Febrina/Radar Depok BERDESAKAN : Para pencari kerja selalu membludak diperhelatan job fair yang diadakan oleh Pemkot Depok.
yamaha-nmax

 

BERDESAKAN : Para pencari kerja selalu membludak diperhelatan job fair yang diadakan oleh Pemkot Depok. Foto : Febrina/Radar Depok

Setiap tahunnya, jumlah pengangguran di Kota Depok terus meningkat. Guna mengatasi hal ini, Pemkot Depok intens sekali menggelar pelatihan angkatan kerja melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker). Selain itu, setiap tahun selalu diadakan Job Fair sebagai salah satu solusi untuk menekan angka pengangguran.

Diketahui, pada 2016 angkatan kerja Kota Depok mencapai 958.587 jiwa. Namun yang bekerja sekitar 877.684 jiwa, sementara penganggurannya 80.903 jiwa. Di 2015, jumlah pengangguran sekitar 78 ribu, artinya meningkat 2 ribu dalam setahun. Setiap perhelatan jobfair, tersedia lowongan kerja bagi 14 ribu orang. Hasilnya, event tersebut mampu menyerap 50 persen pelamar kerja.

“Adanya job fair tentu mengurangi jumlah pengangguran, sedikit demi sedikit,” kata Kepala Disnker Kota Depok, Diah Sadiah.

Senada, Walikota Depok Mohamad Idris menegaskan, job fair yang dihelat Disnaker merupakan salah satu cara mengurangi angka pengangguran di Depok.

“Ini kan sebagai fasilitas bagi warga yang ingin mendapat pekerjaan. Kami harap adanya bursa kerja ini, pengangguran dapat berkurang. Disnaker juga memfasilitasi layanan pembuatan kartu kuning atau kartu pencari kerja secara gratis,” tutur Idris.

Ia meminta kepada perusahaan agar memprioritaskan pencari kerja yang telah memiliki kartu pencari kerja tersebut. “Nantinya kan akan disaring perusahaan yang bersangkutan, kalau kami hanya memfasilitasi pencari kerja,” tambahnya.

Idris mengungkapkan jumlah pengangguran saat ini umumnya lulusan SLTA. “Sebanyak 60 persen lulusan SLTA. Mudah-mudahan dari info bursa kerja ini sebanyak 50 persen warga Depok yang lamar bisa mendapat pekerjaan. Untuk kesejahteraan, warga Depok yang kami prioritaskan karena penyelenggaraan untuk tahun ini menggunakan APBD,” papar Idris.

Dirinya menjelaskan penyerapan tenaga kerja warga Depok selain melalui job fair juga dilakukan cara lain. “Kami menerima berkas pelamar dan dimasukan ke database Disnakersos, nantinya jika perusahaan butuh tenaga kerja, data pencari kerja sudah ada,” jelas Walikota.

Dia menuturkan terkait banyaknya perusahaan baru yang hadir di Depok, ke depan pihaknya akan mengikat perusahaan secara regulasi bagi pencari kerja, agar warga Depok bisa mendapatkan pekerjaan.

“Nantinya kami akan hearing dengan para pengusaha, bisa gak kalau misalnya 80 persen warga Depok menjadi tenaga teknis, nanti akan dibuat regulasinya,” tutupnya.

Sementara itu, Kasi Neraca Wilayah dan Analisis dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok, Bambang Pamungkas mengatakan, trend pengangguran di Depok masih cenderung fluktuatif. Sesuai rekapan data BPS, tiga tahun terakhir jumlah penganggura mencapai 60.000-80.000 jiwa, dilihat dari jumlah angkatan kerja.

“Pada 2015 angkatan kerja di depok 969.502 jiwa dengan pengangguran 75.521 jiwa atau sekitar 7,48 persen,” ungkap Bambang kepada Radar Depok.

Angka 7,48 persen tersebut, lanjut Bambang, bukanlah angka ideal di sebuah Kota. Menurut Bambang idealnya angka pengangguran dibandingkan jumlah angkatan kerja hanyalah 3 persen.

“Angka pengangguran di Kota Depok ini menurut saya masih jarang terserapnya angkatan kerja di perusahaan-perusahaan di Kota Depok,” lanjutnya.

Bambang memiliki solusi untuk mengentas angka pengangguran, yakni dengan menanamkan moral wirausaha kepada para pelajar dan angkatan kerja. “Salah satunya dengan menerapkan praktek langsung di SMK, dengan begitu siswa akan memiliki jiwa wiraswasta,” ucapnya. (ina/ade)