TUAK : Lurah Cipayung, Herman dengan Ketua RT02/09, Kelurahan/Kecamatan Cipayung, Marijan saat mencicipi tuak kelapa. ADE/RADAR DEPOK
yamaha-nmax

 

TUAK : Lurah Cipayung, Herman dengan Ketua RT02/09, Kelurahan/Kecamatan Cipayung, Marijan saat mencicipi tuak kelapa. Foto : ADE/RADAR DEPOK

CIPAYUNG –  Wajib (53) merupakan seorang penyadap pohon kelapa di RT02/09, Kelurahan/Kecamatan Cipayung. Ia telah puluhan tahun menjadi penyadap pohon kelapa untuk dibuat menjadi tuak kelapa.

“Semenjak saya keluar dari pekerjaan, saya balik kampung dan lihat teman suka panjat kelapa sembari bawa arit dan drijen air, saya penasaran dan belajar hingga kini saya tekuni,” ungkapnya.

Tuak kelapa sendiri merupakan minuman tradisional yang diambil dari saripati kelapa. Dan menurut Wajib, minuman tersebut dapat dijadikan obat penyakit kuning (liver).

“Kalau kata teman, ini bisa dijadikan obat penyakit kuning. Asal minumnya rutin sehari satu gelas,” lanjut pria berkulit sawo matang tersebut.

Wajib menambahkan, satu pohon kelapa dapat menghasilkan satu hingga dua liter tuak kelapa. Tergantung dari masing-masing pohon.

“Tidak tentu. Kadang ada yang tidak sampai satu liter. Ya tergantung pohonnya,” ucapnya

Panjat memanjat menjadi kesehariannya untuk menghidupi istri dan kelima anaknya. Dalam sehari dirinya bisa dua kali panjat puluhan pohon kelapa yakni pagi dan sore.

“pengalaman pahit terjadi di tahun 2010. Saya jatuh dari pohon kelapa setinggi 40 meter. Sekarang sudah mulai berkurang stamina,” tutur Wajib.

Satu liter tuak kelapa dijual olehnya sebesar Rp27 ribu. Saat ini dirinya memiliki kurang lebih 40 pohon. “Ya dapatnya lumayan. Tapi masih kurang karena ini masih punya orang. Saya berharap dapat memiliki pohon sendiri,” ungkapnya.

Lurah Cipayung, Herman mengatakan, baru mengetahui potensi warganya yang masih mengandalkan pertanian untuk menghidupi keluarga.

“Di kota metropolitan ini, saya kagum masih ada petani seperti ini, harus di dukung,” ungkapnya.

Herman yang sempat mencicip tuak kelapa tersebut menambahkan, dirinya akan membentuk lebih banyak poktan-poktan di masyarakat dalam rangka menguatkan usaha-usaha pertanian seperti ini.

“dengan adanya poktan para petani dapat terkelola dan merasa terbantu baik modal, pengelolaan, hingga pemasarannya,” lanjut Herman.

Saat ini Cipayung telah memiliki 3 poktan namun dirinya mengakui, poktan-poktan tersebut masih belum maksimal. (ade)