Imam Husein/Jawa Pos DIAMANKAN: 32 WNA itu diduga berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK).

 

DIAMANKAN: 32 WNA itu diduga berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK). Foto: Imam Husein/Jawa Pos

RADAR DEPOK.COM – Sebanyak 32 wanita warga negara asing (WNA) ditangkap petugas Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Kamis (12/1). Mereka diduga berprofesi pekerja seks komersial (PSK). Mereka diketahui memasang tarif Rp1,75 juta hingga Rp4 juta kepada pelanggannya.

“Perempuan tersebut berusia antara 21 hingga 38 tahun yang melakukan kegiatan pemandu karaoke dan PSK. Mereka bertarif Rp1,75 juta sampai dengan Rp4 juta,” kata Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kemenkum HAM Yurod Saleh dalam keterangan pers, Jumat (13/1).

Sebelumnya, Direktorat Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian melakukan operasi pengawasan orang asing di tempat-tempat hiburan di Jakarta dan di wilayah Bogor, Jawa Barat. 32 wanita asing itu berlatar belakang berbagai kewarganegaraan.

Di antaranya, lima orang dari Kazakhstan, lima orang dari Uzbekistan, 11 orang dari Vietnam, lima orang asal Maroko, satu orang dari Rusia, dan lima orang dari Tiongkok.

Yurod menjabarkan, dari penangkapan petugas menyita barang bukti berupa 25 buah paspor, uang sebesar Rp5 juta, alat kontrasepsi, handphone, tas, dan dompet berisi kwitansi bukti pembayaran. 32 WNA itu diduga melakukan pelanggaran keimigrasian sebagaimana diatur Pasal 116 dan 122 huruf a Undang-Undang Keimigrasian.

“Saat ini orang asing tersebut masih dalam tahap pemeriksaan oleh penyidik Imigrasi. Mereka dapat dikenakan tindakan administratif Keimigrasian berupa membayar denda, deportasi dan penangkalan maupun sanksi pidana dengan ancaman pidana penjara maksimal lima tahun,” ungkapnya.

Saat ini, 32 PSK asing itu dititipkan ke Rumah Detensi Imigrasi Kalideres, Jakarta Barat.

Sementara itu, (WNA) terpaksa harus keluar dari Indonesia.  Mereka kedapatan menetap di Indonesia tanpa mengantongi izin dari pemerintah. Data yang dibeber Ditjen Imigrasi Kemenkum dan HAM sepanjang enam bulan di tahun 2015.

Ditjen Imigrasi Kemenkum HAM menemukan ada 6.236 orang asing yang dideportasi sepanjang semester 1 di 2015. Dirjen Imigrasi Kemenkum HAM Ronny F Sompie menjelaskan mereka yang diusir, merupakan WNA yang melakukan kegiatan tanpa izin di Indonesia.

Pelanggaran yang dilakukan WNA di antaranya menggunakan visa kunjungan biasa, tetapi lakukan kegiatan membuka usaha bahkan melakukan pelanggaran hukum seperti cyber crime. “Jadi ‎mereka melakukan seolah-olah di negara mereka sendiri. Melakukan penipuan di negaranya sendiri,” jelas Sompie di gedung Direktorat Imigrasi Kemenkum HAM, Jakarta, Jumat (21/8).

Mantan Kapolda Bali itu kemudian merinci negara asal WNA ilegal. WNA dari Bangladesh menduduki posisi teratas yang dideportasi. Disusul oleh WNA Myanmar sebanyak 756 orang.  Tiongkok 604, Thailand 180, Vietnam 159, Malaysia 125, Kamboja 96, dan warga negara asing lainnya yang dijumlahkan sebanyak 3.244.

Ronny menyebutkan, enam ribu lebih orang asing itu akan langsung diserahkan ke negara setempat untuk diproses lebih lanjut. “Yang sudah kita lakukan yaitu Negara Tiongkok dan Thailand,” kata Ronny menyebutkan.

Mantan juru bicara Polri itu menambahkan, WNA yang dideportasi itu diketahui telah melakukan kegiatan ilegal selama di Indonesia. Misalnya, menggunakan visa kunjungan biasa untuk membuka usaha. Bahkan banyak WNA yang melakukan penipuan melalui dunia maya alias cyber crime. “Jadi ‎mereka melakukan seolah-olah di negara mereka sendiri,” ujarnya.

Ronny menambahkan, 6.000 WNA lebih itu akan langsung diserahkan ke negara asalnya untuk diproses lebih lanjut. “Yang sudah kita lakukan yaitu  Tiongkok dan Thailand,” tegasnya. (put/JPG)