ADE/RADAR DEPOK KOMPAK: Seluruh Relawan Baca Buku Taman (RBBT) berfoto bersama. RBBT merupakan komunitas yang memperjuangkan budaya membaca pada generasi muda di depok agar terus meningkat.
yamaha-nmax
KOMPAK: Seluruh Relawan Baca Buku Taman (RBBT) berfoto bersama. RBBT merupakan komunitas yang memperjuangkan budaya membaca pada generasi muda di depok agar terus meningkat. Foto: Ade/Radar Depok

LAPORAN : ADE RIDWAN YANDWIPUTRA

Mengenal Komunitas Peduli Literasi (Habis)

Membaca jendela dunia, banyak membaca banyak tahu. Biasa membaca tidak canggung dunia, wawasan luas ilmu pun bertambah. Budayakan membaca, karena banyak hal baru yang akan ditemui dari membaca.

Membaca buku-buku yang baik, berarti memberi makanan rohani, sedikit kutipan yang dilontarkan oleh Buya Hamka tersebut menjadi pedoman para Relawan Baca Buku Taman (RBBT). Bermodal kemauan dan tekad para relawan ini memiliki mimpi yang indah yakni generasi yang pintar karena banyak membaca.

Wahidah dan teman-teman sangat kecewa dengan budaya anak-anak sekarang yang jauh dengan buku. Menurut Wahidah, kalau anak sekarang kalau disuruh pilih gadget atau buku, bisa dijamin pasti jawabannya gadget. “Ternyata daya tarik gadget lebih menggoda anak zaman sekarang dibanding buku, kondisi itu membuat saya mengeluskan dada,” ujarnya.

Berangkat dari situ, Wahidah bertekad untuk terus melakukan berbagai cara agar perilaku budaya memabca dapat merasuk dalam jiwa generasi sekarang. “Makanya buku-buku disini kami hadir kan buku yang mudah dibaca, tujuannya nimbulin kebiasaan membaca dulu,” lanjut Wahidah.

Sementara itu, anggota lain Karisma menuturkan, dengan hadirnya RBBT ini harapannya kedepan masayarakat bisa gemar membaca lagi khususnya lewat buku. “intinya virus cinta literasi harus tersebar luaskan, khususnya di sekitaran lembah gurame,” tutur perempuan yang juga ikut organisasi Karang Taruna.

Kemudian Karisma menambahkan, semoga disetiap taman dapat dibangun juga perpus-perpus serupa seperti yang dilakukan oleh RBBT. “Apalagi difaslitasin, seperti disediakan rak buku, saung dsb,” lanjutnya.

Perilaku membaca buku sepertinya sudah menjadi kebiasaan para relawan RBBT, seperti Lina. Menurut Lina membaca buku lebih menarik daripada membaca dari gadget atau digital. “Soalnya kalau baca di gadget nggak bisa ditandai kalau mau istirtahat baca, kalau buku kan bisa dilipat atau diberi tanda,” katanya.

Selain itu, membaca buku juga dapat bertahan lama ketimbang baca gadget. “Kalau baca lewat gadget cepat pusing, mungkin efek layarnya,” tutup Lina. (*)