RADAR DEPOK.COM–Protesnya sejumlah wali murid terhadap rencana perpisahan kelas XII SMK Negeri 2 Depok ke Yogyakarta, Jawa Tengah dengan biaya Rp1.875.000 ditanggapai Dinas Pendidikan (Disdik) Depok. Disdik menegaskan perpisahan bisa dilaksanakan sesuai dengan kemampuan warga sekolah.

Sekretaris Disdik Kota Depok, Siti Chaerijah Aurijah mengatakan, perpisahan yang diselenggarakan sekolah tidak termasuk dalam kurikulum, hanya tambahan kegiatan sekolah. Rencana perpisahan SMKN 2 Depok dengan melaksanakan study tour ke Yogyakarta, sebaiknya dilakukan komunikasi terlebih dahulu.

“Perpisahan sekolah bisa dilaksanakan sesuai dengan kemampuan warga sekolah, baik siswa maupun pihak sekolah,” ujar Siti kepada Radar Depok, kemarin.

Siti menjelaskan, perpisahan sebaiknya dapat dilaksanakan di lingkungan sekolah, sehingga dapat menghemat biaya dan waktu. Namun, ada beberapa kemauan siswa atau sekolah ke tempat yang berbeda sebagai kenangan saat mereka bersekolah. Namun, hal itu harus kesepakatan bersama dan tidak memberatkan salah satu pihak.

Kalaupun ingin mengadakan perpisahan, sambung Siti sebaiknya dibentuk panitia. Nantinya, panitia harus terdiri dari siswa, orangtua siswa, dan guru.

Dan ketiga unsur panitia tersebut harus saling berkomunikasi terkait dengan perencanaan kegiatan perpisahan. Selain itu, panitia perpisahan dapat mencari seponsor dan donatur guna membantu pembiayaan, sehingga tidak memberatkan siswa yang kurang mampu.

“Kalaupun ada orangtua siswa yang mampu, dapat melakukannya dengan cara subsidi silang,” terang Siti.

Apabila hal itu dijalankan, lanjut Siti tidak akan menimbulkan polemik, karena segala keberatan atau keresahan telah dituangkan dalam komunikasi. Siti meminta, kepada orang tua yang merasa keberatan terhadap kebijakan disekolah, sebaiknya dilaksanakan komunikasi dengan pihak sekolah. Jangan menuangkan keberatan melalui media sosial, karena akan menimbulkan asumsi kurang baik karena terjadinya miss komunikasi.

“Lebih baik dikomunkiasikan terlebih dahulu kepihak sekolah, sebelum menuangkan ke media sosial,” ujar Siti.

Sementara itu, Sekretaris Komisi D DPRD Kota Depok, Qonita Luthfiyah menuturkan, sekolah mengadakan study tour harus dipikirkan kembali baik dari manfaat positif maupun negatif. Dia tidak ingin, orang tua siswa mengeluarkan biaya cukup besar namun tidak sesuai dengan manfaat yang didapat siswa.

“Pelaksanaan study tour harus ada kesepakatan dari orang tua siswa,” tandas Siti.

Selain itu, sambung Qonita orang tua harus berani mengemukakan pendapat ketika tidak setuju terhadap kebijakan sekolah terhadap study tour. Menurutnya, belajar maupun perpisahan diluar kelas tidak harus dengan biaya yang mahal, sekolah dapat memanfaatkan dilingkungan sekitar sekolah.

“Sebaiknya study tour maupun perpisahan dapat dilaksanakan disekolah maupun tidak jauh dari sekolah,” ucap Qonita. (dic)