SIDANG KELIMA: Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hadir dalam persidangan dugaan penistaan agama di Auditorium Kementrian Pertanian Jakarta Selatan, Selasa (10/1).
yamaha-nmax
SIDANG KELIMA: Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hadir dalam persidangan dugaan penistaan agama di Auditorium Kementrian Pertanian Jakarta Selatan, Selasa (10/1).

RADAR DEPOK.COM – Pedri Kasman, salah seorang saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang kelima dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sempat bersitegang dengan tim penasehat hukum.

Pedri mengaku pertanyaan tim penasehat hukum Ahok terlalu berbelit-belit. “Jangan berbelit-belit, di sini saya cuma fokus pada kata ‘jangan mau dibohongi pakai Surat Al-Maidah’ yang disampaikan terdakwa,” kata Pedri di persidangan, Selasa (10/1).

Sebelumnya, tim penasihat hukum terdakwa Ahok memang sempat mempersoalkan penggalan 13 detik rekaman video pidato kliennya di Kepuluan Seribu bulan September 2016 lalu yang dijadikan sebagai dasar laporan Pedri ke Polisi.

“Kenapa saudara hanya melihat penggalan video tersebut? Apakah kalimat yang saudara persoalkan bisa berdiri sendiri tanpa melihat tayangan keseluruhan,” kata salah seorang penasihat hukum Ahok.

Tapi, Pedri keukeuh mengatakan kalau ia hanya perlu fokus pada penggalan video berdurasi 13 detik tersebut. Hal itu, kata dia, dirasa cukup digunakan sebagai kesaksian dalam persidangan.

“Menurut saya, tidak perlu hal itu dipersoalkan. Saya fokus pada rasa tersinggung saya karena pernyataan Ahok yang 13 detik itu,” tegas Pedri.

Sementara itu, saksi dari JPU, Irena Handono mengatakan kalau pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu mencerminkan penistaan agama. Irena menyatakan Ahok tak hanya melakukan hal tersebut sekali, tapi berulang-ulang.

“Dia melakukannya berkali-kali, mengomeli orangtua yang beragama Islam, dia sering marah marah di media, menodakan Alquran, surat Al Maidah di beberapa tempat,” ujar Irena di persidangan.

Irena yang seorang mualaf menyatakan bahwa dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok bukan hanya di Kepulauan Seribu. Ahok, kata Irena juga melakukan hal tersebut di buku berjudul, Merubah Indonesia pada halaman 40.

Ia mengaku juga menonton video di Youtube yang berisi pernyataan Ahok menyinggung banyak orang. Memang ia tak menonton sampai tuntas, tapi ia menilai bahwa itu penistaan agama.

“Saya tidak membaca dan menonton (secara lengkap) tapi teman saya semua bilang Ahok memang menistakan agama,” kata Irena.

Ketika bersaksi di persidangan, Irena sempat menunjuk-nunjuk Ahok. Hal itu pun sempat ditegur majelis hakim. “Tolong ibu jangan tunjuk-tunjuk seperti itu,” ujar majelis hakim menegor Irena.

Terpisah, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mochammad Iriawan membeberkan jangka waktu persidangan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atas dugaan kasus penodaan agama Islam. Menurut dia, persidangan pria yang karib disapa Ahok itu kemungkinan akan berlangsung lama.

Hal itu dikatakannya usai berdiskusi dengan majelis hakim yang kini sedang menggarap Ahok. “Diskusi saya dengan hakim, itu (sidang Ahok) kemungkinan akan panjang. April sampai Mei (akan selesai),” ujarnya.

Lamanya persidangan, sambung dia, bukan tanpa sebab. Pasalnya, jumlah saksi yang bakal dimintai keterangan adalah sebanyak 46 orang. Dengan rata-rata saksi yang diperiksa setiap minggunya hanya sebanyak empat orang, menurutnya, sidang tentu tidak akan berlangsung cepat.

Kendati demikian, Iriawan menjamin bahwa sidang akan tetap dilaksanakan setiap minggunya tanpa absen di hari Selasa. Saat melihat proses persidangan, mantan Kepala Divisi Hukum Polri itu mengaku sangat puas.

Terutama soal pengamanan yang berangsur-angsur membaik dibanding sidang sebelumnya. “Kita bisa melihat massa meski banyak dan berbeda tapi tetap satu,” pungkasnya. (viv/uya/JPG)