Febrina/Radar Depok MENJELASKAN : Ketua LPM Kelurahan Abadijaya, Antoni Sarumaha bersama Ketua RW02, Nana Mulyana dan Tokoh Masyarakat Kelurahan Abadijaya, Nisin Suaib menceritakan sejarah puluhan tahun silam.
yamaha-nmax
MENJELASKAN : Ketua LPM Kelurahan Abadijaya, Antoni Sarumaha bersama Ketua RW02, Nana Mulyana dan Tokoh Masyarakat Kelurahan Abadijaya, Nisin Suaib menceritakan sejarah puluhan tahun silam. Foto: Febrina/Radar Depok

Mengupas Sejarah Nama-nama Kelurahan di Depok (105)
Menurut cerita terdahulu, di wilayah Kelurahan Abadijaya memiliki mata air yang banyak digunakan untuk pengobatan. Mata airnya berada di Cipayung Rawa Kapal, airnya tidak mengalir kedepan akan tetapi kearah sebaliknya.

Laporan : FEBRINA, Radar Depok

Mata air yang berada di Cipayung Rawa Kapal terbilang memiliki histori tersendiri. Selain dijadikan obat, ada juga cerita mistis didalamnya. Saat itu, ada penunggu air berupa ular besar, besarnya seperti pohon kelapa. Dan setiap ada orang yang melakukan perkataan dan perbuatan kotor maka akan celaka.

Pasalnya, mata air itu acap kali dijadikan tempat orang beribadah menggunakan alas tikar persis disamping mata air. Mata air dijadikan sebagai tempat berwudhu dan beberapa warga biasanya melaksanakan salat didekat mata air tersebut.

Malah, setiap Maulid, masyarakat sekitar banyak yang mandi kesana. Tanah seluas 20×25 meter menampung air dan mengambang, akan tetapi jika ada orang yang melihat maka air akan berhenti.

“Memang banyak orang yang mengambil airnya untuk obat, ada banyak cerita dari mata air, mulai yang mistis sampai agamais,” ujar Tokoh Masyarakat Kelurahan Abadijaya, Nisin Suaib.

Pria berusia 81 tahun ini menambahkan, selain mata air, di Abadijaya juga memiliki Situ bernama Ciming. Situ yang pada jaman Belanda diledakan itu, ternyata tidak mampu menutup genangan air diatas situ. Bahkan, sampai saat ini situ yang dibuat perumahan itu kerap mengeluarkan air saat hujan tinggi dan menyebabkan banjir.

Mantan Ketua RW, Namin (75) menambahkan, di Cipayung Tengah dahulunya masyarakat sekitar merupakan tukang pagar bambu. Biasanya pagar bambu hasil buatan sendiri langsung dijajakan.

Ada yang berkeliling dikampung sekitar, bahkan ada yang sampai ke Jakarta. “Kalau disini dulu banyak tukang pagar bambu,” tandas Namin.(bersambung)