LAPORKAN: Salah seorang nasabah, Diana Ambarsari bersama suami usai membuat laporan di Polresta Depok, terkait dengan investasi Pandawa Mandiri Group, kemarin. Foto : Dicky/Radar Depok
LAPORKAN: Salah seorang nasabah,  Diana Ambarsari bersama suami usai membuat laporan di Polresta Depok, terkait dengan investasi Pandawa Mandiri Group, kemarin. Foto : Dicky/Radar Depok

RADAR DEPOK.COM-Kenapa nasabah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group (PMG) jumlahnya ribuan jiwa, dan nilai invetasinya bisa teriliunan. Satgas Waspada Investasi dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menduga, investasi yang dipimpin Salam Nuryanto ini menggunakan skema Ponzi.

Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L Tobing menjelaskan, modus investasi yang dijalankan Pandawa menggunkan skema Ponzi. Ponzi merupakan investasi palsu yang membayarkan keuntungan kepada investor dari uang sendiri. Atau uang yang dibayarkan oleh investor berikutnya. Ini bukan dari keuntungan yang diperoleh oleh individu atau organisasi yang menjalankan operasi ini.

Skema Ponzi biasanya, kata Tongam membujuk investor baru dengan menawarkan keuntungan yang lebih tinggi, dibandingkan investasi lain. Dalam jangka pendek dengan tingkat pengembalian yang terlalu tinggi atau luar biasa konsisten, maka siapa saja akan tergiur.

Kelangsungan dari pengembalian yang tinggi tersebut membutuhkan aliran yang terus meningkat, dari uang yang didapat dari investor baru untuk menjaga skema ini terus berjalan. “Ada dugaan skema Ponzi.

Karena mereka mendapatkan bonus jika mereka melampaui target tertentu,” terangnya hanya kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Baca Juga  Kegiatan Polresta Depok Kolaborasi dengan Wartawan

Pria yang juga menjabat Direktur Kebijakan dan Dukungan Peyidikan menegaskan, jika nanti 1 Februari Nuryanto dan Cs tidak mengembalikan uang nasabah. Maka, harus bertanggungjawab secara hukum. “Putusan pejara akan diketuk saat putusan pengadilan,” tegasnya.

Pantauan Radar Depok di Perumahan Palem Ganda Asri (PGA) Kelurahan Meruyung, Limo Depok masih terus didatangi nasabah dari berbagai daerah. Malah, pagi kemarin sebanyak delapan nasabah laporkan Pandawa Group dengan nilai kerugian nasabah mencapai Rp8 miliar.

Pasangan pasutri asal Kecamatan Sawangan, Diana Ambarsari dan Nanang Bahtiar mengatakan, pihaknya membuat laporan terhadap Pandawa Mandiri Group dikarenakan tidak ada kepastian dari pihak Pandawa. “Kami ingin ada kepastian, namun pihak leader Pandawa tidak dapat memberikan kepastian, sehingga kami membuat laporan,” ujar Diana.

Diana menjelaskan, telah menginvestasikan uang sebesar Rp289 juta di Pandawa sejak Februari 2016, namun penyetoran investasi tidak secara menyeluruh dengan cara dicicil perbulan. Diana sudah berkoordinasi dengan leader Pandawa guna menarik uangnya. Namun, saat menarik pada awal Desember, dia diminta leader guna menahan terlebih dahulu dengan dalih ada penataan administratif sehingga tidak ada transaksi apapun.

Baca Juga  10 Tahanan jadi Tersangka Kematian Ulis

Namun, lanjut Diana dia sudah mulai curiga dikarenakan tidak ada info terhadap permasalahan di Pandawa. Bahkan, saat Pandawa di periksa OJK, baik dari leader maupun Pandawa Mandiri Group tidak memberikan informasi. Sehingga, dia menilai ada penutupan informasi yang dialami Pandawa Mandiri Group. Padahal, dia menginginkan ada informasi aktif dari Pandawa kepada nasabah terhadap baik buruknya Pandawa Mandiri Group, karena menyangkut uang miliknya.

“Karena Rabu (18/1) malam berkomunikasi tidak ada kepastian, dan melempar permasalahan kepada Nuryanto sebagai pemilik. Kami langsung mendatangi Polresta Depok dan membuat laporan,” tegas Diana.

Sementara, Wakapolresta Depok, AKBP Candra Kumara mengatakan, telah menerima laporan dari korban Pandawa Mandiri Group. Polresta Depok secara resmi menerima laporan dari korban pada Rabu (18/1),  dan tujuh orang dijadikan saksi korban. Dari laporan tersebut telah dibuatkan laporan guna dilaksanakan penyelidikan dengan terlebih dahulu berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya.

“Kami memperkirakan ada seribu nasabah yang menjadi korban, dan perhitungan kasar kami mencapai delapan milyar,” ujar Candra kepada Radar Depok, kemarin.

Baca Juga  Pencuri Viral Dibekuk Polisi

Candra menjelaskan, seribu nasabah tersebut berasal dari dalam dan luar Kota Depok. Guna menindaklanjuti laporan korban, akan berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya, karena Pandawa Mandiri Group ditangani OJK, Bareskrim, Polda Metro Jaya, dan Polresta Depok.

Dari keterangan korban Pandawa, sambung Candra Pandawa Mandiri Group setelah sebelumnya menjalani perjanjian terhadap korban, korban akan keuntungan 10 persen sesuai jatuh tempo ditiap bulannya. Namun, setelah jatuh tempo Pandawa Mandiri Group tidak membayarkan dan meminta korban guna menunggu pembayaran bunga 10 persen.

Dikarenakan lama menunggu hingga beberapa bulan, korban melaporkan ke Polresta Depok. “Kami masih mendalami tindak pidana. Namun kami menyakini bahwa ada unsur pidana yaitu pasal 378 dan 379 tentang penggelapan dan penipuan,” terang Candra.

Candra mengungkapkan, terkait pemilik Pandawa melarikan diri, Polresta Depok akan menelusuri. Memang, ada beberapa masyarakat yang menjadi nasabah telah mendatangi kantor Pandawa Mandiri Group di daerah Kecamatan Limo, hingga ada yang menginap disana. Namun, beberapa pemilik dan pengurus tidak berada disana. “Kami akan terus menelusuri pemilik dan leader Pandawa Mandiri Group,” ucap Candra.(dic/ade)