ADE/RADAR DEPOK PELATIHAN : Relawan Baca Buku di Taman (RBBT) saat melakukan pelatihan menjadi relawan di Taman Lembah Gurame.
yamaha-nmax
PELATIHAN : Relawan Baca Buku di Taman (RBBT) saat melakukan pelatihan menjadi relawan di Taman Lembah Gurame. Foto: Ade/Radar Depok

LAPORAN : ADE RIDWAN YANDWIPUTRA

Dewasa ini, minat baca dikalangan anak muda bisa dikatakan menurun. Perkembangan teknologi ditengarai turut menyumbang menurunnya angka minat baca pada generasi kekinian. Hal tersebutlah yang menginisiasi para pencinta buku berlomba-lomba mengadakan gerakan literasi, tak terkecuali di Kota Depok.

Berangkat dari minimnya kesadaran membaca buku pada generasi sekarang, komunitas yang menamakan dirinya Relawan Baca Buku di Taman (RBBT) secara rutin menggelar perpustakaan umum yang dapat diakses dengan mudah dan gratis oleh masyarakat.

Sesuai dengan namannya, Relawan Baca Buku di Taman (RBBT), gerakan literasi yang dilakukan komunitas ini menggunakan Taman Lembah Gurame sebagai ruang membaca dan belajar.

Salah satu Anggota RBBT, Wahidah mengatakan, alasan menggunakan taman sebagai ruang membaca, adalah ingin menambahkan kesan pada sebuah taman selain berfungsi sebagai tempat bermain, olahraga dan refreshing, juga dapat digunakan untuk kegiatan yang bersifat edukasi.

“Apalagi Pemkot depok sedang menargetkan satu taman satu kecamatan, pasti menghabiskan anggaran yang besar, jadi bagaimana taman bisa dijadikan sebuah ikon, bukan hanya sebagai tempat bermain,” katanya.

Perempuan yang berprofesi sebagai dosen sosiologi di UPN ini juga mengatakan, sangat miris terhadap perilaku kaum muda sekarang yang menganggap buku bak barang mewah yang cukup sulit disentuh. Ini disebabkan karena anak sekarang sudah dimanja dengan informasi di internet yang sifatnya instan, sehingga ketika melihat buku sudah ada sugesti rumit dan jenuh.

Para relawan RBBT, lanjut Wahidah, terdiri dari kumpulan komunitas-komunitas gerakan Literasi di Kota Depok. Karena menurutnya, gerakan literasi di Kota Depok cukup banyak, namun hampir semua melakukannya sendiri-sendiri sehingga tak jarang gerakan literasi tersebut hilang karena tak dapat mengimbangi dinamika dilapangan.

“Dengan mengumpulkan komunitas-komunitas gerakan literasi, maka niat untuk meningkatkan minat baca mudah-mudahan dapat terwujud, karena akan terdiri dari berbagai macam jenis gerakan literasi,” lanjutnya.

Wahidah menceritakan awal terbentuknya RBBT adalah karena adanya dorongan dari masyarakat sekitar lembah gurame untuk mengadakan transformasi taman agar bersifat edukatif. “Kami terbentuk November 2016, dari salah satu kumpulan warga yang menamakan diri Warga Peduli Lingkungan (WPL),” ungkap Wahidah.

Setelah adanya kesempatan tersebut, Wahidah mengajak para komunitas-komunitas gerakan literasi dan OPD kota Depok untuk mempersiapkan RBBT. “Alhamdulilah terkumpul 30 orang, dan saat itu pula kami lakukan pelatihan menjadi relawan RBBT,” lanjut Wahidah.

Anggota RBBT lainnya, Riska mengatakan, alasannya bergabung dengan RBBT karena dirinya gemar membaca dan memiliki tujuan akhir sebagai penulis novel. “Makanya aku gabung disini, untuk saling asah kemampuan,” pungkasnya.

Riska menambahkan, mudah-mudahan kedepan ada banyak lagi remaja yang bergabung turut mengikuti gerakan literasi ini. “dan pemerintah Kota Depok sih mudah-mudahan bisa mendukung dengan menyiapkan sarana dan prasarananya agar tertata rapi,” pungkasnya.(bersambung)