BERDUKA : Teman-teman sekolah Nadia Syifa Muzdalifah (16) korban terbakarnya kapal motor Zahro Ekspres, saat menaburkan bunga di makamnya. Para temannya tersebut merasa kehilangan atas kepergian Nadia. Foto : ADE/RADAR DEPOK
yamaha-nmax
BERDUKA : Teman-teman sekolah Nadia Syifa Muzdalifah (16) korban terbakarnya kapal motor Zahro Ekspres, saat menaburkan bunga di makamnya. Para temannya tersebut merasa kehilangan atas kepergian Nadia. Foto : ADE/RADAR DEPOK

DEPOK–Isak tangis menyelimuti saat peti jenazah atas nama Nadia Syifa Muzdalifah (16) diturunkan, di tempat pemakaman umum (TPU) Bambon, Kelurahan Beji Timur, Beji kemarin.

Ratusan sejawat almarhum yang masih mengenakan seragam batik cokelat khas SMAN 6 Tangerang Selatan, tak bis menahan kepergian Syifa yang dikenal periang.

Teman sekelas Syifa, Aulia (16) mengatakan, sangat kehilangan sosok teman yang sangat dibanggakannya. Syifa orangnya periang, tidak pernah marah, apalagi murung.

“Kami sangat terhibur dengan canda tawanya kalau dikelas,” ungkapnya diiringi tangis mengenang Syifa kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Aulia menambahkan, selain periang sosok almarhumah juga terbilang aktif dan pintar, tak jarang para teman-temannya pun belajar bersama.  “Terakhir ketemu pas UAS, waktu itu kami belajar bersama di rumah salah satu teman, dan itu kenangan terakhir kita,” ucapnya usai prosesi penguburan.

Selain Aulia, seorang teman dekat Syifa, Nabilah pun merasa sangat kehilangan. Dia mengaku, Syifa selalu bercerita pada dirinya kalau hendak pergi ke Pulau Tidung.

“Sudah lama memang dia (almarhumah) bercerita sama saya kalau ingin sekali pergi ke Pulau Tidung, dan dia selalu mengucapkan itu berulangkali,” ungkapnya lirih.

Nadia Syifa Muzdalifah (16) merupakan korban terakhir di keluarga M. Nurdin pada peristiwa KM Zahro Ekspres yang terbakar pekan lalu. Sebelumnya ayahnya M. Nurdin dan adiknya  Nazwa Syarla (12) telah dimakamkan. Sementara, istri M Nurdin,  Hafsari dan anak bontotnya Rifa Rizkiawan (7).

Salah seorang kerabat M. Nurdin, Ishaaq mengatakan, pengelola KM Zahro Ekspress harus bertanggungjawab terhadap keluarga yang menjadi korban kapal terbakar tersebut.

“Apalagi saya dengar KM Zahro mengangkut penumpang melebihi kapasitas, berarti ini kan menyalahi aturan,” ungkapnya.

Ishaaq sempat menceritakan kondisi anggota keluarganya yang lain yakni Hafsari (42) yang hingga kini masih mendapatkan perawatan intensif.

“Doanya aja yang terbaik buat adik saya (Hafsari) kondisinya sudah mulai membaik namun masih dirawat,” ungkapnya.(ade)