Ilustrasi
yamaha-nmax
Ilustrasi

RADAR DEPOK.COM – 1 Februari tinggal menghitung hari. Sejumlah nasabah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group (PMG) atau Pandawa Mandiri sudah ada yang pasrah dengan cara melaporkan ke Polisi. Namun, tak sedikit juga ada yang berharap banyak sebelum 1 Februari uang yang ditanamkannya akan kembali. Dengan berharap-harap tersebut  dinilai psikolog malah akan berakibat stres.

Psikolog Universitas Indonesia (UI), Devi Rahmawati menyatakan, kasus investasi Pandawa bukanlah kasus baru. Umumnya, kasus tersebut akan terungkap apabila sudah terjadi kerugian sudah sangat besar dan sudah cukup lama.

Indonesia dalam catatan kasus bunuh diri cukup rendah, Namun, gangguan kesehatan jiwa didiominasi oleh penyebab lain, salah satunya terlibat dalam kasus investasi yang merugikan masyarakat.

“Artinya nasabah yang terlibat investasi Pandawa berpotensi mengalami stres dan depresi tingkat tinggi,” terang Devi kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Devi menjelaskan, menurut studi yang dilakukan lebih dari 70 negara kepada lebih 100 ribu respondents, seorang ahli dari Belanda memasukan Indonesia bersama negara asia lainnya dan Afrika dalam katagori negara Short Term Society (masyarakat jangka pendek).

Ciri-cirinya masyarakat dalam kategori tersebut lebih memilih jalan instan. Berbagai tawaran yang dapat memberikan kenyamanan dalam waktu singkat akan sangat mudah diterima masyarakat.

Karakter budaya tersebut tidak salah, sambung Devi karena karakter short term society memberikan banyak unggulan. Namun, ketika karakter itu tidak dibarengi dengan pendidikan dan sosialisasi, sisi negatifnya akan mudah terbawa arus tawaran, dan dapat berujung pada kasus Pandawa Mandiri Group.

Pantauan Radar Depok, sejumlah nasabah Pandawa Mandiri Group masih mendatangi kediaman Salman Nuryanto yang berada di perumahan Palem Ganda Asri Kecamatan Limo. Bukan hanya itu saja, kantor KSP Pandawa Mandiri Group telah tutup sementara. Namun di depan pintu utama terpasang pengumuman KSP Pandawa Mandiri Group sedang persiapan Rapat Akhir Tahun Buku 2016, yang akan diselenggarakan pada 27 Januari mendatang.

Seorang anak nasabah Pandawa, Rahmawati mengatakan, semenjak mengetahui investasi Pandawa Mandiri Group belum mengeluarkan kepastian terhadap uang milik ayahnya, mulai mengalami penurunan kesehatan.

Rahmawati menyebutkan, uang yang disimpan ayahnya mencapai Rp250 juta.

“Setelah saya cari tahu, uang tersebut ayah dapatkan dari meminjam kepada bank, dan menjual sepeda motor miliknya,” ujar Rahmawati.

Rahmawati mengungkapkan, setiap bulan selama tiga tahun kedepan ayahnya harus membayar bank sebesar Rp4 juta. Rencananya, ayah akan membayar kewajibannya kepada bank dari hasil bunga yang diberikan Pandawa.

Namun, setelah bunga tidak diberikan menjadi bingung untuk membayarkan kewajibannya tersebut. “Guna mengetahui perkembangan Pandawa dan uang ayahnya, dia harus memantau guna mengetahui sejumlah informasi,” tutupnya.(dic)