RITUAL SAKRAL: Yenny memasang mahkota pada patung dewa Thian Siang Seng Ro atau Mak Co di Kelenteng Tjong Hok Kiong (Chandra Satwika/Jawa Pos/JawaPos.com)
yamaha-nmax
RITUAL SAKRAL: Yenny memasang mahkota pada patung dewa Thian Siang Seng Ro atau Mak Co di Kelenteng Tjong Hok Kiong. (Chandra Satwika/Jawa Pos/JawaPos.com)

Mengikuti Prosesi Menjelang Imlek di Kelenteng Tjong Hok Kiong

Persiapan mulai dilakukan warga Tionghoa untuk menyambut perayaan Tahun Baru Imlek. Kesan sakral terlihat saat momen pembersihan rupang (patung) dewa-dewa untuk penghantaran kembali ke puncak nirwana. Salah satunya, memberikan jubah agung.

Laporan: RESVIA AFRILENE, Jawa Pos

PEMBERSIHAN dan penggantian pakaian rupang (patung) dewa-dewa di tempat peribadatan tak bisa sembarangan. Banyak aturan sakral yang wajib dilakoni. Saat menurunkan patung dewa, posisi tempat harus sejajar dengan tempat berdiri manusia. Menghormatinya sudah tentu harus dilakukan. Setiap prosesi, doa terus mengalir.

Itulah yang dilakukan Yenny akhir pekan(22/1). Dengan sangat hati-hati, dia mengelap patung dewa laut Thian Siang Seng Ro atau yang lebih dikenal dengan Mak Co. Patung tersebut menjadi dewa tuan rumah di Kelenteng Tjong Hok Kiong.

Yenny, salah seorang umat di Kelenteng Tjong Hok Kiong, memutuskan menjadi donatur baju kebesaran Mak Cotahun ini. Dia berharap doa yang dipanjatkannya lebih sakral dan terkabul. Kemarin,sepaket jubah itu masih tampak gres. Baru dan belum tersentuh.

Sebelum Yenny datang, jubah agung tersebut ditata rapi dalam kotak kaca di kantor Kelenteng Tjong Hok Kiong. Sama dengan Mak Co yang dipercaya membawa rezeki, Tjong Hok Kiong diartikan sebagai tempat peribadatan yang membawa rezeki. ’’Doa di sini manjur. Yakin sama Mak Co, kalau nggak yakin ya nggak bisa memberikan pengaruh,” ujarnya sembari memegang kotak berisi jubah itu.

Tak hanya memberikan satu paket busana dan jubah untuk Mak Co, Yenny memesan mahkota agung untuk disematkan pada rupang dewa tersebut selama satu tahun kedepan. Mahkota itu terlihat sangat megah. Bentuknya seperti mahkota zaman kekaisaran Tiongkok yang dipenuhiornamen-ornamen emas serta khas dengan manik-manik merah yang berjajar layaknya rumbai untuk menyamarkan wajah sang dewa yang diagungkan.

’’Ini aku pesan langsung dari Taiwan,” ujar Yenny. Dia mengaku tak mau tanggung-tanggung dalam memberikan jubah agung. ’’Saya cari yang benar-benar bagus,” imbuhnya.

Sebelum datang sekitar pukul 10.00 kemarin, Yenny melakukan sembahyang di altar utama. Dia pun mulai melepas busana Mak Co yang sudah dipakai selama setahun. Jubah tersebut tampak kotor dan lusuh. Warna merah menyala berubah jadi cokelat karena debu tebal yang menempel.

Perlahan, Yenny naik ke meja altar utama. Sebelum memegang patung Mak Co, Yenny menangkupkan kedua telapak tangannya, lalu menunduk dan menyembah beberapa kali. Kemudian, tangannya disucikan dengan bergerak-gerak di atas asap dupa.

Proses pun dimulai. Yenny mengelap seluruh bagian tubuh patung Mak Co dengan lap basah. Lekuk demi lekuk tak terlewatkan supaya Mak Co benar-benar terlihat bersih saat sembahyang pada malam pergantian tahun. Setelah beberapa lama, rupang sang dewa laut kering. Yenny memulai prosesi dengan memasangkan jubah agung. Warnanya merah menyala dengan sentuhan payet bening di seluruh bagian. Di beberapa sisi, tampak ornamen naga dan bunga merekah sebagai penghias. Dengan hati-hati, Yenny memasangkannya.

Dia lalu beranjak ke bagian mahkota. Setelah menata hiasan-hiasan di mahkota agar terlihat megah, Yenny meletakkannya di kepala Mak Co. Sekali lagi, Yenny melakukannya dengan berhati-hati. Bahkan, dia menjaga duduknya di atas altar dengan tenang. Peluh bercucuran di pelipisnya.

“Aduh!” celetuknya tiba-tiba. Ternyata, mahkota agung untuk sang dewa melorot. Diperlukan kawat tambahan untuk menopang bagian depan mahkota yang dipenuhi ornamen klasik Tiongkok tersebut.

Dengan sigap, Yenny memegangi mahkota itu, lalu menambahkan kawat yang dipasangkannya dari kedua sisi. Setelah bersusah payah 10 menit, mahkota agung dewa laut Thian Siang Seng Ro terpasang. Tampak megah dan penuh wibawa.

Kelenteng yang berdiri sejak 154 tahun tersebut memang mengalami renovasi besar di lantai bawah. Namun, tidak berarti bahwa proses ibadat mandek.

Seluruh prosesi menjelang perayaan Sincia atau Tahun Baru Imlek bakal dipusatkan di lantai 2. Kepala Seksi Perlengkapan Kelenteng Tjong Hok Kiong Ong Tatik Mulyani menyatakan, banyak umat yang mengetahuibahwa kegiatan dialihkan ke lantai 2 sejak Desember tahun lalu. Karena itu, banyak yang berkunjung dan memberikan perlengkapan menjelang sembahyang song shen pada 27 Januari mendatang.

Di dalam kantor, Ong Tatik menyiapkan aneka manisan khas Imlek ke dalam stoples khusus yang ditempeli beragam huruf kanji Tiongkok. Intinya adalah persembahan yang bakal membawa rezeki. Tidak hanya menyajikan seluruh pernak-pernik, atribut pelengkap saat sembahyang begitu diperhatikan. (*/c18/dio/sep/JPG)