RADAR DEPOK.COM-Tahun lalu Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Depok, gencar membidik anak sekolah dan Aparatur Sipil Negara (ASN), yang menggunakan barang haram. Nah di tahun ini, bila tak ada aral melintang 50 wakil rakyat Depok akan dilakukan tes urine. Langkah ini sebagai semangat Kepala BNN Komjen Budi Waseso yang menegaskan jangan ada pembiaran peredaran narkoba.

Kepala BNN Kota Depok, AKBP Hesti Cahyasari menyatakan, untuk  pemeriksaan atau tes urine memang akan dilaksanakan di beberapa titik. Termasuk dikalangan DPRD Kota Depok. Tapi, belum bisa menjelaskan kapan dan bagaimana. Sebab, timeline dan anggarannya memang belum ada.

Sehingga, sambung Hesti  tidak bisa menginformasikan lebih lanjut. Jika di Minggu ketiga atau akhir bulan Januari sudah keluar maka akan diinformasikan kepada media. “Saya belum bisa mengatakan kapan dan bagaimana,” tegas Hesti kepada harian Radar Depok, Minggu (15/1).

Terpisah, Wakil Ketua DPRD Depok, Suparyono mengatakan, sebagai lembaga yang ditunjuk pemerintah dalam penanggulangan penyalahgunaan narkoba. BNN boleh meminta kepada semua lembaga untuk tes urine bagi semua ASN dan aparatur penyenggara negara. DPRD sebagai salah satu lembaga penyelenggara negara harus mendukung kerja BNN, termasuk untuk pemeriksaan urine bagi anggotanya.

”DPRD harus siap dan harus memberi contoh kepada semua aparatur pemerintah dan kepada semua masyarakat,” terang politi PKS ini.

Sementara, dengan singkat Wakil Ketua DPRD Depok, Igun Sumarno mempersilahkan jika ada aturan yang mengharuskan. “Kalau saya silahkan-silahkan aja kalau memang itu ada aturan yang mengharuskan anggota dewan di tes urine,” singkat pria berkacamata ini.

Berdasarkan data Poresta Depok di tahun 2016 ada perningkatan kasus narkoba sekitar 10 persen. Satuan Narkoba Kepolisian Resor Kota Depok mencatat tindak pidana kasus narkoba pada 2016 naik 10 persen dari 2015 dengan total 353 perkara dan 432 tersangka.

Kepala Satnarkoba Polresta Depok, Kompol Putu Kholis menjelaskan, tren pengungkapan kasus narkoba di Depok cenderung meningkat setiap tahun. Pada 2015, total tindak pidana narkoba mencapai 321 kasus.

“Depok sudah dijadikan tempat transit narkoba karena letaknya yang strategis. Jadi peredaran narkoba di Depok juga cukup tinggi,” ucap Putu.

Barang bukti yang disita polisi sepanjang 2016 adalah 23 butir ekstasi, 28,181 kilogram ganja, dan 529 gram sabu-sabu. Bahkan pada Rabu, 4 Januari 2017, tim dari Markas Besar Kepolisian RI bersama Satnarkoba Polresta Depok menangkap pengedar 184 kg ganja asal Aceh dari rumah kontrak di Jalan Terusan Haji Nawi, RT 3 RW 14, Kelurahan Serua, Kecamatan Bojongsari.

Ia berujar, kalangan mahasiswa dan pelajar yang menyalahgunakan narkoba juga meningkat. Pada 2015, ada 19 mahasiswa yang terlibat kasus narkoba. Angka itu meningkat menjadi 27 mahasiswa tahun 2016.

Sedangkan pelajar yang terlibat narkoba pada 2015 sebanyak sebelas, meningkat menjadi 14 orang tahun 2016. “Grafiknya semuanya meningkat. Depok sekarang salah satu zona merah peredaran narkoba,” tuturnya.

Sedangkan kasus yang menonjol pada 2016 adalah diciduknya tiga pemadam kebakaran Kota Depok yang sedang pesta sabu-sabu di kantornya. Selain itu, ada peredaran ekstasi berbentuk tokoh kartun Minion. “Bahkan sindikat narkoba jenis sabu-sabu jaringan Aceh juga sudah masuk Depok,” katanya.(irw/ina)

Pencegahan dan Pengungkapan Kasus Narkoba di Depok

– BNN Depok tahun ini bidik DPRD di tes urine
– Sebanyak 50 anggota akan menjalan tes barang haram tersebut
– BNN Depok  belum bisa menjelaskan kapan dan bagaimana
– DPRD siap jika memang ada tes urine
– Tahun 2016 ada peningkatan kasus narkoba sebesar 10 persen
– Yang paling menohok kasus 3 anggota Damkar ketahuan nyabu