DIAN/DOK.KONI RAIH MEDALI: Zainal, atlet Binaraga asal Kota Depok yang membela Jawa Barat, saat menerima medali Perak serta penghargaan di kejuaraan PON 2016, beberapa waktu lalu.
RAIH MEDALI: Zainal, atlet Binaraga asal Kota Depok yang membela Jawa Barat, saat menerima medali Perak serta penghargaan di kejuaraan PON 2016, beberapa waktu lalu. Foto: Dok. Koni/Radar Depok

RADAR DEPOK.COM – Disebut sebagai salah satu atlet yang menggunakan doping pada perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016, atlet Binaraga Kota Depok yang membela Jawa Barat, Zainal akhirnya angkat bicara.

Zainal menegaskan, pribadinya tidak merasa memakai zat doping apapun pada event PON 2016 di Jabar beberapa waktu lalu. Meski sebelumnya, ia mengaku telah mendapat informasi terkait sejumlah binaragawan Jabar yang terindikasi doping.

“Saya tidak bisa berkomentar banyak, sudah ada pihak yang bertanggung jawab. Yaitu pelatih dan manager pada saat PON. Saya tegaskan, saya tidak pernah memakai doping apapun,” kata Zainal kepada Radar Depok, kemarin (10/1).

Selanjutnya kata Zainal, ia masih menunggu surat resmi dari PB PON atas masalah ini. Di sisi lain, Zainal mengaku telah dipanggil oleh pengurus Persatuan Angkat Besi dan Berat Seluruh Indonesia (PABBSI) Jabar untuk dimintai keterangan.

“Biar jadi urusan PABBSI Jabar menyikapi masalah ini. Bila nanti ada surat dari PB PON, saya minta pemeriksaan sampel B dan Cdi laboratorium yang terbaik untuk memastikan ini semua. Karena sudah menyangkut nama baik saya,” tegas atlet peraih medali Perak pada PON 2016 Jabar ini.

Adanya ancaman bonus PON yang harus dikembalikan ke panitia bila terbukti positif menggunakan doping, Zainal mengatakan, hingga saat ini bonus yang dijanjikan kepada peraih medali belum cair.

“Sampai sekarang bonus belum cair, tetapi katanya akan cair di Januari tahun ini, ya intinya kami masih menunggu hasil laporan dari manager dan pelatih kami di PON Jabar,“ kata Zainal.

Terpisah, Sekretaris Umum KONI Kota Depok, Herry Suprianto menyebutkan, pihaknya juga masih menunggu konfirmasi pengurus KONI Jabar. Ia berharap, informasi adanya atlet yang memakai doping tidak benar.

“Kami harap informasi itu tidak benar. Karena belum mendapatkan konfirmasi pasti terkait hal ini. Jadi, KONI Depok belum mau berkomentar banyak,” kata Herry kepada Radar Depok.

Urusan bonus lanjut Herry, pihaknya telah memberikan bonus tersebut kepada Zainal pascapelaksanaan PON 2016. Tetapi di tingkat Jabar belum ada koordinasi lebih lanjut.

“Untuk penarikan bonus yang sudah diberikan kepada Zainal dari Depok, kami pihak KONI belum ada obrolan sampai sana. Mengingat informasi ini belum ada surat resminya,” tandas Herry.

Diberitakan sebelumnya, Ketua Umum PB PON Jabar, Ahmad Heryawan mendapatkan laporan 12 atlet ternyata positif menggunakan obat terlarang untuk meningkatkan performa tersebut.

PB PON Jabar selaku penyelenggara hajat olahraga nasional pada September 2016 itu menggaet Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) untuk memastikan bahwa seluruh atlet yang menorehkan prestasinya bebas dari obat-obatan tersebut.

“Kami mengambil sampel pada 476 atlet (PON), hasilnya sebanyak 464 negatif, sedangkan 12 lainnya positif,” kata Ahmad Heryawan yang juga Gubernur Jabar itu, di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (9/1).

Dari ke-12 atlet tersebut, mereka berasal dari empat cabang olahraga, yakni Binaraga delapan atlet, Berkuda satu, Angkat Berat satu dan Menembak dua. Dimana jumlah tersebut atlet asal Jabar mendominasi. “Jabar empat atlet, Jateng tiga, Bengkulu satu, Yogya satu, Bangka Belitung satu, Kaltim satu dan Riau satu,” imbuhnya.

Selain PON, pihaknya juga menemukan dua atlet Peparnas yang dinilai positif menggunakan doping. Dari 130 sampel urin yang diambil 128 diantaranya negatif.

“Ada dua yang positif, dimana satu dari Jabar dan satu lagi dari Maluku, ini berasal dari cabang olahraga tenis dan atletik,” ungkap Aher—sapaan Ahmad Heryawan. (dia)