PEDULI: Walikota Depok Mohammad Idris didampingi Kepala Dinas Kesehatan Lies Noerzamanti menjenguk Yuniar Tri Andini (9), pasien tumor ganas yang saat ini di rawat di Ruang Cendrawasih RSUD Kota Depok, Selasa (19/07/2016). Foto : Ricky / Radar Depok.
yamaha-nmax
PEDULI: Walikota Depok Mohammad Idris didampingi Kepala Dinas Kesehatan Lies Noerzamanti menjenguk Yuniar Tri Andini (9), pasien tumor ganas yang saat ini di rawat di Ruang Cendrawasih RSUD Kota Depok, Selasa (19/07/2016). Foto : Ricky / Radar Depok.

Salah satu sektor yang menjadi sorotan publik adalah bidang kesehatan. Dari tahun 2015 hingga 2016, pelayanan kesehatan yang ditunjukkan Pemkot Depok mulai ada peningkatan.

Meski pun masih saja ada hal yang terus dibenahi. Seperti proyek pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok, yang ada di Kecamatan Sawangan.

Akhir Desember 2016, Walikota Depok Mohamad Idris mendesak kontraktor agar segera menuntaskan pembangunan gedung baru RSUD Kota Depok.

Hal ini tentunya untuk memaksimalkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Depok. Karena gedung lama sudah tidak lagi bisa menampung pasien dalam jumlah banyak. Artinya, pasien yang datang selalu membeludak.

Selain gedung, fasilitas di RSUD juga menjadi sorotan walikota. Ia meminta agar seluruh fasilitas alat kesehatan (alkes) segera di tingkatkan. Bahkan, akan dilakukan pengujian berbagai alkes untuk memastikan keamanannya.

Pemkot juga akan memaksimalkan ruangan bagi pasien yang akan melahirkan. Menurut data, pasien yang datang ke RSUD setiap harinya bisa mencapai 400 sampai 500 orang, yang menjalani rawat jalan dan rawat inap. Dengan adanya gedung baru, pelayanan kesehatan RSUD Depok diyakini bisa lebih maksimal.

“Ruang rawat inap nanti nambah ‎71 satu, jadi 140 lebih,” ungkap Idris kepada wartawan, beberapa waktu lalu.

Dari informasi yang dihimpun, pembangunan gedung baru RSUD menelan dana senilai Rp 120 miliar. Pembangunan mulai dilakukan pada Maret 2016.

Selain RSUD, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemkot. Terlebih, belum lama ini RSUD berhasil mendapatkan tiga ISO pelayanan, yaitu manajemen mutu, lingkungan dan keselamatan, serta kesehatan kerja. Tentunya keberhasilan meraih tiga ISO itu menambah motivasi serta semanggat seluruh jajaran di RSUD Kota Depok untuk memberikan pelayanan yang terbaik ke masyarakat khususnya dalam kegiatan kesehatan yang dibutuhkan.

Ke tiga Iso yang diperoleh setelah tim melakukan uadir sekitar akhir Nopember 2016 lalu yang pertama adalah ISO 9001:2008 tentang sistem manajemen mutu, ke dua ISO 14001:2004 tentang sistem manajemen lingkungan dank e tiga ISO 18001:2007 tentang sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Sorotan lain di bidang kesehatan yaitu, pemahaman akan pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif kepada bayi usia 0-2 tahun oleh para ibu di Kota Depok.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, terdapat peningkatan jumlah ibu yang menyusui dan memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya.

Pada tahun 2016 dari data Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) rumah tangga terdapat 61,36 persen ibu di Kota Depok yang menyusui dan memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya.

Angka ini mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 53,07 persen. Data tersebut, lanjut dia, dilakukan dengan mendatangi langsung ke rumah tangga rumah tangga se-Kota Depok sehingga didapati data yang valid langsung dari para ibu yang memberikan ASI eksklusif.

“Tahun 2016 ini sosialisasi yang kami lakukan memang terbilang gencar jika dibandingkan tahun lalu. Kami menggelar Breastfeeding Fair pada bulan Agustus 2016.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan dalam upaya kami menyosialisasikan pemberian ASI eksklusif kepada bayi,” ujar Pelaksana Seksi Promosi Kesehatan Dinkes Kota Depok, Nadirah, dalam kegiatan Seminar ASI Eksklusif dan Pemberian MPASI kepada bayi di Hotel Bumi Wiyata, beberapa waktu lalu.

Sorotan lainnya, tentang kasus gizi buruk. Sepanjang 2015, angka status gizi anak di Indonesia terus membaik. Angka gizi buruk pada anak setiap tahunnya diketahui menurun.

Berdasarkan data dari pelaksanaan Pemantauan Status Gizi (PSG) yang merupakan sumber informasi akurat dan berkelanjutan terkait status gizi penduduk di Tanah Air.

Tahun lalu, PSG telah dilakukan di seluruh Kabupaten dan Kota di Indonesia, yang melibatkan 496 Kabupaten/Kotamadya dan meliputi sekira 165 ribu balita. PSG 2015 menunjukkan hasil yang lebih baik ketimbang tahun sebelumnya.

Presentase balita dengan gizi buruk dari 4,7 persen balita gizi buruk pada 2014, tahun 2015 presentase balita gizi buruk 3,8 persen.

Diketahui 496 Kabupaten dan Kota yang dianalisis, sebanyak 404 Kabupaten atau Kota mempunyai permasalahan gizi yang bersifat akut-kronis. Di antaranya 20 Kab/Kota memiliki masalah gizi kronis, 63 Kab/Kota bersifat akut dan 9 Kab/Kota tidak ditemukan permasalahan gizi.

Sembilan Kab/Kota yang tidak ditemukan masalah gizi tersebut diantaranya; Kab. Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, Kab. Mukomuko, Bengkulu, Kota Bengkulu, Kab. Belitung Timur, Bangka Belitung, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kota Tabanan, Bali, Kota Tomohon, Sulawesi Utara dan Kota Depok, Jawa Barat. (gun/net)