Oleh: Drs Supartono, M.Pd.

(Pengamat Pendidikan, Bahasa, dan Sastra)

 

Sungguh, kini medsos menjadi lebih berbahaya dibandingkan dengan bahaya laten narkoba. Medsos selalu siap menelan korban siapa saja meski hanya di dunia maya.

(Supartono JW.27122016)

Mengapa dalam pelajaran bahasa Indonesia di kelas-kelas SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi, murid dan mahasiswa masih terus diberikan materi tentang fakta dan opini? Jawabnya tentu, karena baik di sekolah maupun perguruan tinggi, murid dan mahasiswa akan mendapatkan tugas akhir sesuai kurikulum, misalnya di SD masih sebatas tugas berbentuk refleksi yang sudah mengarah ke dalam pemikiran ilmiah.

Berikutnya, di SMP tugas akhir berupa karya tulis. Selanjutnya di SMP sudah mulai menyusun karya ilmiah, dan di Perguruan Tinggi sudah mengerjakan skripsi, tesis, hingga disertasi. Dalam karya  tersebut, karena bersifat ilmiah, maka pemahaman tentang apa itu fakta dan apa itu opini, harus sudah mengakar dan mendarah daging dalam pemikiran murid dan mahasiswa. Berbicara ilmiah, maka sebenarnya kita sedang membicarakan fakta, bukan opini.

Opini di medsos meresahkan

Lalu apa sebenarnya yang menjadi pokok persoalan berkaitan dengan fakta dan opini dalam kehidupan sehari-hari? Adanya media sosial, penggunaan opini sekarang hampir setiap detik. Bahkan opini yang tidak disertai dengan fakta dan bukti. Jadi opini yang bisa disebut mentah dan meresahkan.

Berapa banyak masyarakat di Indonesia yang terpelajar dan memahami betul apa itu fakta dan opini? Tetapi, kita tidak perlu membahas masalah terpelajar atau tidak terpelajar dulu. Coba kita perhatikan apa yang dikhawatirkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) terdahulu, Bapak Anies Baswedan tentang budaya membaca orang Indonesia, di Gedung Istora, Senayan, Jumat(27/2) pada acara pembukaan pameran Islamic Book Fair (IBF). Budaya membaca orang  Indonesia sampai saat ini masih sulit diterapkan. Beliau mengatakan budaya membaca buku sampai saat ini masih rendah.

Berdasarkan data UNESCO, prosentase minat baca Indonesia sebesar 0,01 prosen. Hal Ini menunjukkan fakta dari 10.000 orang hanya satu saja yang memiliki minat baca. Sangat ironis. Bagaimana mungkin, pengetahuan tentang fakta dan opini mengakar kuat di benak setiap masyarakat Indonesia bila demikian? Peningkatan kemampuan membaca penting karena akan sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat dalam keseharian.

Sekarang, dengan carut marutnya berbagai persoalan yang mengemuka di Indonesia, dengan kondisi masyarakat yang jauh dari gemar membaca hingga tidak terpelajar, maka segala bentuk tayangan di televisi, pemberitaan di televisi, pemberitaan di media cetak, dan pemberitaan di media on line, sangat mudah memengaruhi pola pikir masayarakat, dengan kata lain, media sosial (medsos) kini sangat berperan dalam pengaruhnya terhadap karakter berpikir anak bangsa.

Akibatnya Seabreg persoalan bangsa yang dipicu oleh semrawutnya isu yang baru bertaraf opini hampir setiap detik beredar di medsos, juga dalam tayangan dan pemberitaan televisi. Isu yang baru sebatas opini, karena begitu derasnya mengalir setiap detik di media sosial, akhirnya rentan sekali akibatkan adanya kerusuhan, perpecahan, kebencian yang dapat membahayakan disintegrasi dan intoleransi. Masyarakat dengan mudahnya menjadi korban dari opini di medsos, padahal ini bisa jadi hanyalah permainan elit politik.

Medsos kendaraan siapa?

Medsos kini menjadi kendaraan yang sangat murah untuk menyeberakan isu negatif dengan opini-opini yang meyakinkan di masyarakat Indonesia. Sementara kita pahami, masyarakat Indonesia yang kurang terpelajar masih jauh lebih banyak ketimbang masyarakat terpelajar. Hasilnya,  isu, tayangan dan pemberitaan yang terkadang masih bersifat opini perorangan, opini publik, mudah sekali di mamah dan dipahami mentah-mentah oleh masyarakat, bahwa seolah tayangan dan pemberitaan itu benar dan fakta. Padahal, tayangan dan pemberitaan itu masih sekedar opini, masih jauh dari kenyataan, dan biasanya masih dalam taraf praduga.

Medsos benar-benar telah menjadi sarana yang dapat digunakan masyarakat untuk berperang terbuka. Bahkan anak-anak kita yang santun di dunia nyata, di medsos mereka berani berargumentasi dengan opininya hingga berkata kasar dan tidak beretika. Keluarga yang tadinya rukun, hanya karena salah paham di medsos, akhirnya saling terluka. Pertemanan yang sangat baik, pecah karena saling bentur opini di medsos. Persahabatan di grup facebook, wasup, bbm, line, dan sebagainya, bubar gara-gara perdebatan dengan opini masing-masing yang berujung pada keluar grup alias putus persahabatan.

Aksi 212, aksi 412, menyoal foto dalam uang baru, teroris, hingga perdebatan UN-USBN, semuanya kisruh gara-gara media sosial. Tidak ada yang dapat mencegah kehadiran media sosial dari hasil kemajuan zaman untuk dapat menghindarkan masyarakat kita tidak aktif di dalamnya. Sayangnya, pengguna media sosial tidak mengenal kasta. Sehingga, seringkali, perdebatan opini tentang suatu hal seringkali menjadi buntu dan sengit karena ketidak berimbangan dari segi kasta.

Yang saya maksud kasta di sini adalah semua masyarakat dari yang elit dan terdidik, ada juga yang elit tidak terdidik, masyarakat awam tak terpelajar, masyarakat awam terpelajar, tokoh masyarakat, tokoh pemerintahan, semuanya dapat bercampur dan berbaur dalam sebuah percakapan di medsos dan saling serang argumentasi. Ironisnya, perdebatan yang tidak seimbang dari segi pola berpikir yang hamper setiap detik terjadi, juga disaksikan dengan terbuka dan gratis oleh masyarakat awam dari anak-anak hingga dewasa.

Sungguh, kini medsos menjadi lebih berbahaya dibandingkan dengan bahaya laten narkoba. Medsos selalu siap menelan korban siapa saja meski hanya di dunia maya.

Peran media membendung opini negatif

Dengan kondisi masyarakat yang masih jauh dari harapan dalam pola berpikir, media cetak, media on line, dan televisi harus cerdas dalam menata materi penayangan dan pemberitaan yang akan ditampilkan ke hadapan publik. Tidak dipungkiri, media membutuhkan omset atau pemasukan besar atas berita-berita yang sedang hangat dan aktual serta layak jual demi keuntungan pribadi dan perusahaan, namun akan lebih arif dan bijaksana, bila media juga memerhatikan kondisi pola pikir masyarakat Indonesia yang masih jauh dari terpelajar, memiliki sikap ilmiah dan intelektual, dan lebih sering gemar beropini.

Bila hal tersebut dilakukan, maka media pun akan jauh dari merugi tetapi setidaknya media telah menjadi bagian penyelamat disintegrasi bangsa, sikap intoleransi di masyarakat hingga pejabat karena kecerdasan tatanan materi penayangan dan pemberitaan yang mendidik terlebih menghibur.

Akan lebih bijak bila beberapa media di Indonesia yang kini lebih fokus memberitakan tanpa memerhatikan khalayak penikmat beritanya yang masih jauh dari pola pikir intelek, akan kembali bersikap arif dalam upaya penayangan dan penyiaran berita saat kondisi bangsa sedang diterpa berbagai cobaan dengan tetap memerhatikan fungsi-fungsi dasar media, seperti:

Adanya pengawasan, fungsi ini memberi informasi dan menyediakan berita untuk memperingatkan kita akan bahaya yang mungkin terjadi, semisal bencana alam dan lainnya. Berikutnya fungsi korelasi, yaitu fungsi seleksi dan interpretasi informasi tentang lingkungan. Media kerap memasukkan kritik dan cara bagaimana seseorang harus bereaksi terhadap kejadian tertentu.

Karena itu korelasi merupakan bagian media yang berisi editorial dan propaganda. Fungsi ini bertujuan untuk menjalankan norma sosial dan menjaga konsensus dengan mengekspose penyimpangan, memberikan status dengan cara menyoroti individu terpilih dan dapat berfungsi untuk mengawasi pemerintah.

Selanjutnya fungsi penyampaian warisan sosial, ini merupakan fungsi media untuk menyampaikan informasi, nilai dan norma dari satu generasi ke generasi berikutnya atau dari anggota  masyarakat ke kaum pendatang. Cara ini, bertujuan meningkatkan kesatuan masyarakat dengan memperluas dasar pengalaman umum mereka.

Terakhir, fungsi hiburan (Entertainment,) sebagian besar isi media adalah hiburan. Maksudnya adalah memberi waktu istirahat dari masalah yang dihadapi tiap hari dan mengisi waktu luang. Semoga media akan terus sesuai fungsi dan peranannya. Masyarakat semakin cerdas menyikapi penayangan dan berita yang masih bersifat opini.

Andai fungsi media telah kembali pada kitahnya pun, masyarakat kita memang kini lebih dekat dengan gatget dan medsos. Namun, setidaknya, penayangan dan  pemberitaan yang di media cetak, online  atau televisi yang berimbang, dekat fakta dan jauh dari opini, minimal akan mengurangi perang opini di dunia maya melalui medsos.

Di luar dari peranan media cetak, online, dan televisi, orang tua di rumah juga dapat menjadi benteng pertahanan pertama untuk menghindarkan anak-anak bergumul dengan medsos yang penuh carut marut dan opini yang tidak berimbang. Sayangnya, justru orangtua juga yang malah mendidik anak-anak untuk terampil dengan medsos, karena orangtua juga menjadi aktor dan aktris yang tanpa mereka sadari menjadi anutan dan teladan karena bermedsos ria di depan anak-anaknya.

Dan akhirnya, lewat tulisan ini, khususnya bagi masyarakat yang mengerti akan bahaya penggunaan medsos yang penuh dengan opini, dapat memfilter sendiri, dapat menyaring sendiri, mana bermedsos dengan opini yang sesuai kebutuhan, dan mana bermedsos yang menyesatkan dan menimbulkan kekacauan.

Jelang tutup tahun 2016, apa yang dapat kita lakukan dengan medsos ini? Namun setidaknya kita dapat memulai dari diri sendiri.

Jelang lewati batas pergantian, apa torehan yang ditinggalkan? Saat langkahi batas ke depan sudahkah tetapkan impian dan tujuan demi perubahan? (Supartono JW.24122016)

Semoga kita menjadi orang pertama yang meminimalisir awal mula pertikaian dalam opini di medsos, dengan tetap mengedepankan kelembutan, persahabatan. Setidaknya, dengan sikap dan berpikir ilmiah kita, kita senantiasa menyadari dan turut menyadarkan adanya keragamanan dan kebinekaan yang menyatukan. Sehingga opini di medsos menjadi teman, sahabat, yang membuat kita nyaman dan bangsa aman dan tenang. Amin. (*)