Foto: Yusriadi/Fajar BINCANG SANTAI. Ilham Arief Sirajuddin (baju oranye) dan Andi Alifian Mallarangeng (baju cokelat) menerima sejumlah tamu dari Makassar di LP Sukamiskin, Bandung, Selasa, 31 Januari lalu.

 

BINCANG SANTAI: Ilham Arief Sirajuddin (baju oranye) dan Andi Alifian Mallarangeng (baju cokelat) menerima sejumlah tamu dari Makassar di LP Sukamiskin, Bandung, Selasa, 31 Januari lalu. Foto: Yusriadi/Fajar

Penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, sebagian besar merupakan mantan pejabat. Interaksi antarmereka selalu cair, laiknya teman karib.

Laporan: Yusriadi, Jpnn.com

MASUK ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sukamiskin atas nama media, jangan harap bisa mulus. Meski tetap dilayani secara ramah oleh petugas, namun prosesnya sangat panjang. Rumit. Pertama kali datang, Senin, 30 Januari lalu, penulis mencoba masuk atas nama media. Awalnya, kepala keamanan, Suherman meminta identitas resmi. Ia lalu menghadap kepala lapas.

“Maaf dik, kami tidak membatasi untuk liputan. Hanya saja, di sini ada prosedurnya. Harus ada izin dari Kanwil Kemenhumham,” kata dia sambil menyodorkan kembali identitas yang ia minta tadi.

Apapun alasannya, tanpa izin tertulis tersebut, tak ada celah untuk masuk. Kalau pun izin dikantongi, masih harus menunggu konfirmasi dari pihak yang ingin ditemui di dalam lapas. Lama. Tak menyerah. Penulis lalu menuju Kanwil Kemenhumham Bandung. Jaraknya tak begitu jauh.

Dengan ojek, hanya 15 menit. Di sana, Yayan, Kasubag Humas Kemenhumham Bandung, menyambut dengan ramah. Untuk mendapatkan izin, syaratnya mesti ada surat resmi.

Prosesnya juga butuh berhari-hari. Itu pun jika Kepala Kanwil tak berada di luar kota. Mengikuti prosedur sepertinya lama. Besoknya, Selasa, 31 Januari, penulis memutuskan datang kembali ke LP Sukamiskin tanpa embel-embel media. Mulus. Cukup isi formulir, langsung bisa masuk.

Tetapi seluruh barang bawaan, utamanya alat komunikasi dan kamera, tak boleh dibawa serta.

Berbekal identitas tamu, penulis memasuki gerbang lapas yang dibangun pemerintah Kolonial Belanda pada 1918 ini. Di sini, pengunjung tak didampingi khusus. Melewati gerbang, pengunjung jalan sendiri.

Tanya sana-sini, oleh warga binaan di Lapas Sukamiskin, penulis diarahkan ke dalam satu area yang dipenuhi gubuk-gubuk kecil. Di sini, gubuk tersebut disebut saung. “Masuk lewat sana. Nah saungnya Pak Wali Kota yang itu,” ujar pria berbadan tambun sambil menunjuk ke gubuk nomor 7.

Ya, di Sukamiskin, Ilham Arief Sirajuddin (IAS) memang sangat akrab dengan sapaan Pak Wali Kota. Setidaknya, beberapa warga binaan yang ditemui saat menyebut nama Ilham, selalu disambut dengan “Oh Pak Wali,” begitu sebutan mereka.

Kawasan yang disesaki puluhan saung itu di kelilingi dengan pagar besi setinggi empat meter. Suasananya sejuk. Sepintas serasa di taman rekreasi. Saung tempat Ilham terbilang mewah dibanding saung lain. Letaknya berdampingan dengan saung milik mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq.

Tiap saung di sini bentuknya beda-beda. Tetapi bahannya sama. Terbuat dari bambu. Saung ini dibangun atas biaya masing-masing. Tak semua warga binaan punya saung. Menuju ke saung Ilham, kita harus melintasi saung milik Luthfi. Ketika itu pukul 10.45 WIB. Luthfi tampak sedang menerima beberapa tamu. Mereka bincang-bincang sambil menyeruput minuman hangat dan penganan yang tampak di atas meja.

Sementara di saung Ilham lagi kosong. Tak satu pun orang di sana. Di atas meja, terlihat satu paket kue khas Makassar, jipang. Lalu ada setumpuk air mineral gelas. Tak ketinggalan tiga buah pisang yang terlihat masih segar. Hampir satu jam menunggu, Ilham belum muncul juga.

Oleh juru masak Luthfi, katanya Ilham pasti setiap hari ke saung. “Mungkin lagi di masjid. Tadi ada kok olahraga. Lari keliling,” ujar pria paru baya yang katanya juga seorang warga binaan.

Tak berselang lama, juru masak Ilham tiba. Namanya Soni. “Saya juga napi (narapidana). Saya urus makannya Pak Wali dan Pak Andi (Andi Alifian Mallarangeng). Saung ini milik Pak Andi, tetapi sekarang Pak Wali juga di sini,” kata pria yang mengaku sudah menjalani hukuman dua tahun di Sukamiskin.

“Saya lima tahun. Jadi masih tiga tahun lagi,” lanjut pria yang mengaku punya rumah di Syekh Yusuf, Kebupaten Gowa itu.

Soni tak lupa menawarkan teh hangat. Tetapi penulis lebih memilih air mineral gelas di atas meja yang sudah tersedia. “Saya telepon Bapak ini, tetapi tidak diangkat. Saya coba WA (WhatsApp),” ujarnya.

Setelah selesai memanasi lauk, ia kemudian pamit. Sepertinya akan ke satu tempat untuk makan siang. Kurang lima belas menit, dua jam menanti, Ilham pun muncul. Dengan setelan baju oranye dan jins, sambil menenteng tas kecil.

“Eh lama maki dik? Sori, tadi saya ngaji di masjid,” kata mantan Wali Kota Makassar dua periode itu. Kami pun bersalaman. Ia terlihat sehat. Sangat bugar.

“Alhamdulillah, seperti kita lihat dik,” jawabnya saat ditanya kesehatan tubuhnya. Ia lalu tanya kondisi teman-teman jurnalis di Makassar. Beberapa menit bicara lepas, azan di masjid berkumandang. “Eh… kita salat dulu, sebelum lanjut bicara-bicara,” ajaknya.

Melewati beberapa saung, napi lain semua menyapa. Ya, itu tadi, selalu dengan sapaan Pak Wali. “Bagus ini bikin kota dalam lapas. Liatmi, semua panggil saya Pak Wali. Padahal di sini kami ada empat orang mantan wali kota. Tetapi hanya saya saja dipanggil begitu,” bebernya sambil berjalan menuju masjid.

Usai ambil wudu, kami pun langsung masuk ke masjid. Ilham menunaikan salat sunah. Usai salat, ia terlihat khusyuk berdoa. Dari pengamatan penulis, ia termasuk orang yang paling terakhir meninggalkan masjid. Kami lalu balik ke saung tadi. Dua gelas kopi pun sudah tersedia di atas meja.

“Alhamdulillah, ada hikmahnya saya di sini. Intensitas ibadah saya luar biasa,” ujarnya sambil menyodorkan kue bolu yang baru saja ia keluarkan dari laci, tepat di bawah meja.

Ilham lalu mulai bercerita soal aktivitasnya selama di Lapas Sukamiskin. Katanya, usia Salat Subuh dan mengaji, ia tak pernah melewatkan olahraga. Joging keliling lapas. Fasilitas jonging di dalam lapas cukup panjang. Kata Ilham, jika mengambil rute bawah, sekali keliling jaraknya 400 meter.

“Kalau lari di teras itu satu putaran 500 meter. Jadi kita pilih saja,” jelasnya.

Setiap hari ia selalu menyelesaikan lari 13 putaran. Itu dalam waktu satu jam. Artinya, setiap hari Ilham bisa lari lebih dari 5,2 kilometer. Habis lari pagi, biasanya ia lanjut ke ruang fitnes. Di sana, ada banyak alat kebugaran yang bebas digunakan.

“Kalau sudah merasa cukup, saya balik ke kamar. Mandi lalu sarapan. Setelah itu, saya ke masjid Salat Duha dan mengaji sampai Zuhur,” sambungnya.

Ilham benar-benar bersyukur dengan kondisi sekarang. Meski tak menginginkan berada di tempat ini, tetapi hikmahnya luar biasa. Ia merasa sangat dekat dengan Sang Pencipta. Selain melakukan serangkaian ibadah di masjid, di Sukamiskin ini juga banyak kegiatan lain. Ada kelas kajian agama, laboratorium bahasa, serta kegiatan keahlian lainnya.

“Jadi mulai dari tidak bisa baca Alquran sama sekali, sampai betul-betul bisa baca dengan pengucapan yang baik dan benar,” jelasnya.

Ia lalu mengisahkan satu pengalamannya. Ketika masih menjadi wali kota Makassar, suatu ketika dia pernah datang ke satu masjid. Ketika itu ia langsung diminta jadi imam salat. Dengan penuh percaya diri, ia ke depan tempat imam memimpin salat. Usai salat, ia minta pendapat stafnya.

“Semua bilang bagus. Empat jempol mereka angkat,” imbuhnya.

Nah, pada satu kesempatan di dalam lapas, ada kelas khusus untuk membaca Alquran secara baik dan benar. Ketika itu Suryadharma Ali yang membawakan materi. Ilham pun diminta baca Surah Al-Fatihah. Hasilnya, semua pengucapan salah.

“Jadi saya bilang, ternyata staf saya itu kurang ajar. Mungkin takut dipecat saja sehingga bilang bagus. Ini juga saya pernah ceritakan pada waktu kumpul-kumpul di sini. Semua teman tertawa,” beber Ilham, lalu tertawa lepas.

Hampir sehari penuh kami di dalam LP Sukamiskin. Waktu tidak terasa. Banyak cerita yang terungkap. (jpnn)