Febrina/Radar Depok DIRESMIKAN : Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa meresmikan satu dari 43 E-Warong KUBE di Depok.
yamaha-nmax
DIRESMIKAN : Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa meresmikan satu dari 43 E-Warong KUBE di Depok. Foto: Febrina/Radar Depok

DEPOK-Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, meresmikan satu dari 43 program elektronik warung gotong-royong (E-Warong) kelompok usaha bersama (KUBE) di Depok, Senin (9/1). Sedikitnya 11.421 pemegang kartu dalam program keluarga harapan (PKH), bisa membeli di warung ini untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Khofifah menyatakan, penerima manfaat E-Warong bakal menerima uang dari pemerintah yang ditransfer langsung melalui rekening bank ke penerima. E-Warong merupakan kartu ajaib pengganti bantuan langsung tunai. Sehingga, pemilik kartu tersebut tidak lagi perlu mengantri untuk menarik tunai, maupun belanja kebutuhan pokok yang diperlukan.

“Penerima PKH akan mendapatkan bantuan uang yang ditransfer sebanyak empat kali dalam setahun,” kata Khofifah kepada Harian Radar Depok, kemarin

Pemilik E-Warong, bisa mengatur dana yang diberikan untuk keperluan yang dibutuhkan. Bahkan, sisa uang yang ditrasfer pemerintah bisa ditabung. E-Warong juga bisa dijadikan tabungan untuk investasi pendidikan anak. Misalnya, kata dia, pencairan Januari 2017 yang diberikan pemerintah bisa ditabung.

Sebab, pada Mei tahun ini, juga akan dicairkan kembali uang ke penerima manfaat. “Kalau anaknya kelas 5 atau 6 SD, duit kan bisa ditabung untuk kebutuhan kenaikan kelas. Jangan diambil buat sekolah anak bantuan ini,” ujarnya.

Menurut Khofifah, E-Warong mengajarkan penerima manfaat untuk menabung. Dengan rajin menabung, artinya penerima manfaat bisa terbebas dari hutang, dan jeratan rentenir. Kartu E-Warong bakal diberikan kepada penerima program keluarga harapan dan beras sejahtera (rastra).

Di Depok tercatat ada 11.421 penerima PKH dan 43.000 penerima rastra. Setiap bulan, penerima rastra bakal mendapatkan bantuan Rp110 ribu, yang bisa dibelanjakan untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari. “Kalau bantuan PKH uangnya bisa dicairkan. Kalau Rastra tidak,” jelasnya.

Semangat program PKH untuk memutus mata rantai kemiskinan dari anak penerima manfaat. Soalnya, bantuan PKH bisa dimanfaatkan untuk anak sekolah.

Sedangkan orang tuanya akan diberdayakan dalam membentuk koperasi. E-Warong merupakan agen bank yang telah ditunjuk oleh pemerintah.

Di Depok, agen bank yang mengelola E-Warong adalah Bank BNI. “Total ada empat bank yang mengelola E-Warong di Indonesia, yakni Bank Mandiri, BNI, BTN dan BRI,” tuturnya.

Kepala Dinas Sosial Kota Depok, Kania Parwanti mengatakan, telah menetapkan tiga lokasi E-Warong di Depok, dari 43 titik yang ada di 11 kecamatan. Namun, yang baru diresmikan satu titik di kawasan Sukmajaya.

“Dua yang sudah ditetapkan ada di Kecamatan Tapos dan Cipayung,” ujarnya.

Kania menuturkan, besaran dana penerima PKH tidak sama. Musababnya, PKH diberikan bantuan perkomponen, seperti balita, ibu hamil, lansia, anak yang sekolah.

Untuk pelajar SMA mendapatkan Rp1 juta, SMP Rp750 juta, SD Rp400 juta setahun. Balita mendapatkan Rp1,2 juta, ibu hamil Rp1,2 juta dan bantuan tetap penerima Rp500 ribu setahun.

“Satu keluarga hanya tiga komponen atau tiga anaknya yang diakomodasi, dapat menerima bantuan,” ungkapnya.

Dirjen Penanganan Fakir dan Miskin Kementrian Sosial, Andi ZA Dulung, menambahkan jika tahun ini pemerintah menargetkan sekitar 2000 hingga 3000 e-warong.

Nantinya setiap warong akan diberikan dana sebesar Rp10 juta untuk membangun. Kendala yang terjadi sekarang adalah mencari lokasi yang layak.

“Kami berharap para camat dan lurah dapat membantu mencarikan serta yang akan memiliki e warong ini benar-benar peserta PKH,” paparnya.

Dulung mengatakan, jika penggunaan kartu tersebut tidak bisa dipakai untuk membeli rokok. Adanya e-warong ini bertujuan agar ekonomi pedesaan bisa berputar dan nanti transaksi nya non tunai, sehingga mempermudah ibu-ibu rumah tangga.

Mereka juga tidak perlu repot-repot mengurusnya. Sudah ada bagian-bagiannya. “Untuk suplai barang diurus Bulog sedangkan anggaran dana itu bank yang urus. Semuanya tidak diurus birokrat,” tutup Dulung.(ina)