ADE/RADAR DEPOK BELUM ADA IZINNYA NIH: Kendati ilegal, aktivitas pengurukan lahan di lingkungan RT02/01 Kelurahan Jatimulya, Cilodong, masih berjalan.
yamaha-nmax
BELUM ADA IZINNYA NIH: Kendati ilegal, aktivitas pengurukan lahan di lingkungan RT02/01 Kelurahan Jatimulya, Cilodong, masih berjalan. Foto: Ade/Radar Depok

RADAR DEPOK.COM – Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Depok, Manto, angkat bicara perihal aktivitas pengurukan lahan di lingkungan RT02/01, Kelurahan Jatimulya, Cilodong.

Manto menegaskan jika lahan seluas kurang lebih 1 hektar tersebut merupakan jalur hijau dan tidak boleh didirikan bangunan.

“Itu lahan tidak boleh dibangun, karena ruang terbuka hijau (RTH),” tegas Manto kepada Radar Depok.

Sebelum nantinya bangunan berdiri, Manto akan turun ke lapangan guna memastikan lahan yang rencananya akan dibangun pesantren dan masjid tersebut adalah lahan hijau.

“Dalam waktu dekat kami akan cek lapangan,” katanya.

Mengenai izin yang belum diurus, Manto mengatakan itu merupakan kewenangan Satpol PP untuk memberikan peringatan ke pemilik lahan.

“Bila belum urus izin maka Satpol PP bisa menghentikan kegiatan (pengurukan) tersebut,” lanjut Manto.

Dikonfirmasi terpisah, Kasat Pol PP Kota Depok, Dudi Miraz Imaduddin, mengaku belum mendapat laporan adanya aktivitas pengurukan lahan di Jatimulya. “Biar nanti saya cek dulu,” katanya singkat.

Diberitakan sebelumnya, aktivitas pengurukan lahan yang saat ini sedang berjalan di Kelurahan Jatimulya ditengarai belum mengantongi izin warga. Terutama warga yang tinggal di dekat lokasi pengurukan.

Bahkan, pihak kelurahan dan kecamatan seolah tak dipandang si pemilik lahan yang merupakan seorang habib asal Jakarta.

“Saya belum ketemu sama pemilik lahannya. Tapi saya sudah imbau kepada ketua RW dan RT agar memperingatkan pemiliknya untuk segera mengurus izinnya,” kata Lurah Jatimulya, Nyoman Budiarsa, Senin (9/1).

Ketua RW01, Sapri, menyatakan, pemilik lahan hanya meletakkan puing dan tanah hibah.

“Katanya sih dapat hibah 70 tronton truk. Daripada sayang, mending dititipin dulu di lahan tersebut sembari mengurus izinnya,” kata Sapri, menirukan ucapan pemilik lahan. (ade)