PELATIHAN: Pengawas SMP, Sri Juryani dan Agus Purwanto yang menjadi narasumber dalam kegiatan workshop berfoto bersama dengan Pendiri Yayasan Nurussalam Buya H Effendi Muhajir dan beberapa guru dan pengurus yayasan. Foto : SMP Nurussalam For Radar Depok
yamaha-nmax

 

PELATIHAN: Pengawas SMP, Sri Juryani dan Agus Purwanto yang menjadi narasumber dalam kegiatan workshop berfoto bersama dengan Pendiri Yayasan Nurussalam Buya H Effendi Muhajir dan beberapa guru dan pengurus yayasan. Foto : SMP Nurussalam For Radar Depok

SAWANGAN – Sekarang ini berbagai macam sistem pendidikan telah digulirkan di berbagai belahan dunia. Tetapi ada satu sistem pendidikan yang tetap eksis di Indonesia sejak zaman sebelum kemerdekaan, yakni sistem pendidikan pesantren.

Oleh karena itu, SMP Nurussalam di Jalan Madrasah, RT01/05, Kp. Panggulan, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan juga menerapkan sistem pendidikan tersebut.

Ketua Yayasan Nurussalam, Effi Rianti mengatakan, tetapi dalam penerapannya dikolaborasikan dengan Kurikulum Nasional. Jadi, semua hal yang baik untuk pendidikan, diberikan kepada santrinya. Tetapi, tentu saja tanpa meninggalkan pokok dan pakem dari tiap kurikulumnya.

“Pesantren harus muncul, bukan hanya sebagai penghias, tetapi menjadi garda terdepan di dalam menentukan arah dan warna pendidikan. Apalagi Indonesia adalah negara Muslim dengan jumlah penduduk mayoritas muslim,” ucapnya kepada Radar Depok usai kegiatan Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran di SMP Nurussalam.

Effi menuturkan, Kurikulum Nasional dengan perangkat pembelajaran dan kelengkapan administrasinya yang selalu diperbaharui, adalah modal yang sangat baik unhtuk membangun karakter peserta didik.

Karena, pendidikan adalah sesuatu yang bersifat dinamis dan ada penyesuaian zamannya. Sedangkan untuk Kurikulum Pesantren, untuk menerjemahkan Al quran ke dalam berbagai bidang keilmuan. Sebagai, bahan pembentuk mental, karakter dan keilmuan peserta didik.

“Nurussalam mengkolaborasikan keduanya. 100 persen umum dan agama dengan komposisi seimbang dan saling terintegrasi. Tidak hanya jam pelajarannya saja, tetapi bahkan sampai ke dalam muatan pelajarannya.

Belajar di sekolah bukan hanya sekedar mengejar nilai dan ijazah. Belajar di pesantren bukan hanya mengaji Qur’an,” katanya. (peb)