan saya mengkerut, rasanya kecil sekali. Siapalah saya sampai bisa berhadapan dengan Guru Ijai,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Di depan banyak orang, Paul diminta menceritakan sejarah kedekatan antara Kampung Arab di Pasar Lama dan Kampung Kristen di Jalan S Parman.

Menurutnya, kerukunan kedua kampung ini tak ada duanya. “Dulu sering main ke Kampung Arab, mereka biasa memanggil saya U’ul,” kisahnya.

Paul juga nyambi mengajar di Universitas Islam Kalimantan (Uniska). Tahun 1985, ia diminta menyelamatkan 23 mahasiswa yang terancam DO (Drop Out) lantaran skripsi yang tak kunjung rampung.

Paul harus bergerak cepat karena fakultas hanya memberi waktu enam bulan. Misi penyelamatan berakhir sukses.

Tak lama, salah satu mahasiswa datang ke rumah dan menjemput istrinya, Raden Roro Franzisca Moeprspti.

Franzisca diajak jalan-jalan ke pasar dan melihat-lihat kayu lapis kesukaannya. “Besoknya datang kejutan, dua truk penuh kayu lapis dan enam tukang,” tukasnya menggeleng-gelengkan kepala.

Biaya rehab rumah yang dibangun tahun 1964 itu semuanya ditanggung mahasiswa. Paul memang sudah lama ingin memperbaiki rumah tuanya.

“26 Desember 1985, 23 mahasiswa muslim itu kemari merayakan Natal di rumah yang kembali tampil baru,” kenangnya.

Ia mewanti-wanti generasi muda Banjar. Orang Banjar tidak pernah bermasalah dengan perbedaan agama.

“Orang Banjar memang fanatik soal agama, tapi mustahil membakar gereja!” tegasnya. Berkali-kali selama wawancara ia menyebut Banjarmasin yang manis.

Lantas, bagaimana kota ini di matanya sekarang? Paul pun meringis. Banyak hal baik dari Banjarmasin yang hilang digerus zaman.

Ia menyebut nama-nama saudagar dan dermawan asli Banjar tempo dulu. Setelah mereka almarhum, tak ada penggantinya, orang Banjar kian terpinggirkan.

“Kecil di perantauan tidak aneh. Tapi kecil di kampung kelahiran rasanya menyedihkan,” tukasnya.

Mengenai Islam, ia terkagum-kagum dengan ajaran surga di bawah telapak kaki ibu. ‚ÄúPadahal Islam lahir di zaman jahiliyah yang sangat merendahkan perempuan. Luar biasa,” akunya.

Salah seorang mahasiswa Paul adalah Helman Ari Gellyrian, penyiar radio swasta. Selama kuliah di Uniska, Helman menyebut Paul tak pernah canggung atau berjarak meski mengajar di kampus Islam.

“Ciri khasnya kemana-mana pakai topi pet. Mahasiswa rasa-rasanya tidak percaya beliau itu tokoh Kristen,” ujarnya.

Pengakuan juga datang dari Kesultanan Banjar. Paul dianugerahi gelar Datu Cendekia Hikmadiraja pada tahun 2011.

Atas jasa mencerahkan pikiran masyarakat, keraton dan kebudayaan Banjar. Piagam itu ia pajang di samping foto keluarganya. (fud)