Naura sudah menderita Atresia Billier sejak lahir.
yamaha-nmax

DEPOK  –  Naura Aulia Putri Wibowo, bayi berusia sembilan bulan harus berjuang melawan penyakit yang diditeritanya. Putri dari pasangan Catur Setyo Wibowo dengan Fitrianti ini, divonis sakit Atresia Billier dan gizi buruk sejak lahir.

Biaya yang mahal membuat kedua pasangan yang tinggal di Kelurahan Rangkapanjaya Baru, Kecamatan Pancoranmas ini linglung mengobati anak keduanya tersebut.

Perlu diketahui, Atresia Billier adalah suatu keadaan dimana saluran yang membawa cairan empedu dari hati ke kandung empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal. Hal itu bisa menyebabkan kerusakan hati dan sirosis hati, yang jika tidak diobati dapat berakibat fatal.

Ibu Naura, Fitrianti mengatakan, Naura sudah menderita Atresia Billier sejak lahir. Namun, dia baru mengetahui kondisi Naura pada usia empat bulan. Melihat kondisi Naura, berbagai upaya telah dia jalankan demi kesembuhan adik dari Rafid Maulana Rifiki Wibowo.

“Naura di diagnosa menderita Atresia Billier dan mengalami gizi buruk, dan kami sudah berupaya maksimal untuk kesembuhan Naura,” ujar Fitrianti kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Fitrianti menjelaskan, Naura tengah menjalankan rawat jalan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Menurutnya, untuk penyakit Naura hanya dapat ditangani di RSCM, guna kesembuhannya Naura harus menjalani transpalansi hati, karena penyerapan cairan ditubuh Naura mengalami gangguan.

Fitrianti mengungkapkan, guna melakukan transpalansi hati dibutuhkan biaya besar sekitar Rp1,2 Miliar, sedangkan untuk pengobatan Naura menggunakan jaminan BPJS. Namun, untuk transpalansi hati, BPJS tidak dapat menanggung biaya guna kesembuhan Naura. Dari informasi yang dia dapat, BPJS hanya menanggung pengobatan sebesar Rp250 juta, sedangkan transpalansi hati sebesar Rp1,2 Miliar.

“Kami harus mencari dana untuk transpalansi hati Naura, sedangkan untuk transpalansi berat tubuh naura harus dalam kondisi normal,” terang Fitrianti.

Fitrianti menurutkan, kondisi tubuh Naura masih dalam pembengkakan. Sebelum dilakukan perawatan, lingkar perut naura sebesar 80 cm sedangkan setelah dilakukan perawatan lingkar perut Naura menjadi 48 cm. Sedangkan untuk menjalani transpalansi, lingkar lengan Naura harus 12 cm sedangkan saat ini lingkar lengan Naura 9 cm.

”Untuk peningkatan berat Naura, kami harus memberikan susu khusus guna Naura dapat menjalankan transpalansi hati. Saya dan suami hanya bekerja sebagai karyawan swasta,” ucap Fitrianti.

Fitrianti berharap, Pemerintah Kota Depok dapat membantu guna kesembuhan Naura menjalankan transpalansi hati. Sedangkan guna kesembuhan memerlukan biaya yang tidak sedikit, sehingga butuh uluran tangan Pemerintah Kota Depok dan warga Depok demi kesembuhan Naura.

Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Qonita Lutfiyah menuturkan, menyikapi kasus penyakit yang diderita Naura Pemerintah Kota Depok berkewajiban membantu proses penyembuhan Naura.

Apabila Pemkot Depok memiliki pagu anggaran untuk kasus bersifat urgent, Pemkot dapat menggunakan dana tersebut guna kesembuhan Naura. Namun, apabila tidak memiliki Pemkot Depok dapat mencarikan solusi yang terbaik guna kesembuhan Naura.

“Selain itu, guna membantu kesembuhan Naura, kelompok atau aktifis peduli kesehatan dapat menggerakaknya dengan penggalangan dana,” ujar Qonita. (dic)