Ilustrasi/Grafis
yamaha-nmax
Ilustrasi/Grafis

RADAR DEPOK.COM – Subdit Cyber Crime Polda Metro Jaya resmi menetapakan Dosen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, Ade Armando, sebagai tersangka kasus pelanggaran ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik). Status itu dibuat Ade memelui media sosial (Medsos) Facebook-Twitter pada tanggal 20 Mei 2015.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, sebelumnya Ade juga dilaporkan Johan Khan pada 2016 lalu. Johan saat itu mempermasalahkan cuitan Ade di akun facebook dan Twitter @adearmando1.

“Yang bersangkutan menulis ‘Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayatNya dibaca dengan gaya Minang, Ambon, Cina, Hiphon, Blues’,” terang Argo saat dikonfirmasi, Rabu (25/1).

Adapun status itu dibuat Ade pada tanggal 20 Mei 2015. Pelapor sempat meminta Ade untuk meminta maaf dengan membalas akun Twitternya. Tetapi Ade tidak meminta maaf.

Ade sempat menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya pada Juni lalu. Kepada awak media, yang bersangkutan mengakui bahwa tulisannya di akun media sosial, bukan semata-mata menghina.

“Itu status di facebook saya 20 Mei 2015, di situ saya mengatakan Tuhan bukan orang Arab, Tuhan pasti senang kalau ayat-ayatnya dibaca dengan langgam Minang, Sumatera dan seterusnya. Itu kaitannya dengan rencana Menag, Lukman Hakim, saat itu dia¬†berniat membacakan festival dengan langgam Nusantara waktu itu sudah ada contoh,” ujar Ade saat diperiksa di Polda Metro Jaya¬†pada Kamis, 26 Juni 2016 lalu.

Menanggapi hal tersebut, Ade Armando mengaku sudah mendengar kabar status tersangkanya dan menghormati proses hukum.

“Saya tentu menghormati proses hukum, tetapi saya tetap heran mengapa kata-kata saya bahwa ‘Tuhan bukan orang Arab’ dianggap layak dianggap sebagai penodaan agama,” ujar Ade.

Ade menduga ada pihak yang sengaja mendesak polisi karena sikap politiknya yang kritis terhadap gerakan-gerakan yang berusaha memecah-belah bangsa, dengan menggunakan alasan agama dan ras.

“Orang yang mengadukan saya ini bekerja di sebuah perusahaan yang bisa Anda pelajari, siapa pemiliknya, dan apa hubungannya dengan gerakan-gerakan politik saat ini,” kata dia.

Ade Armando juga menduga pihak pengadu berharap dirinya dapat dibungkam dengan cara ini.

“Tapi dia akan kecewa. Kesatuan bangsa ini terlalu penting untuk dibiarkan dihancurkan dengan cara seperti ini,” ungkapnya.

Ade Armando justru secara tegas menunjukkan Tuhan sama sekali tidak bisa disamakan dengan manusia, termasuk manusia Arab. “Karena Tuhan Maha Besar, Maha Pengasih, maka Dia pasti tidak keberatan kalau ayat-ayat Alquran dibaca dengan cara beragam, sesuai kebudayaan masing-masing.”

“Dan tidak hanya dengan satu langgam saja,” dia melanjutkan.

Karena itu, Ade mengaku dirinya tidak bersalah atas pernyataannya itu, apalagi harus meminta maaf kepada pihak tertentu. Argo menjelaskan, pelapor mempermasalahkan unggahan Ade Armando yang menyebut ayat Alquran dapat dibaca dengan gaya apa saja. Ade Armando juga menyebut Allah bukan orang Arab.

“Saya juga menduga bahwa kasus ini ditindaklanjuti saat ini, setelah dua tahun, karena adanya desakan pihak yang mengadukan saya dua tahun lalu,” tegasnya.

Terpisah, Dekan FISIP UI Arie Soesilo mengatakan, pihaknya menyerahkan kasus tersebut kepada aparat penegak hukum.”Kami menghormati proses hukum yang berjalan & percaya Pak Ade sebagai WNI akan mengikuti proses hukum yang berjalan,” tutupnya.(JPG/ina/hmi)