Ilustrasi Grafis: Radar Depok
yamaha-nmax
Ilustrasi Grafis: Radar Depok

RADAR DEPOK.COM – Dunia pendidikan di Kota Depok kembali disejukan dengan kabar uang perpisahan alias study tour sebesar Rp1.875.000. Kemarin, beres mengambil raport kelas XII sejumlah orang tua (Ortua) siswa SMKN 2, dikaget dengan penetapan acara perpisahan antara Bromo dan Yogyakarta. Berdasarkan curhatan di akun facebook (FB) Yulianti Suharto, orang tua tidak boleh bersuara dalam forum rapat.

Yulianti menjelaskan, habis rapat khusus kelas XII dan pengambilan raport langsung membahas persiapan UAN dan acara perpisahan. Ternyata untuk acara perpisahan sudah ditetapkan ke Yogyakarta dengan biaya Rp1.875.000. Pihak sekolah memberikan dua pilihan ke Bromo atau Yogyakarta, dan anak-anak kelas XII pun banyak yang milih ke Yogyakarta.

Masih dalam curhatannya Yulianti, dalam rapat banyak orang tua murid yang keberatan. Dan dia protes keras, tapi tidak boleh. Kalau keberatan bilang dengan wali kelas pada saat pengambilan raport.

“Saya pun bicara dengan wali kelas, wali kelas tidak bisa apa-apa dan menyarankan untuk berbicara ke bagian kurikulum. Saya sudah malas,” katanya tegas dalam akun.

Menurutnya, itu rapat sepihak, orang tua tidak boleh bersuara di dalam forum rapat. Seharusnya di dalam rapat ditanya persetujuan orang tua murid setuju apa tidak. Bagaimana ini pihak Diknas Depok?.

Akun FB lainnya, Arfin Susanti membenarkan ada cara perpisahan ke Yogyakarta. Dicurhatannya dia mengaku sudah memberi pengertian, mending tidak usah ikut, mahal. Belum buat uang jajan. Tapi anak sekaran gimana mau mengerti keadaan orangtuanya.

Menimpali masalah ini, Kepala SMK Negeri 2 Depok, Tatang Komarudin mengatakan, secara tegas perpisahan yang direncanakan ke Yogjakarta untuk kelas XII, merupakan hasil angket dan permintaan siswa. Dalam hasil rapat tersebut telah disepakati biaya kegiatan tersebut sebesar Rp1.850.000, dan sudah melalui hasil rapat bersama.

“Bahkan, hal itu tidak diwajibkan, bagi yang merasa mampu boleh mengikuti, sedangkan yang tidak mampu tidak dipaksakan,” ujar Tatang kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Tatang mengungkapkan, bagi yang merasa keberatan dan ada kabar bahwa kegiatan perpisahan merupakan kegiatan wajib. Secara tegas dia menolak dan tidak membenarkan hal itu. Bahkan, sebelum merencanakan kegiatan pihaknya telah melaksanakan rapat dengan wali murid.

“Saya menjamin, kegiatan perpisahan tidak ada unsur wajib. Namun, bagi yang mampu mengikuti kami mempersilahkan,” ucap Tatang. (dic/hmi)