Foto: Ade/Radar Depok KREATIF : Lurah Cipayung, Herman saat meninjau usaha yang dilakukan Tihani (65) warga RT06/06, Kelurahan/Kecamatan Cipayung.

 

KREATIF : Lurah Cipayung, Herman saat meninjau usaha yang dilakukan Tihani (65) warga RT06/06, Kelurahan/Kecamatan Cipayung. Foto: Ade/Radar Depok

Peluang wirausaha selalu terbuka bagi siapapun yang memiliki niat, tekad, serta keuletan. Hal tersebut dibuktikan seorang ibu paruh baya di Kelurahan Cipayung. Dengan bermodal niat serta tekad, Tihani mampu menjalankan bisnis rumahan dengan barang bekas.

Laporan : ADE RIDWAN YANDWIPUTRA, Radar Depok

Cuaca hujan sedang musim di Depok bebrapa hari ini. Dari rumah yang berukuran kurang lebih 20×10 meter, terlihat seorang perempuan paruh baya sedang menganyam untaian kain bekas diatas meja, yang telah di sulap menjadi sebuah benda unik.

Nenek yang diketahui bernama, Tihani (65) warga RT6/6, Kelurahan/Kecamatan Cipayung merupakan warga yang dikenal sebagai pembuat keset kain diwilayahnya.

“Diusia saya yang sudah terbilang tua, saya ingin terus beraktifitas agar terjauh dari segala penyakit,” begitu ungkapnya saat ditanya alasan mengapa ingin berwirausaha.

Tihani merupakan satu diantara puluhan warga Cipayung yang memilih beriwirausaha. Dia membuat keset sebagai produk usahanya. Karena menurutnya produk tersebut merupakan produk yang sepele, namun sangat berarti bagi masyarakat.

“Setelah suami meninggal saya harus bisa menopang hidup sendiri, setelah saya berfikir akhirnya ambil jalan membuat keset,” ungkapnya.

Dengan bermodal Rp300.000 pada saat itu, Tihani mempersiapkan segala bahan untuk memulai usahanya seperti membeli bahan kain bekas dari salah satu pabrik garment di daerah kota, jakarta pusat hingga alat untuk membuat keset tersebut.

“Saya dapet kenalan pabrik garment dari anak saya kemudian anak saya yang beli bahannya kesana seharga Rp115.000 per karungnya dengan berat 30 kg,” katanya.

Setelah mendapatkan bahannya, Tihani dibantu sang anak membuat alat pembuat keset tersebut yang terbuat dari kayu dan kumpulan paku sebagai tempat meletakkan tali guna menganyam keset tersebut.

“Setelah semua bahan terkumpul barulah saya mulai membuat keset dan tak jarang mengalami kesalahan,” ungkapnya.

Kemampuan dalam membuat keset tersebut diakui oleh Tihani diperolehnya secara otodidak dan telah melewati beberapa percobaan. Kingga kini telah kurang lebih 2 tahun dirinya menggeluti usaha pembuatan keset tersebut.

“Saya menjual kesetnya Rp5.000 perkeset, dan sampai saat ini saya belum produksi masal, karena keterbatasan pasar,” lanjutnya.

Tihani membuat keset hanya jika adanya pesanan dan tidak memproduksinya secara masal. Karena selain diusianya yang sudah renta dia juga gak sulit untuk mencari pasar. Sehingga tidak dapat menghitung omsetnya dalam sebulan.

“Kalau saya buat banyak takut hanya memenuhi rumah, jadi kalau ada pesanan, baru saya buat,” ungkapnya. (Bersambung)