IRWAN / RADAR DEPOK RESMI : Para pengurus Dewan Pengurus Nasional (DPN ) Gerakan Marhaen Pembela dan Cinta Tanah Air (GEMPITA) resmi deklerasikan sebagai sayap partai PDI Perjuangan di depan kantor Seketariat DPC PDI Perjuangan
RESMI : Para pengurus Dewan Pengurus Nasional (DPN ) Gerakan Marhaen Pembela dan Cinta Tanah Air (GEMPITA) resmi deklerasikan sebagai sayap partai PDI Perjuangan di depan kantor Seketariat DPC PDI Perjuangan. Foto: IRWAN / RADAR DEPOK

RADAR DEPOK.COM – Secara resmi sayap PDI Perjuangan, Gerakan Marhaen Pembela dan Cinta Tanah Air (Gempita) mendeklarasikan dirinya, Minggu (15/1), di Markas DPC PDI Perjuangan Kota Depok, bilangan Grand Depok City, Sukmajaya.

“Gempita merupakan organisasi yang berdiri atas dasar kesamaan pemikiran Bung Karno (Presiden Pertama Indonesia). Khususnya kaum wong cilik atau marhaen,” tutur Ketua Umum Gempita, Guruh Jhon Saputra kepada Radar Depok.

Selain itu juga, dibentuknya Gempita, lanjut Guruh lantaran ingin memberdayakan masyarakat dalam setiap sektor. Sehingga memiliki manfaat bagi khalayak umum. “Dengan segenap kemampuan sumber daya yang ada, Gempita akan semaksimal mungkin meningkatkan kesejahteraan kaum kecil,” paparnya.

Guruh menegaskan bahwa Gempita berlandaskan kecintaan kepada NKRI, Pancasila, dan UUD 1945.

“Kami akan selalu hadir dan bersinergi bersama pemerintah dan turut serta membangun di berbagai sektor. Termasuk dalam ketertiban masyarakat secara proporsional. Kami memiliki 1.300 anggota di Indonesia,” kata dia.

Ketua Dewan Pembina Gempita, Totok Sardjono mengungkapkan, ormasnya (Gempita) lahir atas dasar kesamaan pemikiran dan kecintaan terhadap ajaran Bung Karno. Khsususnya keberpihakan terhadap wong cilik.

“Dan perlu diingat, yang mengabdi di Gempita ini adalah orang-orang intelek. Mulai dari akademisi, teknokrat, sampai pengusaha. Mereka punya visi yang sama dengan Gempita, peduli dan mau berkontribusi,” tegas dia.

Ia menambahkan, saat ini banyak ancaman disintegrasi bangsa yang kian nyata. Hal ini tak terlepas dari munculnya beragam konflik berbau SARA yang melanda.

Salah satu pemicunya, kata dia, masyarakat mulai mengenyampingkan nilaio pancasila, yang notabene falsafah bangsa.

“Termasuk pemikiran Soekarno yang senantiasa mengajarkan arti pentingnya persatuan dan kesatuan Bangsa,” kata dia.

Berangkat dari hal itulah, Gempita lahir sebagai upaya mengajarkan kembali semangat ajaran Soekarno. “Terutama dalam konteks pemberdayaan sosial dan ekonomi Pancasila,” tandasnya. (irw)