Foto: Ricky/Radar Depok KELAS GRATIS : Anggota KaMU mengajarkan anak-anak saat kelas gratis di aula kantor Kelurahan Mekarsari, Cimanggis.
yamaha-nmax

 

KELAS GRATIS : Anggota KaMU mengajarkan anak-anak saat kelas gratis di aula kantor Kelurahan Mekarsari, Cimanggis. Foto: Ricky/Radar Depok

KAMU yang bergerak dibidang pembentukan karakter anak, kerap mengadakan kegiatan sosial yang positif, seperti mengadakan kelas gratis bagi anak-anak di Keluraham Mekarsari, Cimanggis.

Laporan : RICKY JULIANSYAH, Radar Depok

Seiring berjalannya waktu, kegiatan yang dilakukan KaMU sedikit demi sedikit mulai menancapkan taringnya di Kelurahan Mekarsari dengan mengadakan berbagai kegiatan sosial yang positif.

Beberapa diantaranya, kelas gratis, membangun perpustakaan, bagi-bagi buku digital pendidikan karakter praktis, jual barang bekas untuk cari dana dan mendukung kegiatan Taman Ramah Anak. Namun, kadang apa yang dilakukan seperti jauh api dari panggang, apa diharapkan masih jauh dari realita yang terjadi sekarang ini.

“Anggotanya justru menurun. Bergerak dibidang pendidikan pembentukan karakter dengan mengajar di sekolah dan TK, dari usia dini karakter terbentuk, generasi saat ini menurut saya terlalu lembek,” tutur Ketua KaMU, Roni.

Ada satu pengukuran pendidikan di sini yakni mengukur literasi, Indonesia masuk nomor lima terbawah dari 65 negara. Kemampuan literasi bangsa dari membaca dan memahami, level integritas dan komitmennya masih kurang.

“Kami bentuk komunitas dengan sukarela. Ada saja anggota yang tidak responsif, kalau ada pertemuan tapi tidak datang dan tidak komunikasi. Saat ini lagi pembersihan dari sekitar 7 bidang, paling 4-5 yang aktif, yang tidak aktif ditarik lagi ke My Right Education,” tutur Roni.

Kegiatan positif tidak melulu mendapat dukungan serta ramai dimanfaatkan generasi muda. Seperti, 30 Januari hingga 1 Februari 2015, KaMU pernah mengadakan pameran pendidikan dan ajang kreatifitas muda di Cimanggis Square, di acara itu sebenarnya sudah mulai dirangkul wirausaha muda Mekarsari.

“Walaupun dibuka oleh lurah dan ketua katar, selain panitia tidak bergerak, peserta wirausaha muda juga membatalkan keukutsertaan mereka. Selama tiga hari kami mempertahankan kegiatan dengan dukungan yang sangat minim,” terangnya.

Padahal, lanjut Roni, KaMU berusaha bagaimana pemuda yang punya daya juang dan kreatif dapat bersinergi bersama, tapi kenyataannya tidak semudah itu. Saat ini, KaMU awalnya berjuang untuk mewujudkan sikap mental yang baik, integritas dan pola pikir yang positif agar daya juang tinggi. Hal itu sangat tidak mudah.

Roni mengisahkan, pernah MRE memberi kelas gratis musik dan bahasa inggris ke anak pemulung, awalnya mereka rajin datang tapi tidak serius, saat kelas gratis diberikan kepada golongan menengah, gurunya sering sudah standby dan murid-muridnya tidak datang, atau terlambat sekali datangnya.

“Perpustakaan yang telah dirintis juga jarang sekali dimanfaatkan. Padahal buku-bukunya cukup bagus dan variatif. Ini tantangan kami semua untuk membangun karakter generasi yang lebih baik, termasuk untuk diri saya pribadi,” kisah Roni.

Meski demikian, Roni bersama kawan-kawan yang tergabung dalam KaMU tidak patah arang, mereka terus melanjutkan apa yang dicita-citakan sesuai dengan tujuan awal KaMU.

Lambat laun, gayung pun bersambut, Saat ini, KaMU mendapat tawaran dari beberapa relasi untuk menempati ruko dengan kompensasi yang sangat realistis bagi KaMU yang bergerak di Wirausaha Sosial.

“Dapat tawaran di jalan juanda, ada teman punya ruko, menawarkan untuk dipakai. Per dua jam cuma diminta Rp50 ribu, itu untuk bayar listrik dan lainnya. Masih ringan menurut kami. Semoga usaha kami berjalan sesuai target,” ucap Roni. (*)