yamaha-nmax

DEPOK – Pengamat terorisme, Al Chaidar menyebutkan, jaringan kelompok radikal Mujahidin Indonesia Barat (MIB) di bawah pimpinan Bahrun Naim mempersiapkan 600 “pengantin” untuk melakukan aksi teror di pinggiran Jakarta.

Menurut dia, 200 orang yang siap melakukan aksi bom bunuh diri bermukim atau tinggal di sembilan titik wilayah Kota Depok, Jawa Barat.

“Sebanyak 40 persen dari jaringan MIB adanya di Jabodetabek. Paling banyak ada di Bekasi, kedua Depok, dan ketiga baru Tangerang,” ungkap Al Chaidar di Universitas Indonesia.

Al Chaidar mengatakan, sasaran para “pengantin” jaringan tersebut ialah gedung-gedung simbol-simbol negara seperti kantor polisi dan kantor pemerintahan.

“Tahun ini mal sangat kecil kemungkinannya jadi target jaringan tersebut, karena sudah dibahas oleh Bahrun Naim (pemimpin MIB) sendiri itu kurang menjadi target,” ucap Al Chaidar.

Al Chaidar menambahkan, selain itu di daerah-daerah tertentu, jaringan yang menamai diri MIB ini juga akan melakukan aksi teror di gereja.

“Kalau di Tangerang selain menyerang kantor polisi, mereka juga menargetkan gereja,” ucap Al Chaidar.

Ia menyebutkan, jaringan ini sangat cerdik dalam bersembunyi dari kejaran petugas. Mereka memanfaatkan kawasan yang tingkat kepadatannya yang cukup tinggi. Terlebih, pendataan penduduk terbilang sangat lemah.

“Sistem ketetanggaannya tidak begitu saling curiga, sehingga mereka merasa aman untuk tinggal disana. Di sinilah polisi harus menindak secara tegas dan mendeteksi dengan cepat keberadaan mereka,” tandas Al Chaidar.

Al Chaidar yang juga mantan anggota NII mengatakan, pelaku juga sudah masuk ke sejumlah sekolah swasta di Kota Depok.

“Ada empat sekolah yang sudah saya teliti, namun kalau kata teman-teman peneliti lainnya lebih daripada itu. Mereka diajarkan bersikap intoleran terhadap agama lain,” bebernya.

Saat ini menurutnya, potensi di Depok jumlahnya cukup banyak. Ia menyebutkan, di Depok mereka sudah memiliki outlet-outlet, bahkan sudah menyasar sekolah swasta.

“Sasaran mereka adalah simbol-simbol negara, seperti Polres, Brimob dan kantor Walikota,” katanya.

Sebanyak 200 anggota jaringan MIB ini, lanjut Chaidar, sulit untuk dideteksi lantaran mereka berbaur dengan warga pada umumnya.

“Mereka memilih tinggal di kontrakan atau kos-kosan. Di sini harus ada koordinasi yang baik antara aparat dan pihak pemerintah daerah untuk mengantisipasinya.” tegas dia.

Terpisah, Wakapolresta Depok, Ajun Komisaris Besar Candra Sukma Kumara mengatakan, 200 pasukan MIB tersebut bukanlah warga Kota Depok.

“Informasi itu tidak ada yang mengarah khususnya warga Depok ya, kemungkinan pendatang. Nah ini harus ada pendataan, bukan hanya tugas TNI-Polri tapi juga peran aktif masyarakat harus lebih ditingkatkan,” tegasnya.

Sementara itu, Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror makin gencar melakukan penangkapan terhadap para pelaku terduga teroris. Hampir semua yang ditangkap, kemudian dibawa dan diperiksa di Mako Brimob Kelapa Dua Cimanggis, Kota Depok.

Pertama, ada Dian Yulia Novi. Yang disebut sebagai calon ‘pengantin’, dia ditangkap Tim Densus di rumah kontrakan Jalan Bintara Jaya Kota Bekasi. Kemudian ada Nur Solihin dan Agus Supriadi, mereka ditangkap di bawah fly over Kalimalang Bekasi. Selanjutnya, SY alias Abu Izzah, ditangkap di Sabrang Kulon Matesih Karanganyar Solo.

Kemudian KF (22), APM (25), dan WP (24) merupakan jaringan terduga teroris di Bekasi, ketiganya ditangkap di tempat yang berbeda. Di rumah kontrakan Jalan Padasuka Sukamaju Kaler Indihiang Tasikmalaya, Densus menangkap TS alias UA. Dan terakhir, Adam, ia ditangkap di Jalan Raya Serpong Tangerang Selatan.(lip/viv/net)