Foto: For. Polda Metro Jaya RASAIN DAH : Pelarian Dumeri alias Salman Nuryanto berakhir di daerah Mauk, Tangerang, Banten kemarin dini hari.

 

RASAIN DAH : Pelarian Dumeri alias Salman Nuryanto berakhir di daerah Mauk, Tangerang, Banten kemarin dini hari. Foto: For. Polda Metro Jaya

Nuryanto, Satu Leader dan Dua Admin Pandawa Ditangkap

RADAR DEPOK.COM – Pelarian Dumeri alias Salman Nuryanto berakhir di daerah Mauk, Tangerang, Banten kemarin dini hari. Bos Pandawa Mandiri Group tersebut tak sendiri saat mendekam dalam hotel prodeo.  Polda Metro Jaya menetapkan empat orang tersangka :  Nuryanto, Subandi, Taryo dan Madamin dalam kasus penipuan dan penggelapan investasi bodong Pandawa Group.

Kapolda Metro Jaya, Irjen M Iriawan mengatakan, ada tiga orang lainnya yang juga ditetapkan sebagai tersangka selain Salman Nuryanto, bos Pandawa Group. Kasus ini ditangani Subdit Fiskal, Moneter, dan Devisa (Fismondev) Ditreskrimsus.

Pada saat penangkapan ada delapan orang. Namun empat orang lainnya dilepaskan karena tidak terlibat aktivitas investasi bodong tersebut. Yang lainnya dilepas, ada sopir, ada office boy.

Sejak diburu sebulan lalu, Salman berpindah-pindah tempat untuk menghilangkan jejaknya. Ia tak pernah menetap lama dan tak selalu bersama-sama para tersangka lainnya.

“Jadi yang bersangkutan berpindah-pindah di sekitar Jabodetabek di suatu tempat, geser lagi, nah kami temukan di Tangerang,” tegasnya.

“Tersangka pertama Nuryanto, kedua pembuat administrasi Subandi dan Taryo, kemudian Madamin adalah leader besar. Nah, ini (Madamin) leader besar pencari investor yang ada,” ujar Iriawan saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (20/2).

Keempat tersangka dijerat dengan Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan, Pasal 378 KUHP tentang Penipuan, dan/atau Pasal 46 UU No 10 Tahun 1998 tentang Perbankan juncto Pasal 3, 4, 5 dan 6 UU RI No 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Nuryanto selaku pimpinan, menurut Iriawan, menggunakan Koperasi Simpan Pinjam Pandawa Mandiri Group sebagai kedok untuk melakukan penipuan tersebut. Tersangka melalui beberapa leader-nya menghimpun dana dari para investor.

“Pertama dari investor dia berikan (profit) 10 persen. Kalau investor ada uang Rp 100 juta, maka dipotong 10 persen dan dikembalikan kepada investor seolah-olah itu bunganya,” jelas Iriawan.

Sementara itu, leader mendapat keuntungan 10 persen dari dana yang diinvestasikan para nasabah dan sisanya masuk ke kantong pribadi Nuryanto. “Sisanya 90 juta, ada untuk leader. Leader itu pencari investor, untuk leader juga dikasih 10 persen, jadi sisanya Rp 90 juta dikurangi 10 persen, ada Rp 81 juta,” sambungnya.

Nuryanto kemudian memutar uang dari para nasabah tersebut untuk dipinjamkan kepada para pedagang usaha kecil menengah di kawasan Jabodetabek. Para pedagang dikenai bunga 20 persen dari nilai uang yang dipinjam dari KSP Pandawa Mandiri Group.

“Rp 81 juta tersebut dipegang Nuryanto, sebagian dipinjamkan lagi ke UKM-UKM, itu dengan bunga 20 persen. Sehingga kalau hitungan matematika bisa kembali uang itu, sisanya juga Nuryanto pegang,” jelasnya.

Polda juga, kata dia menyita aset-aset Pandawa Group yang diduga bersumber dari dana para investor. Aset tersebut berupa sejumlah bidang tanah hingga enam unit mobil pribadi.

“Uang yang dapat dikumpulin (Pandawa Group) dibelikan berbagai aset. Sudah kami dapat telusuri aset yang ada cukup banyak, beberapa sertifikat (tanah) yang kurang lebih nilainya Rp 250 Miliar dan rencananya akan kami bekukan,” terangnya.

Kapolda menyampaikan, aset-aset berupa sebidang tanah itu tersebar di beberapa wilayah. Pihak kepolisian akan membekukan aset-aset Pandawa Group tersebut.

“Ini dari beberapa penelusuran, beberapa aset yang ada, tanah juga ada di berbagai tempat, seperti ada di Batam, Bandung, Pemalang, Banyuwangi dan beberapa tempat yang dimungkinkan masih disimpan aset tersebut,” imbuh Iriawan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono menambahkan, pihaknya akan terus menelusuri aset-aset Pandawa Group untuk selanjutnya dibekukan, sehingga dapat dikembalikan kepada para nasabah yang telah dirugikan.

“Tentunya kita akan menelusuri aset yang ada, sehingga nanti pengadilan akan membagikan kepada nasabah. Kita akan secepatnya untuk memblok atau membekukan aset aset yang ada di luar.

Termasuk rekening sejumlah Rp 12 miliar yang semuanya akan dilakukan pemblokiran, yang semuanya akan diamankan,” tegasnya.(**/hmi)