yamaha-nmax

 

DEPOK Tak butuh waktu lama. Polisi akhirnya bisa mengungkap kasus pembunuhan sadis yang menewaskan enam orang di bilangan Pulomas, Jakarta Timur. Dua pelaku berhasil dibekuk, yakni Ramlan Butarbutar dan Erwin Situmorang. Mereka digerebek di tempat persembunyian, di kawasan Bekasi.

Salah seorang pelaku, Ramlan, akhirnya menghembuskan nafas terakhir usai menerima dua kali timah panas di bagian pahanya. Dia tewas lantaran kehabisan darah. Langkah tegas terpaksa diambil, sebab kala mau ditangkap, Ramlan mencoba melawan dengan senjata tajam.

Dari nama-nama pelaku ini, diketahui jika mereka komplotan pelaku perampokan spesialis rumah mewah, dengan Ramlan sebagai ketuanya. Diketahui pula, Ramlan cs pernah dibekuk Satuan Reskrim Polresta Depok pada Agustus 2015, usai sebelumnya merampok dan menyekap satu keluarga keturunan Korea di Perumahan Griya Telaga Permai, RT02/19, Kelurahan Cilangkap, Tapos, Selasa (11/8).

“Ya benar, dia pelakunya. Kami gabungan Polda dan Jaktim sama Depok. Posko (tim gabungan) di Depok. Saya termasuk ke dalam tim. Pak Kapolres (Kapolresta Depok) juga termasuk,” kata Kasat Reskrim Polresta Depok, Kompol Teguh Nugroho kepada Radar Depok, tadi malam.

Merujuk data Radar Depok, peristiwa perampokan di Cilangkap, terjadi sekitar pukul 15:00. Kondisi saat itu memang sedang sepi. Di dalam rumah, terdapat enam orang, masing-masing Wang Sulin (65, pemilik rumah), Lili Natalia (istri Wang Suling), dan anak mereka Kevin (12).

Adapun Kevin, saat itu sedang melakukan bimbingan belajar (bimbel) bersama dua orang temannya, Greysia Geovani (11) dan Brenda Lee (8). Mereka sedang belajar mata pelajaran IPS, dengan dibimbing oleh Supatni, sang guru.

Mereka belajar di ruang tamu lantai dua. Sementara kedua orang tua Kevin, beraktifitas santai di lantai dasar. Ketika itu, pagar rumah dan pintu utama tidak dalam kondisi dikunci. Hanya ditutup saja. Hal inilah yang kemudian memudahkan kawanan perampok ini dalam melancarkan misi jahatnya. Sebab, dengan mudahnya mereka masuk dan mengagetkan seluruh penghuninya. Bermodal senjata ditangan, mereka tanpa kesulitan melumpuhkan para korbannya.

Mereka (korban) kemudian dikumpulkan menjadi satu di dalam kamar -di lantai dua- dengan diikat tali rafia warna biru.

“Sebelum itu, kepala saya disuruh menunduk, dengan pisau yang ditempelkan ke bagian tengkuk kepala saya. Saat perampok itu masuk, tak ada yang mendengar. Tiba-tiba saja sudah ada di dalam,” kata Supatni.

Dari ingatannya, dari empat pelaku, hanya dua orang yang memegang pistol. Sisanya memakai pisau.

“Mereka itu menondong pistol. Sehingga anak-anak sangat takut dibuatnya. Mereka berteriak keras kepada kami untuk tidak berteriak minta tolong,” tuturnya.

Setelah seluruh korban diikat, pelaku dengan gampangnya mengacak-acak isi rumah korban. Puas mengambil barang jarahan, mereka lantas melarikan diri. Para pelaku berhasil menggasak perhiasan emas berupa gelang emas seberat 20 gram, dua kalung 11 gram, dan cincin 11 gram. Total kerugian ditaksir mencapai Rp10 juta.

Salah seorang korban yang masih dibawah umur, Greysia mengaku sangat takut ketika itu. Dia khawatir jika pistol yang ditodongkan para pelaku memuntahkan pelor panas. “Saya takut sekali pak. Takut diapa-apain sama perampok itu,” tuturnya polos.

Beberapa hari berselang, komplotan Ramlan cs berhasil dibekuk. Sebetulnya, anggota kawanan ini berjumlah lima orang. Namun sementara ini, baru tertangkap empat orang. Bersama Ramlan, pelaku lain yang ditangkap, yakni PS (50), JS (45), serta D alias B (31). Nah yang saat itu masih dalam perburuan ialah Ar (32).

Dalam menjalankan aksinya, kawanan ini selalu mengincar rumah mewah, terlebih kepunyaan warga Tionghoa. Modusnya sederhana. Mereka masuk dengan berpura-pura sebagi tamu, lalu dengan perlengkapan senjata api (senpi) yang dimiliki, mereka mampu melumpuhkan para korbannya.

Barang yang biasanya diembat pelaku adalah uang, perhiasan, ponsel, serta barang elektronik dengan ukurannya kecil. Alasannya agar mudah untuk dibawa.

Teguh menuturkan, dari tangan pelaku polisi berhasil menyita sejumlah barang bukti, seperti sebuah mobil Toyota Avanza bernopol B 1332 SYG warna silver, sepucuk senpi mainan jenis airsoft gun warna hitam, dua buah golok, dua buah linggis, dua buah arit, dua obeng besar, tali rafia warna biru, tiga buah plat nomor mobil B 1332 SYG dan F 1458 LN, dan sebuah tas warna hitam merk Kailideng.

Kawanan ini diketahui sudah melancarkan aksi sejak kurun 2014. Sebelum beraksi di kediaman Whan Shu Lin, ada lima lokasi yang pernah disasar mereka. Yakni toko material di Cimanggis (2015) dengan barang yang diambil adalah emas dan uang. Kemudian toko grosir di bilangan Gas Alam, Cimanggis dengan barang yang disikat adalah uang.

Di lokasi ketiga, kawanan ini pernah menggarong rumh milik artis Farouq Avero di Sawangan (2014) dengan mampu membawa kabur brankas berisi perhiasan. Lalu di Bogor, mereka melancarkan aksi di belakang Terminal Barangsiang, serta dua TKP di Cikarang, Bekasi. (jun)