yamaha-nmax

RADAR DEPOK.COM – Setiap tahunnya ada 40 ribu bayi yang lahir di Kota Depok dan 200 balita yang terus bertambah. Data hasil penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok Agustus 2016, menunjukkan ada 8.945 balita yang terkena gizi kronis sejak ada di kandungan (stunting). Stunting terbagi menjadi 2 klasifikasi, 7.452 pendek dan 1.403 sangat pendek.

“Yang harus dimonitor sangat pendek,” ujar Kepala Dinkes, Noerzamanti Lies Karmawati, kepada Radar Depok.

Lies menambahkan, gizi kronis yang dialami balita di Kota Depok kebanyakan memang saat hamil ibunya kurang memerhatikan asupan gizi. Selain itu bisa juga karena faktor ukuran badan yang terlalu kecil sehingga menyebabkan bayi yang dilahirkan menjadi tidak normal.

Bayi yang lahir kemudian tidak tumbuh dengan semestinya juga harus dilakukan pemeriksaan, apa yang menjadi faktor penyebabnya sehingga saat memberikan tindakan tepat guna.

Bagi ibu hamil, kata Lies, Dinkes sudah bekerja sama dengan seluruh posyandu, puskesmas, klinik dan rumah sakit untuk menginformasikan bahwasanya ibu hamil harus melakukan pemeriksaan minimal empat kali selama masa kehamilan.

“Gizi kronis bisa terjadi semenjak masa kehamilan ibu namun ada juga yang ketika sudah lahir akan tetapi gizinya tidak diperhatikan,” sambungnya.

Gizi kronis terlihat dari ukuran tubuh yang tidak berkembang seperti biasanya. Sehingga dilakukan pengukuran tinggi badan agar dapat memonitor perkembangan si anak. Balita stunting tidak semerta-merta mengalami gizi buruk.

Stunting terjadi ketidakwajaran pada tinggi badan. Sedangkan gizi buruk terlihat di pertumbuhan fisik seperti berat badan. Untuk angka gizi buruk di Depok terdapat 83 orang.

“Jadi berbeda antara gizi kronis dengan gizi buruk,” kata Lies. (ina)