IRWAN/ RADAR DEPOK MENGABDI: Pengurus Yayasan Getsemani, Feri Maenassy menyuapi pasien di yayasan panti jompo yang ada di Jalan MI Ridwan Rais RT01/RW03 Kelurahan Beji Timur, Beji.
yamaha-nmax

 

MENGABDI: Pengurus Yayasan Getsemani, Feri Maenassy menyuapi pasien di yayasan panti jompo yang ada di Jalan MI Ridwan Rais RT01/RW03 Kelurahan Beji Timur, Beji. Foto: Irwan/Radar Depok

Lembaga yang menaungi orang jompo di Kota Depok masih bisa dihitung jari. Alasannya, sebagian orang menganggap mengurus seorang lanjut usia (lansia) cukup sulit. Selain harus punya rasa sabar yang tinggi, dibutuhkan pula ketelatenan yang luar biasa agar mereka nyaman tinggal di panti.

Siang itu, kami mengunjungi sebuah lembaga yang biasa menaungi orang jompo dan lansia, yaitu Yayasan Getsemani di Jalan MI Ridwan Rais RT01/RW03 Kelurahan Beji Timur, Beji. Di sana kami bertemu salah satu pengurus yayasan, Feri Manenassy.

Bangunan dengan luas 600 meter tersebut mempunyai dua kamar saling berhadapan, yang mampu menampung paling banyak 26 orang. Sedangkan, saat ini di yayasan itu sudah ada 24 pasien jompo yang tengah menjalani perawatan.

Feri mengatakan, guna mempercantik sekitar ruangan dipasang sejumlah pernak-pernik hiasan yang digantung di atas dinding, khususnya di depan kamar pasien perempuan. Tampak di salah satu kursi, tiga lansia sedang menghadap taman. Satu diantaranya tengah disuapi makanan oleh Feri.

“Di sini kami pisahkan pasien laki-laki dan perempuan. Selama ini saya tidak menemukan kesulitan ketika mengurus mereka,” kata Feri kepada Radar Depok.

Feri menyebutkan, mayoritas pasien yang ada di yayasan panti jompo ini usianya di atas 60 tahun. Mereka ‘dititipkan’ dengan alasan bermacam-macam. “Paling tua ada yang berusia 86 tahun,” kata Feri.

Keluarga pasien yang menitipkan orang tuanya di sini ada beberapa faktor dan alasan. Seperti tidak bisa merawat dan memperhatikan makannya.

Karena, mereka mengaku tidak mempunyai pengalaman dalam mengurus orang tua. Di sisi lain kebanyakan mereka sibuk dengan pekerjaan. Ada juga kondisi orang tuanya yang sakit, hingga perlu pengawasan serta perhatian esktra.

“Maka dari itu kebanyakan pasien mengalami sakit, karena  panti jompo ini khusus untuk para lansia yang menderita sakit, karena faktor usia lanjut,” katanya.

Bagi Feri merawat para lansia itu yang notabene bukan orang tuanya itu, sudah hal biasa. Ia menganggap para pasien yang diurusnya sudah menjadi orang tuanya sendiri. Sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Bahkan, dihatinya sudah menjadi pengabdian yang orang lain tidak bisa. Karena merawat seorang lansia harus memiliki kesabaran ekstra.

“Bagaimana pun kami di sini harus bisa membuat mereka (pasien, Red) tertawa. Karena orang lain kesulitan membuat mereka tertawa,” katanya.

Lanjut pria yang lahir di Labuhan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten ini mengatakan, pasien lansia yang sudah sembuh dipulangkan ke keluarganya. Namun ada saja mereka yang sudah nyaman tinggal di sini, itu ada permintaan keluarga dan pasienya.

Bahkan ada lansia sampai akhir hayatnya meninggal di yayasan panti jompo yang sudah ada sejak 1994. Kata dia memang khsusus untuk para lansia yang menderita sakit.

“Kami menyediakan dokter, tapi kalau ada pasien yang sakit parah dirujuk ke rumah sakit. Setiap bulan keluarga pasien membayar administrasi Rp 3,5 juta,” pungkasnya. (irw)