GEMILANG: Walikota Depok Mohamad Idris bersama Kepala Inspektorat Kota Depok Novarita, memperlihatkan penghargaan Predikat Kepatuhan Tinggi Inspektorat 2016.
yamaha-nmax
GEMILANG: Walikota Depok Mohamad Idris bersama Kepala Inspektorat Kota Depok Novarita, memperlihatkan penghargaan Predikat Kepatuhan Tinggi Inspektorat 2016. Foto :Febrina/Radar Depok

Setahun kurang dipimpin Walikota Depok Mohammad Idris dan Wakil Walikota Pradi Supriatna, bisa dikatakan banyak prestasi yang gemilang. Tapi, sayangnya torehan tertinggi tentang lingkungan di 2016 nihil penghargaan. Padahal, di 2015 Depok mendapatkan sertifikat Adipura untuk yang kedua kalinya.

Kini, Pemerintah Kota Depok tengah menatap 2017 dalam membangun wilayah demi mewujudkan visi dan misi Kota Depok, melalui jarkon yaitu Depok Friendly City. Ada beberapa prestasi yang dapat dipertahankan saat dicapai 2015 dan 2016.

Prestasi yang dapat dipertahankan Kota Depok adalah Anubhawa Sasana Kelurahan, Penghargaan atas jasa-jasa dalam membina dan mengembangkan Kelurahan Sadar Hukum dalam wilayah Kota Depok, dan Laporan Keuangan Tahunan dengan Capaian Standar Tertinggi dalam Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah (Wajar Tanpa Pengecualian/WTP).

Sementara ada juga, Pemerintah Depok menyabet sejumlah prestasi melalui program kerja. Diantaranya, Sertifikat Kesesuaian dari Lembaga Sertifikasi Produk PPMB, Pasar telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), Juara Umum 1 Keterbukaan Informasi Publik, Indonesia Attractiveness Index 2016 (Index 80.36 Kategori Kota Terbaik), Adhyasta Bhumi Pura, Atas Dukungan Pembentukan Tim Pengawasan Orang Asing Tingkat Kecamatan Wilayah Kota Depok, Anugerah Satu Data Pembangunan Jawa Barat Tahun 2016, Anugerah Pangripta Nusantara, dan Bhakti Yudha Brama Jaya.

Walaikota Kota Depok, Mohammad Idris sangat syukur atas beragam prestasi yang telah diraih. Penghargaan adalah sesuatu yang membanggakan, tetapi jangan membuat langsung puas. Jadikan penghargaan sebagai bahan motivasi dan dorongan, agar dapat mempertahankan dan meningkatkan apa yang telah diraih.

Walikota memastikan di 2017 Depok berpeluang meraih Piala Adipura. Sebab tahun 2016 ini, dipastikan Depok kembali gagal raih Adipura. Ini berarti sudah 16 tahun Depok tak pernah meraih Piala Adipura, dan hanya mampu mendapat piagam Adipura saja 2013 lalu.

Piala Adipura, adalah sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan.

Pemkot Depok terus berupaya menyosialisasikan tentang pengelolaan sampah. Hal ini dilakukan untuk menjadikan kota berpenduduk sekitar 2,3 juta jiwa itu menjadi Zero Waste City atau Kota Bebas Sampah. “Ini program prioritas atau unggulan kami. Depok ingin jadi kota yang bersih, indah, dan nyaman,” ujarnya.

Menurut Idris, program ini sesuai target pemerintah pusat yang menginginkan Indonesia bersih pada 2020. Sesuai amanat UUD no 18/2008 tentang pemberdayaan sampah yang diperkuat dengan Perda no 5/2012. “Untuk menangani permasalahan sampah, kami akan terus melakukan berbagai tindakan agar lima tahun ke depan Depok dapat terbebas dari sampah,” katanya.

Idris mengatakan tidak mudah untuk mewujudkannya. Dibutuhkan dukungan dari masyarakat dan instansi terkait serta masyarakat untuk tertib dalam membuang sampah serta terbiasa dengan pemilahannya. Mengingat seiring bertambahnya penduduk, maka jumlah sampah akan terus meningkat.

“Saat ini tiap hari sampah di Depok jumlahnya 1.250 ton per hari, sedangkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Cipayung, hanya bisa menampung 750 ton per hari. Karena itu, Pemkot Depok memberikan bantuan dana sebesar Rp 200 juta untuk mengatasi persoalan sampah,” ungkap Idris.

Kepala Dinas Lingkuangan Hidup dan Kebersihan  (DLHK) Kota Depok, Ety Suryahati menjelaskan, dari total produksi sampah sebanyak 1.250 ton per hari, sekitar 60 persen sampah masih bersifat organik. Sedangkan sisanya adalah sampah non-organik, termasuk sampah plastik.

“Setiap satu orang berkontribusi pada konstribusi sampah sebesar 0,5 hingga 0,7 Kg per hari,” ucap Ety.

Ketergantungan warga terhadap penggunaan popok bayi sekali pakai dan tisu yang cukup tinggi memberikan kontribusi terhadap sampah.

Bayangkan jika ada 10 ribu bayi di Depok, maka sehari produksi sampah popok ada berapa dalam sehari, bahkan, usia anak lims tahun masih ada yang masih pakai popok. Untuk penggunaan tisu juga harus dikurangi. Padahal dulu warga masih membawa sapu tangan ke mana-mana.

Etty berharap warga mau mengurangi produksi sampah dengan cara pemilahan sampah di rumahnya. Sampah organik bisa dijadikan pupuk. Jika pemilahan sampah dilakukan sejak dulu maka TPA tidak akan penuh seperti sekarang.

“Saat ini sekitar 60 persen RT RW sudah tersentuh pemilahan sampah. Target setiap wilayah di Depok melakukan upaya pemilahan sampah,” kata Ety.

Perlu diketahui, Pada 23 November 2015, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI memberikan penghargaan Sertifikat Adipura 2015 kepada Kota Depok karena dinilai telah melakukan “best effort”.

Sehingga meningkatkan nilai Adipura secara signifikan. Kini, Depok terpaksa gigit jari karena tidak ada satupun penghargaan yang diraih dalam Adipura.(dic)