BERLANGSUNG TERTUTUP: Sidang perkara penodaan agama terdakwa Ahok di gedung Auditorium D, Jalan RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan (Jaksel) sedang berlangsung, Selasa (3/1). Ist
yamaha-nmax
BERLANGSUNG TERTUTUP: Sidang perkara penodaan agama terdakwa Ahok di gedung Auditorium D, Jalan RM Harsono,
Ragunan, Jakarta Selatan (Jaksel) sedang berlangsung, Selasa (3/1). Ist

JAKARTA – Seorang warga asal Kota Depok, Jawa Barat, Endika (24) diamankan petugas saat sidang perkara penodaan agama terdakwa Ahok di gedung Auditorium D, Jalan RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan (Jaksel) sedang berlangsung, Selasa (3/1).

Polisi mengamankan Endika karena diduga memaksakan diri menerobos barikade pengamanan di pintu utama Auditorium D.

“Dia (Endika) mau coba masuk gerbang,” ujar Kapolrestro Jaksel, Komisaris Besar Iwan Kurniawan di lokasi kejadian.

Data terhimpun, petugas juga sempat memverbal dan melakukan tes urin terhadap Endika. Hanya saja, hasil tes urin diketahui negatif dari indikasi penggunaan narkoba atau pun alkohol.

“(Hasilnya) negatif. Tidak mabuk,” terang mantan Wadirkrimsus Polda Metro Jaya itu.

Menurut Iwan, pria tersebut sudah ditangani petugas Reskrim Polrestro Jaksel. Iwan enggan berkomentar terkait kelanjutan penanganan terhadap Endika. Sehingga, belum diketahui apakah Endika masih diamankan atau sudah dilepas.

“Saya enggak menangani itu. Saya tangani massa demo saja,” pungkas mantan Kapolres Ponorogo Polda Jawa Timur itu.

Sementara itu, salah satu pelapor Ahok, yakni Sekjen DPD FPI Jakarta, Habib Novel Chaidir Hasan Bamukmin menyatakan, bahwa dirinya telah membawa sejumlah bukti-bukti yang nantinya akan dipaparkan kepada majelis hakim dalam sidang nantinya.

“Oh saya bawa data lengkap. Data dari rekam jejak Ahok. Saya kan menjabat FPI dari tahun 2012 sebelum Ahok jadi wakil gubernur. Kampanyenya saat itu saja sudah bermasalah,” kata Novel jelang persidangan di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (3/1).

Novel menerangkan, selama menjadi orang nomer satu di Ibukota, Ahok telah banyak melakukan penistaan agama terutama ayat suci Al Quran yang menjadi petunjuk bagi umat muslim.

“Permasalahannya karena selalu menyerang agama Islam. Ahok mengatakan ayat-ayat konstitusi di atas ayat-ayat suci. Ayat suci No, ayat konstitusi yes,” terang Novel.

Sebanyak enam saksi rencananya akan dibawa JPU ke persidangan. Di antaranya Habib Novel, Gus Joy Setiawan, Muh. Burhanuddin, Muchsin alias Habib Muchsin, Syamsu Hilal, dan Nandi Naksabandi.

Mereka merupakan pihak yang melaporkan Ahok soal dugaan penodaan agama terkait surat Al Maidah ayat 51 saat melakukan kunjungan kerja ke Pulau Seribu.

“Ada Habib Muchsin Alatas. Imam darat DKI karena saya pelapor tokoh agama umat Islam. Jadi tokoh FPI yang lapor Habib Muchin atas nama agama,” terangnya.

Dia berharap, sejumlah bukti-bukti yang nantinya dibeberkan ke depan pengadilan dapat membuka hati nurani majelis Hakim untuk segera menahan petahana di Pilgub DKI Jakarta tersebut. “Harapan kita bisa memberikan sanksi yang sebaiknya dan sekuatnya dengan data yang bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Novel.

Terpisah, sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sempat dihentikan atau diskors selama kurang lebih satu jam. Selain digunakan untuk beristirahat, skors sidang juga dimaksudkan untuk salat Zuhur.

Dalam kurun waktu pukul 12.00 WIB hingga sekitar 13.00 WIB, tidak terlihat adanya pengunjung yang keluar atau masuk dari Pintu Gedung A Auditorium Kementerian Pertanian, Jalan RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan.

Hal ini membuat tak banyak yang bisa diketahui tentang apa yang terjadi di ruang sidang saat pemeriksaan saksi-saksi yang diajukan jaksa penuntut umum.

Salah seorang tim advokasi GNPF MUI, yakni Dedy Suhardadi, sempat keluar dari ruang sidang saat pemeriksaan saksi pertama Novel Chaidir Hasan Bamukmin. Dia menjelaskan sedikit percakapan antara majelis hakim dengan Novel.

“Tadi seperti biasa, normatif, pertama yang dijadikan saksi Novel. Soal identitas segala. Habib ditanya hakim dari mana dia tahu peristiwa itu,” ujar Dedy.

“Dia tahu dari jemaah, dia cek dari Whatsapp, dia dapat video upload dari web DKI itu. (Ditanya) Yang menodainya dari mana, ya dari kata-kata Ahok yang soal bohong itu. Itu disampaikan sama beliau,” pungkas Deddy. (rmol/elf/JPG/lip)