Foto: Irwan/ Radar Depok SINERGI : Walikota Depok Mohammad Idris bersama Forum Komunitas Hijau (FKH) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok berfoto bersama di Joglo Nusantara, Situ Pengasinan, Kelurahan Pengasinan,  Sawangan, Minggu (29/1).
yamaha-nmax

 

SINERGI : Walikota Depok Mohammad Idris bersama Forum Komunitas Hijau (FKH) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok berfoto bersama di Joglo Nusantara, Situ Pengasinan, Kelurahan Pengasinan,  Sawangan, Minggu (29/1). Foto: Irwan/ Radar Depok

Kelompok pencinta dan peduli alam tergabung dalam Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota Depok, tidak henti mengajak masyarakat agar peduli dan peka terhadap lingkungan.

Laporan: Muhammad Irwan Supriyadi, Radar Depok

Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan benda dan kesatuan mahluk hidup, termasuk manusia terlibat di dalamnya. Saling bergantung. Maka dari itulah  harus menyadari bahwa lingkungan merupakan sarana pengembangan hidup yang harus dijaga kelestariannya.

“Kami ingin membangun peran masyarakat. Di Depok banyak orang pintar. Tapi, sepertinya mereka sejauh ini tidak dilibatkan secara langsung,” kata Koordinator FKH, Heri Syaefudin, di sela-sela diskusi bertema: “Peran Masyarakat Dalam Mewujudkan Depok Kota Hijau Yang Asri.

Maka dari itu, bila pemerintah kota memiliki program besar terkait kebersihan menuju kelestarian alam. Ia menyarankan agar warga harus ikut terlibat untuk mendukung.

“Masukan dari mereka (masyarakat) perlu didengar. Jangan sampai ujuk-ujuk program dijalankan tapi tak ada sosialisasi,” tuturnya.

Dia mencontohkan soal rencana pembangunan alun-alun di pusat Kota Depok. Apalagi proyek ini kabarnya menelan biaya tidak sedikit. Sekitar Rp165 milyar.

Sebenarnya lebih strategis kalau alun-alun itu tidak dipusatkan pada satu titik. Tapi, disebar beberapa titik. Jadi ada banyak ruang terbuka hijau di Kota Depok.

“Secara kuantitas ruang, volume bisa lebih banyak dan eksebilitasnya lebih masuk akal. Misalnya masyarakat butuh tempat bermain, butuh kenyamanan dan lain-lain. Tentu ini akan memberikan ruang tumbuh ideal bagi generasinya,” tuturnya.

Walikota Depok, Mohammad Idris mengatakan, persoalan-persoalan kota seperti Kota Depok dapat dilakukan dengan pendekatan berbagi peran dan berkolaborasi.

Bukan hanya diserahkan kepada pemerintah, tapi juga menjadi tanggung jawab bersama.Menurut Idris kekuatannya terletak pada Sumber Daya Manusia (SDM).

“Setu pengasinan misalnya kalau tak ada aktivis lingkungan hidup seperti FKH, tidak akan jalan,” kata Idris.

Dengan adanya  ruang kota hijau di Depok menurutnya, masih didominasi kepemilikan pribadi. Bahkan, Depok sendiri memiliki warisan aset-aset berharga dalam 18 tahun terakhir.

Hanya saja sebanyak 500 aset yang diserahkan ke Kota Depok semuanya belum bersertifikat.

“Tahun ini kami bekerjasama dengan BPN dan alhamdulillah sudah 90 aset yang berhasil disertifikatkan. Ini menjadi pekerjaan rumah kami untuk mensertifikatkan aset-aset lainnya,” beber dia.

Ia juga menambahkan, soal penanganan masalah sampah di Depok pihaknya telah menyediakan fasilitas tempat pembuangan sampah di TPA Cipayung.

Dan telah dibentuknya 32 Unit Pengolahan Sampah (UPS) untuk menampung sampah organik dan satu UPS campur diolah menjadi pupuk dan bernilai.

“Sehingga  sampah di Depok mencampai 1.250 ton/hari, bisa di kelola baik sebelum dibuang ke TPA Cipayung,” bebernya.

Dimana, sampah yang dibuang ke TPA tanpa dipilah sebanyak 670 ton perhari. Sisanya diproses 130 ton di 32 UPS. Dibantu oleh komunitas bank sampah sebanyak 432 yang ada di kota ini.

“Kami juga akan membuat kios untuk penjajakan kreativitas anak muda. Tahun ini 200 kios UMKM di Pasar Musi. Jadi ini sudah program kami. Kami ingin Kota Depok yang bersih, aman, dan nyaman bagi warganya,” tutur Idris. (irw)