Foto: Ist/Radar Depok PENTING: Kepala BPJS Kesehatan Cabang Depok, Nurifansyah (kanan, pegang mik), memaparkan fitur layanan mobile screening.
yamaha-nmax

 

PENTING: Kepala BPJS Kesehatan Cabang Depok, Nurifansyah (kanan, pegang mik), memaparkan fitur layanan mobile screening. Foto: Ist/Radar Depok

RADAR DEPOK.COM – Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk meminimalisasi resiko penyakit kronis tidak menular sejak dini, BPJS Kesehatan meluncurkan fitur layanan mobile screening.

Aplikasi layanan tersebut dapat diakses di handphone dengan cara mengunduh aplikasi BPJS Kesehatan Mobile di Google Play, kemudian melakukan registrasi dengan mengisi data diri yang dibutuhkan. Setelah terdaftar dan mengklik tombol log in, peserta dapat memilih menu Skrining Riwayat Kesehatan.

Selanjutnya, peserta akan diminta mengisi 47 pertanyaan yang terdiri atas kebiasaan dan aktivitas sehari-hari, penyakit yang pernah diidap, riwayat penyakit dalam keluarga, dan pola makan. Setelah menjawab semua penyataan, peserta akan memperoleh hasil skrining riwayat kesehatan.

“Skrining riwayat kesehatan merupakan penambahan fitur di aplikasi BPJS Kesehatan Mobile. Jika sebelumnya peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) hanya dapat melakukan skrining riwayat kesehatan secara manual di Kantor Cabang BPJS Kesehatan atau fasilitas kesehatan mitra BPJS Kesehatan, sekarang bisa melihat potensi resiko kesehatan melalui layanan mobile yang bisa diakses di handphone,” kata Kepala BPJS Kesehatan Cabang Depok, Nurifansyah, dalam peluncuran layanan Mobile Screening di ruang Bougenville, di Balaikota Depok, kemarin.

Hadir dalam peluncuran fitur terbaru tersebut Sekda Kota Depok, Harry Prihanto, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), Noerzamanti Lies Karmawati, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Misbahul Munir, perwakilan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Dinas Sosial, dan Dinas Tenaga Kerja.

Nurifansyah menjelaskan, potensi resiko penyakit yang dideteksi melalui fitur ini adalah diabetes melitus, hipertensi, ginjal kronik, dan jantung koroner. Empat penyakit tersebut adalah penyakit kornis tidak menular yang gejalanya sering diabaikan oleh masyarakat Indonesia.

Pada fase awal, umumnya orang tidak merasa terganggu oleh gejala yang ditimbulkan. Kebanyakan baru menyadai mengidap penyakit tersebut ketika sudah mencapai fase lanjut.

“Masyarakat harus sudah memahami nilai status kesehatannya. Harus ada pemahaman baru, dengan mengetahui status kesehatan sejak dini tahu, selagi masih ringan dan mengetahui resikonya, segera  bisa menindaklanjuti. Jangan baru tahu mengidap suatu penyakit setelah fase berat,” pesannya.

Dengan diluncurkannya fitur ini, BPJS berharap peserta JKN-KIS dapat lebih peduli untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

“Semakin dini mengetahui resiko kesehatan, semakin cepat pengelolaan resiko dilakukan, sehingga jumlah penderita penyakit kronis bisa menurun,” kata Nurifansyah.

Di tempat yang sama, Kepala Dinkes Kota Depok, Noerzamanti Lies Karmawati, menuturkan, layanan ini bertujuan sebagai deteksi dini status kesehatan peserta BPJS. Deteksi dini sangat penting untuk mengantisipasi agar seseorang tetap dalam kondisi sehat dan tidak jatuh sakit.

“Empat penyakit tidak menular tersebut kini sering ditemukan. Hal ini harus bisa dikurangi. Karenanya, deteksi dini sangat penting. Pencegahan dan pengelolaan risiko jauh lebih murah dibanding sakit dan melakukan pengobatan,” ujar Lies. (ram)