RICKY/RADAR DEPOK BANYAK PIPA: Ketua LPM Kelurahan Sukamaju Baru, Supriadi bersama Ketua RW07 Muhammad Ipung menunjukan mata air di RT04/07 kelurahan Sukamaju Baru, Tapos.
yamaha-nmax
BANYAK PIPA: Ketua LPM Kelurahan Sukamaju Baru, Supriadi bersama Ketua RW07 Muhammad Ipung menunjukan mata air di RT04/07 kelurahan Sukamaju Baru, Tapos. Foto: Ricky/Radar Depok

Mata air yang berada di RT04/07 Kelurahan Sukamaju Baru, Tapos, airnya jernih dan tidak pernah kering. dahulu dijadikan tempat untuk berwudhu ulama di zaman tersebut.

Laporan: RICKY JULIANSYAH, Radar Depok

Dahulu, dari situs Makam Raden Pakpak menuju mata air, jalurnya merupakan tebingan. Tapi, demi menunaikan kewajiban ibadah kepada Sang Khalik, para ulama di zaman tersebut tetap ke mata air yang airnya jernih.

Bahkan, dikala musim kemarau panjang, mata air yang berada di tengah-tengah persawahan itu, tidak akan pernah kering airnya. Saat ini, tebingan sudah dikikis dan areal yang dulu persawahan berubah menjadi pemukiman padat. Tetapi, mata air tersebut masih ada hingga kini.

“Dulu tebingan, tapi lama-lama dikikis oleh pendatang, jadi seperti ini dan tidak curam lagi,” tutur Ketua RW07 Kelurahan Sukamaju Baru, Muhammad Ipung.

Sementara, Ketua LPM Kelurahan Sukamaju Baru, Supriadi menambahkan, mata air ini masih berkaitan dengan situs Makam Raden Pakpak, karena situs tersebut berdasarkan cerita orang tua terdahulu merupakan tempat musyawarah dan pertemuan ulama-ulama penyebar agama Islam. Dan ketika melaksanakan ibadah, mereka menuju mata air untuk berwudhu.

“Termasuk peninggalan yang berkaitan dengan situs yang ada di Kelurahan Sukamaju Baru,” tutur Supriadi.

Dia menjelaskan, dulu tanah sekitar areal mata air merupakan milik warga, yang kemudian dibeli mantan kepala Desa Sukamaju Baru, H. Nur Hasim. Bahkan, dari ada perusahaan air minum, ingin mengelola mata air, tetapi oleh warga tidak diizinkan.

Keberadaan mata air tersebut saat ini untuk mencukupi kebutuhan air bersih untuk tiga RT, yakni di RT07/07, RT04/07 dan RT1/08.

“Lebih dari 300 warga yang memanfaatkan mata air ini. Lihat saja pipa-pipa yang terpasang, sampai ratusan jumlahnya, bahkan dari satu pipa bercabang lagi,” ucap Supriadi. (*)