AGUNG/RADAR DEPOK KREATIF: Pengrajin sepeda kayu asal Tapos, Didi Diarsa Adiana berfoto dan diapit dua sepeda hasil karyanya, kemarin. Selain unik, sepeda tersebut sangat modern dan humanis.
yamaha-nmax

 

 

 

 

Sepeda berbahan dasar besi sudah biasa. Tapi, di sudut Kota Depok tepatnya di Jalan Nangka No750 Sukamaju Kecamatan Tapos, terdapat sebuah galeri pembuatan sepeda berbahan dasar kayu. Saat diselidik, ternyata tempat tersebut milik pengusaha muda asal Depok Didi Diarsa Adiana (41). Seperti apa sepeda kayu buatan Didi?

 

Laporan: Muhammad Agung HR

 

Ide pembuatan sepeda kayu, muncul pertama kali ketika sang owner Didi Diarsa Adiana jalan-jalan ke Eropa dan kota besar di dunia. Dalam perbincangan bersama Radar Depok, Didi menyebutkan, semakin besar sebuah kota di sana masyarakatnya malah menggunakan transportasi sepeda, dan moda transportasi umum. Artinya, jarang sekali memakai kendaraan pribadi.

 

“Ada juga, semakin banyak sepeda yang dipakai, kotanya malah semakin modern, maju, humanis, dan green (hijau, Red),” kata Didi kepada Radar Depok.
Pria kelahiran Jakarta 27 Agustus 1974 ini mengatakan, kenapa di Indonesia tidak bisa seperti itu. Maka, saat pulang ke tanah air ia coba terinspirasi bagaimana bila membuat satu produk yang bisa membantu masyarakat untuk menyelesaikan masalah transportasi. Penyuka soto betawi ini melanjutkan, hal unik coba ia tampilkan sesuai potensi lokal di Indonesia.

 

“Kita punya pohon karet yang sangat banyak, ada jutaan hektar dan kalau usianya sudah di atas 15 tahun sudah tidak dipakai lagi. Karena tidak memproduksi getah karet lagi. Biasanya ditebang, dan hanya dijadikan kayu bakar,” terang Didi.

 

Dari situlah kenapa akhirnya ia menjadikan pohon karet sabagai bahan baku pembuatan sepeda kayu. Selain mudah diperoleh, pohon karet tak pernah kehabisan stok. Didi kemudian memadukan potensi sumber daya alam, kreativitas, dan kemajuan teknologi membuat satu produk protyping menjadi sepeda kayu.

 

“Semua jenis kayu bisa dimanfaatkan, ada juga dari bambu. Tetapi memang stok yang paling banyak tersedia adalah pohon karet,” papar suami dari Doktor Yessy Yanitasari (39).

 

Diketahui, Didi merupakan pebisnis di bidang furniture. Ide kreatif membuat sepeda kayu baaru ia jalani sekitar enam bulan lalu. Karena prosesnya lumayan panjang, terlebih dulu dilakukan riset. Bagaimana membranding kayu agar bisa ditekuk, dan ternyata itu ada ilmunya tersendiri. Riset tersebut yang memakan waktu, energi, tenaga, dan biaya yang lumayan besar.

 

“Proto typing pertama sangat lama hampir tiga bulan, untuk satu sepeda. Kemudian saya kembangkan lagi menjadi dua minggu, dikembangkan lagi menjadi satu minggu. Dan sekarang kami bisa membuat sepeda kayu satu hari satu,” kata Didi.

 

Didi mengklaim, sepeda kayu buatannya adalah sepeda kayu pertama di Indonesia dan di dunia, sepeda berbahan dasar kayu karet. Karena ini merupakan bahan alami yang kebetulan tumbuh di Indonesia. Tidak hanya itu, ia juga mencoba tambahkan lagi satu suplemen listrik, sehingga menjadi sepeda kayu listrik pertama di Indonesia sebagai sarana memecahkan masalah kemacetan.

 

“Jadi kita buat ada yang manual dan pakai listrik untuk membantu orang-orang yang commuter dari rumah ke stasiun atau dari rumah ke kantornya, yang jaraknya mungkin di bawah 20 kilometer,” terang Didi.

 

Kecepatan listriknya bisa mencapai 30 kilometer perjam, daya jelajahnya bisa sampai 30 kilo, dan charging timenya itu sekitar dua jam. Didi mengatakan, bagaimana bila dibayangkan di Depok semua orang memakai sepeda untuk keliling Depok.

 

“Saya fikir ke depannya bisa menjadi kota yang green dan bersih. Atau bisa menyamai kota Amsterdam, Rotterdam, atau bahkan Paris,” harap dia.

 

Rencananya Januari 2017, Didi akan memproduksi massal sepeda kayu. Saat ini pesanan datang dari Bali, Cilacap, Dosen, Designer, termasuk Walikota Depok. “Pemesan sepeda, rata-rata orang yang punya kepedulian terhadap lingkungan. Karena mereka melihat hal ini adalah sesuatu yang baru,” tegas Didi.

 

Pengrajin sepeda kayu ini sudah dikaruniai lima orang anak. Yaitu, Qibty Almaira (17), Ikrima Ramadan Alzanki (12), Lugna Qumilaila Alkaisa (11), Shiza Bazla Alkanz (6), dan Awfi Lana Alsyahkura (5). (*)