Foto: Ilustrasi MENGANDUNG UNSUR BABI: Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny K Lukito, mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi Mi Instan merek Samyang, asal Korea Selatan.
MENGANDUNG UNSUR BABI: Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny K Lukito, mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi Mi Instan merek Samyang, asal Korea Selatan. Foto: Ilustrasi

RADAR DEPOK.COM – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny K Lukito, mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi Mi Instan merek Samyang, asal Korea Selatan.

Larangan ini memang belum didasari hasil laboratorium, melainkan dari keterangan pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumenep, yang menyebutkan di bungkus mi tersebut terdapat kandungan babinya.

“Karena ilegal, harus ditarik dan dimusnahkan. Apalagi ada unsur babinya. Siapa pun yang menyebarkan, mengedarkan barang tanpa izin edar, itu kena pelanggaran Undang-Undang Kesehatan,” tegas Penny, Kamis (19/1).

Dalam kasus ini, dia mengimbau masyarakat untuk berhati-hati membeli produk makanan. Sebelum membeli, harus dipastikan bahwa produknya memiliki izin edar yang tertera pada bungkusnya.

“Kalau beli apa pun ada izin edarnya nggak dari Badan POM? Apalagi itu bahasanya masih Korea, harusnya jangan dibeli. Kalau sampai ketahuan Badan POM, penindakan, itu sudah pelanggaran. Hukumannya sampai 15 tahun penjara,” tegas dia.

Baca Juga  339 Apotek-Toko Obat Dibina Dinkes

Terkait adanya temuan ini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok menegaskan, belum menerima informasi langsung dari BPOM. Tetapi, bila ada laporan kedua OPD tersebut bersama Satpol PP akan langsung operasi pasar hingga pembinaan.

“Sampai saat ini saya belum menerima informasi soal kandungan mi Samyang itu,” ujar Kepala Dinkes Kota Depok, Noerzamanti Lies Karmawati kepada Radar Depok, kemarin (19/1).

Namun, jika nanti informasi tersebut benar adanya, Dinkes akan memberikan pembinaan agar peredarannya hanya untuk kalangan tertentu saja. Tapi, bila dilakukan tes laboratorium dan ternyata mengandung bahan berbahaya biasanya akan ditarik peredarannya. Semua tergantung apa yang mendasari produk yang katanya ilegal itu.

“Semua tergantung dari apa yang membahayakan atau tidak, kalau mengandung minyak babi kemungkinan cuma peredarannya saja yang tidak bisa meluas, untuk titik tertentu saja,” tegas Lies.

Baca Juga  Joko Widodo Diperiksa KPK Terkait Dugaan Suap Proyek di Tulungagung

Senada, Kepala Disperindag Kota Depok, Achmad Kafrawi menyatakan, dirinya juga belum menerima informasi pelarangan peredaran mi Samyang. Jika nanti ada instruksi dari pusat tentunya akan langsung dilakukan operasi keseluruh titik pusat perdagangan.

“Sampai sekarang belum ada koordinasi, dari BPOM dan Dinkes seperti apa harus tahu hasilnya,” kata Kafrawi kepada Radar Depok.

Sebelumnya, produk makanan yang diduga mengandung babi bikin geger warga Sumenep, Jawa Timur. Tim gabungan MUI, Dinkes, Satpol PP, Disperindag dan Mapolres menggelar sidak di Toko Delapan jalan Arya Wiraraja, Sumenep. Dalam sidak tersebut, ditemukan beberapa produk yang dijual di minimarket tersebut mengandung babi.

Ketua MUI Sumenep KH A. Safradji mengatakan, sebelumnya pihaknya mendapat informasi bahwa makanan jenis mie bermerek Yapoki dan Samyang perlu dicurigai. “Kemudian beberapa hari lalu kami membeli sebagai bukti dan sampel. Berhubung kemasan produk bertuliskan bahasa Korea, kami sedikit kebingungan memastikan apakah ada unsur babi,” ujarnya.

Baca Juga  Perlahan Tapi Pasti, Pondok Petir Bebas MCK Terbuka di 2020

Lantas, MUI Sumenep meminta bantuan seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Prodi Bahasa Korea UGM.  Hasil terjemahannya sangat mengagetkan. Dua produk tersebut gamblang menyebutkan mengandung daging babi. “Atas dasar itu kami harus ambil tindakan tegas. Apalagi yang menerjemahkan bahasa Korea di kemasan itu siap mempertanggung jawabkan dan di atas materai,” terangnya.

Parahnya, produk Samyang tidak ada label dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. “Kami khawatir ada unsur kesengajaan untuk mengelabuhi konsumen yang beragama Islam. Jelas, kalau ada orang tidak tahu akan mudah mengkonsumsinya,” ujarnya. (ina/jpg)