Foto: Indah/Radar Depok MERINTIS: Sejumlah anggota BMX Street Depok berkumpul di kawasan Balairung Universitas Indonesia.

 

MERINTIS: Sejumlah anggota BMX Street Depok berkumpul di kawasan Balairung Universitas Indonesia. Foto: Indah/Radar Depok

BMX Street Depok pertama kali terbentuk pada Februari 2015. Beda dengan komunitas pada umumnya, di BMX Street tidak ada sosok pemimpin. Kenapa, ini diberlakukan dengan landasan bisa berbicara dan mengeluarkan pendapat tanpa batas.

Laporan: INDAH DWI KARTIKA, Radar Depok

Yellow Jacket sebutan Universitas Indonesia (UI) memang diminati khalayak dan komunitas dalam berkumpul. Ahad (19/2), sekira pukul 10:00 WIB, puluhan orang dengan sepedanya asik bergaya alias freestyle di kawasan Balairung UI. Gerimis tak begitu lebat tak menghalangi Komunitas BMX Street Depok berlatih.

Beres latihan pria berkaos biru, biasa kawan sejawatnya memanggil Bang Jak mulaia buka suara tentang komunitasnya. Pria bernama asli Muhamad Kotong ini mengaku, sulit mengumpulkan orang untuk masuk komunitasnya. Awalnya dua orang, kemudian meminta kontak teleponnya. Nah dari situ, informasi dari mulut ke mulut mengajak teman-teman lainnya untuk bergabung.

“Pertama agak susah juga memang. Namun, seiring waktu berjalan tiap minggu janjian untuk berkumpul,” kata pria yang memili sepeda warna hitam itu.

Saat ini, kata Bang Jak anggota yang terdaftar pada komunitas BMX Street Depok sekitar 50 orang, itupun jika semua bisa hadir. Cuaca menjadi faktor penting untuk menentukan hadir atau tidaknya anggota komunitas. Hal ini dikarenakan komunitas ini bermain sepeda di luar ruangan (outdoor).

“Kalau kumpul semua sih ada 50 orang. Sekarang lagi pada tidak datang saja, karena dari pagi hujan,” ujarnya.

Saban Minggu mulai pukul 06.00-14.00 WIB menjadi rutunitas komunitas berlatih. Usia anggota BMX Street Depok juga rata-rata masih terbilang muda. Bahkan, banyak yang masih berstatus pelajar.

“Anggota yang aktif mulai dari 10-41 tahun. Kami belum memiliki ketua karena masih baru dan tidak terlalu penting,” katanya.

Guna memajukann komunitas, biasanya anggota mengeluarkan uang sukarela untuk kas komunitas. Uang tersebut rencananya akan digunakan untuk membeli box.

Dana yang belum mencukupi membuat komunitas BMX Street Depok harus bersabar untuk membeli peralatan sepeda.

“Dana sudah terkumpul tapi masih kurang, mau bikin box. Soalnya kebanyakan anak sekolah jadi mereka juga uangnya masih minta orang tua,” ucap Kotong.

Komunitas yang masih merintis ini tak miliki pelatih khusus. Semua anggotanya belajar secara otodidak. Oleh karena itu, kegiatan sharing trik sering dilakukan oleh anggota komunitas.

“Belajar dari teman yang sudah mampu menggunakan trik, yang belum tahu diajarikan. Saling sharing aja trik-trik yang dikuasai,” ujarnya.

Selain lewat sharing trik antar anggota, biasanya mereka juga belajar dari channel youtube komunitas BMX lain. Hal ini guna menambah wawasan para anggota BMX Street Depok mengenai trik-trik dan freestyle dalam bermain sepeda BMX. (bersambung)