FERDIAN/RADAR DEPOK SANTAI: Romli (61), salah seorang sesepuh, bercerita sejarah kebiasaan masyarakat Kelurahan Bojongsari, kala ditemui Radar Depok di kediamannya Jalan Masjid Nurul Huda, RT01/RW11.
yamaha-nmax

 

SANTAI: Romli (61), salah seorang sesepuh, bercerita sejarah kebiasaan masyarakat Kelurahan Bojongsari, kala ditemui Radar Depok di kediamannya Jalan Masjid Nurul Huda, RT01/RW11. Foto : FERDIAN/RADAR DEPOK

Mengupas Sejarah Nama-nama Kelurahan di Depok (102)

Menjadi bagian dari Kecamatan Bojongsari, Kelurahan Bojongsari begitu kental budaya Islamnya. Salah satu kegiatan yang dari dulu terus dijaga keberadaannya ialah menyantuni anak yatim.

Laporan: FEBRY FERDIAN

Di rumah sesepuh Kelurahan Bojongsari, Romli (61) yang terletak di Jalan Masjid Nurul Huda, RT01/RW11, ingatan tentang bagaimana usaha Romli untuk  menggugah masyarakat mencintai anak yatim diceritakannya kepada Radar Depok.

Memberikan santunan yatim setahun sekali pada bulan tertentu merupakan merupakan budaya yang sejak dahulu dipupuk para leluhur kelurahan yang berbatasan dengan Kecamatan Sawangan tersebut.

“Dari mulai santunan Rp25 ribu dan satu ekor ayam. Saat ini bisa menyantuni satu yatim alahmdulillah Rp2 juta,” ujar Romli.

Menurut bapak tiga anak ini, tiap tahunnya ada satu bulan di mana yatim dapat merasakan kebahagian lebih dari hari biasa.

“Menjaga tradisi menyantuni anak yatim hingga kini diikuti banyak di kelurahan lain di Kecamatan Bojongsari,” kata anak Kepala Desa pertama di Bojongsari.

Dia berharap santunan dapat terus meningkat dan anak cucunya dapat menjaga budaya ini sampai kapan pun.

“Bukan hanya saat ini, tetapi sampai kapan pun tradisi harus dijaga,” kata Romli. (Bersambung)