Foto: Deni Kurniawan/Radar Madiun/JawaPos.com LANGGANAN ARTIS: Tak ingin mengecewakan, Wahyu Widjoyono cermat dalam mengerjakan detail gitar pesanan pelanggan.

 

LANGGANAN ARTIS: Tak ingin mengecewakan, Wahyu Widjoyono cermat dalam mengerjakan detail gitar pesanan pelanggan. Foto: Deni Kurniawan/Radar Madiun/JawaPos.com

Berawal dari hobi, akhirnya berbuah rezeki. Wahyu Widjoyono tak menyangka ulah isengnya untuk mereparasi gitar elektrik kesayangannya berlanjut sampai sekarang.

Laporan: DENI KURNIAWAN, Jawa Pos

AROMA khas remah kayu menusuk hidung begitu memasuki ruang kerja Wahyu Widjoyono. Balok-balok kayu untuk bahan bodi gitar elektrik beserta peranti pahat tertata rapi. Empat gitar setengah jadi menggantung di ruang finishing yang lantainya dipenuhi tetesan cat warna-warni. ’’Maaf, tempatnya berantakan,’’ kata Wahyu.

Dalam kesehariannya, Wahyu dibantu sepupunya, Wijak. Saat itu, mereka sibuk memindahkan beberapa bodi gitar setengah jadi.Sejumlah setang gitar tak lupa diusung ke meja kerja untuk dicat. Sebatang pensil usang tergeletak tepat di bawah lampu.

’’Buat lembur nanti malam,’’ ucap pria kelahiran 19 Juni 1981 tersebut.

Terkait urusan gitar elektrik,nama Wahyu lumayan beken. Karena berlatar belakang gitaris, diahafal lekuk hingga dawai alat musik ituhingga di luar kepala.

Keahlian pemilik merek Widjoyono tersebut berawal dari coba-coba saat memperbaiki gitar kesayangannya. Ternyata, hasil utak-atik Wahyu mengundang kagum teman-teman bandnya dulu. ’’Menurut mereka, tak kalah dengan gitar buatan luar negeri,’’ kenang Wahyu.

Dia akhirnya percaya diri membuka jasa reparasi gitar. Tiga tahun kemudian, dia berani berproduksi dengan modal referensi tentang seluk-beluk pembuatan gitar. Dia memproduksi gitar elektrik sejak 2013. Workshop-nya berada di Jalan Flores, Kartoharjo, Kota Madiun. ’’Pelan-pelan, sekarang dapat nama,’’ ujarnya.

Gitar handmade karya Wahyu mulai dikenal sejumlah musisi. Gitaris-gitaris band ternama mulai meminati gitar buatan Wahyu. Saat ini, Wahyu mengerjakan pesanan Roby Satria, gitaris band Geisha. “Cukup detail pernak-pernik gitar yang dipesan Roby,’’ terang Wahyu.

Dia mengklaim bahwa Massardi, gitaris sekaligus vokalis Barasuara Band, juga memainkan gitar merek Widjoyono. Radha, gitaris Armada Band, tiga kali memesan gitar dari Wahyu. Seingat Wahyu, Radha adalah gitaris pertama yang memainkan gitar Widjoyono hingga memperkenalkannya kepada sesama gitaris di Jakarta pada awal 2015.

Wahyu juga tidak melupakan pergelaran Java Jazz 2014 lantaran gitar buatannya dimainkan Andre Dinuth saat mengiringi nyanyian Glenn Fredly. ’’Tak disangka, padahal asal utak-atik saja,’’ tutur Wahyu.

Semua bahan baku yang dipakai Wahyu untuk membuat gitar diperoleh tak jauh dari Madiun. Dia begitu mencintai produk dalam negeri. Bodi gitar, misalnya, berbahan kayu mahoni. Untuk setang gitar, dia memilih kayu sono keling. Cat dan lem juga menggunakan produk dalam negeri. ’’Tidak kalah kok, kualitasnya bagus,’’ katanya.

Selama ini, Wahyu membuat gitar secara manual. Dia terbiasa lembur demi menyelesaikan pesanan agar tidak menabrak deadline.

Saking getolnya bekerja, Wahyu pernah merampungkan sepuluh gitar dalam sebulan. Agar memiliki tempat tersendiri di hati konsumen, dia sengaja mengusung tema orisinal untuk gitar karyanya

Tiga tipe gitar elektrik menjadi trademark Widjoyono. Pertama, tipe Wido yang memiliki keaslian suara sehingga cocok dengan semua aliran musik. Tipe kedua adalah Eryya yang menghasilkan nada yang lebih lembut untuk jenis musik blues dan pop. Ketiga, tipe Nenny yang condong ke aliran musik cadas.

“Wido, Eryya, dan Nenny itu nama anggota keluarga saya,’’ jelas Wahyu.

Pria yang mengaku hendak mengakhiri masa lajangnya tersebut mematok harga Rp5 juta hingga Rp15 juta untuk gitar karyanya. Harga bergantung pada detail pekerjaan. Baru-baru ini,gitar made in Wahyu menyeberang ke Singapura.

’’Ada yang pesan tiga unit sekaligus, lumayan buat modal nikah,’’ gurau putra pasangan Suparlan dan Sunarsih itu.

Wahyu berangan-angan mengembangkan usaha dengan memproduksi gitar masal. Meski kelak sudah menjadi industri, sentuhan pada tahap finishing bakal tetap diberikan. Kini, Wahyu getol mencari informasi tentang mesin computer numerical control (CNC).

’’Dengan mesin CNC, pemotongan balok kayu lebih cepat dan lengkap dengan lubang-lubangnya sekalian,’’ tutur Wahyu. (*/hw/c18/diq/sep/JPG)