Foto: Ricky/Radar Depok DIBUAT KESAL: Anggota Trantib Kecamatan Cimanggis melakukan operasi semut di Jalan Radar Auri, perbatasan Kelurahan Mekarsari dan Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis, kemarin.
yamaha-nmax

 

DIBUAT KESAL: Anggota Trantib Kecamatan Cimanggis melakukan operasi semut di Jalan Radar Auri, perbatasan Kelurahan Mekarsari dan Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis, kemarin. Foto: Ricky/Radar Depok

RADAR DEPOK.COM – Personil Trantib Kecamatan Cimanggis dibuat gerah dengan maraknya spanduk liar di wilayahnya. Bahkan, persentase spanduk tidak berizin mencapai 95 persen saat penertiban.

Kasi Pemerintahan dan Trantib Kecamatan Cimanggis, Yahman M. Sutria, mengatakan, operasi di Januari sudah mencopotkan 81 spanduk liar. “Itu baru satu kali operasi, di tiga Jalan Radar Auri, Jalan Putri Tunggal dan Jalan Alternatif Cibubur,” tutur Yahman kepada Radar Depok, kemarin.

Dia menjelaskan, spanduk yang ditertibkan yakni, tidak berizin, pemasangan di lokasi yang dilarang, masa berlaku izin habis. Tetapi, kata Yahman, yang paling banyak adalah spanduk tidak berizin alias bodong, dan jika dipersentasekan angkanya mencapai 95 persen. “Walaupun berizin tapi pemasangannya melanggar tetap kami copot,” tegasnya.

Yahman meminta agar pihak kecamatan dilibatkan dalam pengurusan perizinan spanduk. Sehingga, jumlah spanduk yang ada di kecamatan terdata dan jika masa berlakunya habis dapat segera dicopot.

“Seharusnya kecamatan dilibatkan dalam perizinan. Pengurusan SOP, ada pengantar dari kecamatan. Sementara kami bertugas sebagai pengawasan dan eksekusi saja,” katanya.

Seperti mengeluarkan rekomendasi di kecamatan untuk ditindaklanjuti dinas dan pembayarannya langsung di bank yang telah ditunjuk. “Ini demi PAD dan menjadikan wilayah tertib,” tandasnya.

Pelaksana lapangan Seksi Pemerintahan dan Trantib Kecamatan Cimanggis, Dedi Sadikin, menambahkan, jika perizinan mengurus spanduk harus melalui rekomendasi kecamatan, di satu sisi dapat menertibkan sesuai perda dan dapat meminimalisir oknum yang terlibat di perizinan.

“Jangan sampai ada oknum yang mencari keuntungan,” ucap Dedi. (cky)