Foto: Irwan/Radar Depok BEKUK: Kepala BNN Kota Depok, AKBP Hesti Cahyasari menunjukan hasil pengungkapan kasus peredaran narkoba di Kantor BNN Kota Depok, kemarin.
yamaha-nmax

 

BEKUK: Kepala BNN Kota Depok, AKBP Hesti Cahyasari menunjukan hasil pengungkapan kasus peredaran narkoba di Kantor BNN Kota Depok, kemarin. Foto: Irwan/Radar Depok

RADAR DEPOK.COM – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Depok membekuk tiga orang pengedar narkoba jenis ganja dan sabu-sabu. Tersangka ditangkap di lokasi berbeda.

Kepala BNN Kota Depok, AKBP Hesti Cahyasari menerangkan, kasus pertama dengan tersangka PWS (29), seorang supir pribadi. Ia ditangkap lantaran terbukti menjadi pengedar sabu-sabu. Dari tangannya, petugas menyita sabu-sabu seberat 1,22 gram senilai 1,8 juta.

“Kasus ini bermula dari adanya laporan masyarakat,” ungkapnya kepada Radar Depok di Kantor BNN Kota Depok, kemarin.

Berdasarkan info yang masuk, kata dia, di wilayah kontrakan pelaku (PWS) acapkali dipakai untuk bertransaksi narkoba. Usai pengintaian cukup lama, penyidik BNN kemudian menggerebek kontrakan pelaku di RT04/09, Kelurahan/Kecamatan Limo.

“Adapun sabu-sabu yang kami sita, dari pengkuan pelaku rencananya akan dijual. Ia (pelaku) mengaku sudah menjadi kurir sabu-sabu sejak 2013,” tambahnya.

Hesti menuturkan, sabu-sabu diperoleh dari seorang bandar: B dan H. kini keduanya masih dalam perburuan. Atas perbuatannya, ia akan dijerat Pasal 114 ayat (1) dan 122 ayat (1) UU No 35 tahun 2009 tentang narkotika. “Hukumannya diatas tiga tahun penjara,” tegasnya.

Lalu kasus kedua menjerat MF (21) dan AF (18). Keduanya terbelit masalah ganja. Hesti menuturkan, mereka ditangkap pada Jumat (27/1) di Jalan Kesturi Komplek Pertanian Atsiri Permai, Kelurahan Ragajaya, Bojonggede, sekitar pukul 17:00 WIB.

“Mereka ditangkap Seksi Berantas BNN saat akan bertransaksi (menjual),” jelasnya didampingi Kasie Berantas BNN Kota Depok, Kompol Toto Susilo.

Dari tangan mereka, pihaknya menyita barang bukti ganja yang dikemas ke dalam tiga paket seberat 10,32 gram. Nilainya sekitar Rp1 juta. “MF ini mengaku menjual ganja sejak lulus dari SMA, medio 2014 lalu,” ucapnya.

Barang bukti, diperoleh dari S yang kini masuk DPO. “Untuk tersangka AF tidak ditemukan membawa barang bukti narkotika. Yang bersangkutan pada awalnya tidak mengetahui kalau diajak transaksi narkotika oleh MF. Kasusnya masih dalam pengembangan,” jelas Hesti. (irw)